Kenapa Puasa Kita Sering Beda?

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Setiap menjelang Ramadan dan Idulfitri, umat Islam hampir selalu dihadapkan pada satu masalah klasik yakni, beda penetapan. Ada yang puasa duluan, ada yang belakangan. Banyak yang bilang, “Ya udah, khilafiyah.” Padahal, Islam nggak sesederhana itu.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Berpuasalah kalian karena melihat hilal, dan berbukalah kalian karena melihatnya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini sering dikutip. Tapi yang jarang dibahas adalah siapa yang menetapkan hasil rukyat itu berlaku untuk umat?
Jawabannya terlihat jelas dari praktiknya Rasulullah ﷺ sendiri.

Dalam riwayat Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma disebutkan:

“Manusia memperhatikan hilal. Aku memberitahu Rasulullah ﷺ bahwa aku telah melihatnya. Maka beliau berpuasa dan memerintahkan manusia untuk berpuasa.”
(HR. Abu Dawud)

Perhatikan:
✔ Ada sahabat yang melihat hilal.
✔ Lapor ke Rasulullah.
✔ Rasulullah yang menetapkan dan memerintahkan umat.
Artinya, keputusan puasa bukan urusan individu, tapi otoritas pemimpin

Setelah Rasulullah wafat, peran ini dilanjutkan oleh khalifah. Karena dalam Islam, pemimpin memang bertugas mengurus urusan publik umat.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Imam (khalifah) adalah pengurus rakyat dan ia bertanggung jawab atas urusannya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Menetapkan awal dan akhir Ramadan jelas termasuk urusan publik, karena dampaknya massal: puasa, Idulfitri, zakat fitrah, hingga haji. Bahkan para ulama menegaskan bahwa keputusan penguasa menghilangkan perbedaan.

Kaidah fiqih menyebutkan:

(حكم الحاكم يرفع الخلاف)

“Keputusan penguasa menghilangkan perselisihan.”

Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa jika penguasa telah menetapkan awal Ramadan, maka keputusan itu wajib diikuti, demi persatuan umat.

Masalahnya hari ini, umat Islam hidup tanpa satu kepemimpinan umum. Dunia Islam terpecah menjadi banyak negara, masing-masing dengan kebijakan sendiri. Akibatnya, perbedaan yang seharusnya diselesaikan negara, malah turun ke level umat. Jadilah puasa dan lebaran beda-beda, hampir tiap tahun.

Jadi intinya untuk menegaskan, akar masalahnya bukan rukyat vs hisab, tapi hilangnya otoritas tunggal yang mempersatukan umat. Selama umat Islam tidak memiliki kepemimpinan yang menyatukan keputusan syar’i, perbedaan ini akan terus berulang dan dianggap “normal”.

Padahal Islam datang bukan untuk membingungkan, tapi untuk menyatukan.

Oleh: Setiyawan Dwi
Jurnalis

Loading

Views: 18

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA