Tinta Media Tinta Media – Belum lama ini, Provinsi Aceh dan Sumatra Utara bersitegang. Kedua provinsi tersebut sedang berebut empat pulau yang masing-masing saling klaim masuk dalam teritorial wilayah mereka. Sengketa ini dipicu oleh Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia (Kemendagri) yang menerbitkan keputusan bahwa pulau Mangkir Gadang, Mangkir Ketek, Lipan, dan Panjang masuk dalam wilayah teritorial Sumatra Utara. Tentu saja keputusan Kemendagri ini memicu gejolak dari masyarakat Aceh. Pengalihan empat pulau tersebut dari Provinsi Aceh ke Provinsi Sumut mengundang polemik di masyarakat, apalagi adanya dugaan bahwa empat pulau tersebut mempunyai potensi migas (BBC, 17/6/2024).
Akhirnya, pemerintah memutuskan empat pulau tersebut masuk wilayah Aceh. Namun, konflik seperti ini rawan terjadi lagi pada masa depan karena penerapan otonomi daerah. Untuk itu, kita perlu waspada.
Potensi saling berebut wilayah bisa saja terjadi, bahkan sering terjadi saat pengelolaan pemerintahan daerah menggunakan otonomi daerah. Konsep otonomi daerah rawan memicu adanya perbedaan taraf hidup di masing-masing daerah. Wajar jika setiap daerah akan berupaya untuk menaikkan taraf hidup masyarakatnya sehingga memicu kecemburuan sosial antardaerah yang akan berujung disintegrasi. Pengelolaan ini tentu saja berbeda dengan konsep sentralisasi kekuasaan dalam Islam.
Dalam Islam, pengelolaan wilayah dilaksanakan secara sentral. Negara akan bertanggung jawab terhadap seluruh wilayahnya dalam menjalankan tanggung jawabnya. Negara, mengelola dengan konsep pandangan yang menyeluruh sehingga tidak akan ada perbedaan taraf hidup masyarakat, dikarenakan potensi wilayah yang kurang dan berlebih dari sektor sumber daya alamnya. Dengan konsep sentralistik, negara akan mampu mendistribusikan secara merata kepada wilayah-wilayah yang kurang.
Saat masa Khalifah Umar bin Khaththab, pernah terjadi paceklik. Beliau pun mengirim surat kepada Abu Musa al-Asy’ari dan Amr bin al-Ash yang berada di Basrah untuk memohonkan hujan agar paceklik bisa segera berakhir. Maka, orang-orang pun keluar dan melakukan salat Istisqo'(salat minta hujan), dan turunlah hujan. Maka, sungguh Islam menjadikan antara umat yang satu dengan yang lain seperti satu tubuh yang akan saling membantu. Maka, ancaman disintegrasi pun tidak akan kita jumpai dalam sistem Islam. Wallahu’alam Bishawab.
Oleh: Desi Puji Lestari
Sahabat Tinta Media
Views: 21





