Pemblokiran Rekening, Pelanggaran atas Hak Kepemilikan Pribadi

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Pemblokiran rekening karena tidak ada transaksi selama tiga bulan ramai dibicarakan masyarakat. Wakil ketua DPR RI, Sufmi Dasco Ahmad, mengeklaim kebijakan ini  justru menguntungkan nasabah. Salah satu alasannya, rekening pasif tersebut banyak berasal dari tindak kejahatan seperti judi online. (Republika.com, 01/08/2025)

Walau demikian, kebijakan pemblokiran ini sering kali dilakukan tanpa bukti hukum yang sah dan transparan. Ini merupakan pelegalan terhadap perampasan kepemilikan pribadi uang rakyat.

Pemblokiran seharusnya disertai dengan penyelidikan terlebih dahulu, apakah memang rekening itu digunakan untuk kejahatan ataukah sengaja lama tidak digunakan pemilik karena uang di dalamnya dimaksudkan untuk tabungan jangka panjang. Bukan lantas pemerintah bisa langsung seenaknya menuduh dan mengeklaim.

Ini membuktikan negara menerapkan sistem kapitalisme sekuler yang melegalkan pelanggaran terhadap kepemilikan pribadi. Kapitalisme menjadikan negara sebagai alat pemeras dan perampas harta rakyat. Negara kapitalisme mencari berbagai celah sekecil apa pun yang bisa dimanfaatkan untuk mengeruk keuntungan dari rakyatnya sendiri. Pemimpin dalam negara ini hanya memikirkan keuntungan untuk pribadi dan kelompoknya.

Ini bertentangan dengan Islam yang melindungi hak kepemilikan pribadi secara mutlak. Pemblokiran tanpa proses hukum melanggar prinsip al-bara’ah al-asliyah (asas praduga tak bersalah). Dalam Islam, seseorang dianggap bebas tanggung jawab hukum sampai terbukti dengan jelas kesalahannya.

Negara dalam sistem Islam yaitu khilafah diharamkan merampas atau membekukan harta pribadi rakyat. Negara bahkan menjadi penjaga harta kepemilikan pribadi dan menjamin distribusi kekayaan dengan adil.

Penguasa dalam Islam wajib menetapkan sistem hukum yang transparan dan sesuai dengan syariat. Khilafah juga menerapkan syariat Islam secara kaffah yang menjadikan para pemimpin selalu amanah sebab takut akan pengawasan dari Allah Swt. Maka, hanya dalam sistem Islam batas antara halal dan haram serta yang hak dan batil akan tampak jelas.

Sudah pasti hanya kehidupan seperti inilah yang akan melahirkan kesejahteraan di dunia dan kebahagiaan di akhirat. Oleh karena itu, kapitalisme sangat layak dibuang dan digantikan dengan sistem Islam. Wallahualam bissawab.

 

Oleh: Fika Anjani

Aktivis Dakwah

Views: 19

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA