Menghadang Lahirnya Malin Kundang Versi Modern

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Berita di media sosial saat ini semakin mengerikan. Seorang
remaja berinisial SPA (19) sedang viral setelah menganiaya ayah kandungnya yang
mengidap stroke hingga tewas. Remaja tersebut merasa kesal karena dimintai
tolong untuk membopong sang ayah ke kamar mandi (Tribunlampung.co.id, 13/6).

Tak kalah menggegerkan, jasad seorang pedagang perabot
ditemukan di kawasan Duren Sawit, Jakarta Timur. Setelah dilakukan penyelidikan
oleh polisi, diketahui bahwa pelaku pembunuhan tersebut adalah kedua anak
kandung korban sendiri yang masih berusia 17 tahun berinisial K dan P berusia
16 tahun.

Menurut Kabid Humas Polda Metro Jakarta Barat, Kombes Pol
Ade Ary Syam Indradi, pembunuhan tersebut dilakukan saat korban berinisial S
sedang tidur pada hari Rabu, 19 Juni 2024. Kemudian tersangka menusuk korban
dengan sebilah pisau dapur. Sempat terjadi perlawanan dari korban dengan
mencakar tangan tersangka. Namun, tersangka kemudian menusuk kembali ayahnya
tersebut hingga tumbang di atas kasur, di toko perabotan miliknya.

Tersangka kemudian meninggalkan TKP dengan menutup semua
pintu setelah melihat korban tumbang dengan membawa HP dan motor korban. Sampai
akhirnya pada Jumat, 21 Juni 2024, jasad korban ditemukan oleh pegawainya
(Liputan6.com, 24/6). Berdasarkan temuan dalam proses penyelidikan, diketahui
bahwa motif tersangka melakukan hal tersebut karena sakit hati sering dimarahi,
dianiaya, dituduh mencuri, dan tidak terima disebut anak haram oleh korban.

Dua kasus di atas merupakan gambaran nyata dari lahirnya
manusia-manusia yang miskin iman yang tak mampu mengontrol emosi. Hal tersebut
terjadi karena masyarakat dijauhkan dari agama saat menjalani kehidupan
sehari-hari (sekuler).

Kapitalisme menjadikan materi sebagai tujuan utamanya,
sehingga abai dalam melakukan birul walidain. Hal ini diperparah dengan sistem
pendidikan sekuler yang tidak mendukung untuk mewujudkan generasi yang salih
dan memahami dan melaksanakan birul walidain tersebut.

Dari sini jelas bahwa sekularisme-kapitalisme telah merusak
dan merobohkan pandangan mengenai keluarga, sehingga lahir generasi rusak.
Hubungannya dengan Allah pun menjadi rusak.

Terlepas dari sakit hati seorang anak dari ucapan orang
tuanya, bukankah seharusnya hal tersebut bisa diselesaikan dengan amar makruf
nahi munkar antar-anggota keluarga? Bukankah akan lebih banyak hal baik yang
cukup untuk bisa memaafkan orang tua dari satu kesalahan yang dilakukan?

Sayangnya, sekularisme menghilangkan itu semua. Yang ada
hanyalah hubungan kemanfaatan semata. Jika anak merasa orang tuanya tidak
berguna dan menghalangi, maka hawa nafsunya memuncak sehingga tega menghabisi
nyawanya. Hal itu akan memberikan kepuasan tersendiri bagi mereka.

Kapitalisme telah terbukti nyata gagal memanusiakan manusia.
Sistem ini malah menjauhkan manusia dari tujuan penciptaannya, yaitu sebagai
hamba dan khalifah pembawa rahmat bagi seluruh alam. Hal ini karena tidak
terpeliharanya fitrah dan akal mereka. Dari sistem tersebut, lahirlah generasi
rusak dan merusak.

Sedangkan dalam Islam, generasi dididik untuk memiliki
kepribadian Islam. Mereka akan berbakti dan hormat pada orang tua dan memiliki
kemampuan dalam mengendalikan emosi.

Islam akan menjauhkan generasi dari kemaksiatan dan tindak
kriminal dengan aturan yang jelas. Sistem sanksi yang menjerakan juga akan
ditegakkan sehingga dapat mencegah semua bentuk kejahatan dan kekerasan. Semua
itu hanya bisa terwujud dengan adanya institusi yang menegakkan syariat Islam
secara menyeluruh. Wallahualam bissawab.

Oleh: Risma Choerunnisa, S.Pd., Sahabat Tinta Media

Loading

Views: 16

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA