Tinta Media – Terkait usulan pembangunan 1.000 bioskop desa melalui APBN 2027, Jurnalis Joko Prasetyo (Om Joy) menilainya bahwa perluasan industri hiburan tidak pernah netral secara ideologis.
“Perluasan industri hiburan tidak pernah netral secara ideologis,” ujarnya kepada Tinta Media, Senin (25/5/2026).
Menurutnya, di balik pembangunan layar-layar tontonan, selalu ada nilai, gaya hidup, dan cara pandang (ideologi tertentu) yang ikut disebarkan kepada publik.
Perfilman, sebutnya, kini tidak lagi dipandang sekadar dunia seni dan hiburan, tetapi telah ditempatkan sebagai bagian penting dari pembangunan ekonomi dan budaya nasional.
*Pasar Baru Industri*
Lebih lanjut Om Joy mengungkapkan, desa perlahan tidak lagi dipandang sekadar wilayah pertanian dan kehidupan sosial masyarakat, tetapi juga mulai diarahkan menjadi pasar baru industri budaya populer.
“Ketika jaringan bioskop diperluas hingga ke desa-desa, yang dibuka bukan hanya ruang hiburan, tetapi juga saluran distribusi tren, gaya hidup, dan pola pikir tertentu,” ungkapnya.
Ia menjelaskan bahwa dalam sistem sekuler-kapitalistik, hampir semua hal dapat dijadikan industri, termasuk hiburan dan budaya. “Yang diutamakan bukan lagi halal-haram atau maslahat-mudaratnya, melainkan potensi pasar dan keuntungan ekonomi,” tegasnya.
*Islam Tidak Anti Media*
Islam, sebut Om Joy, tidak anti media, film, teknologi, maupun kreativitas. Namun Islam menempatkan media sebagai sarana dakwah, pendidikan, dan pembinaan masyarakat, bukan sekadar mesin industri hiburan yang memperluas budaya konsumtif dan gaya hidup sekuler.
.
“Dalam sistem pemerintahan khilafah yang menerapkan syariat Islam secara kaffah, media dan budaya diarahkan untuk membentuk masyarakat yang bertakwa dan berkepribadian Islam (berpola pikir dan berpola sikap Islam), bukan menjadi saluran normalisasi nilai-nilai yang bertentangan dengan syariat,” jelasnya.
Oleh karena itu, kata Om Joy, persoalannya bukan semata-mata soal bioskop desa atau industri film, melainkan arah nilai dan cara pandang yang sedang dibangun di tengah masyarakat.
“Sebab di balik perluasan tontonan, selalu ada ideologi yang ikut disebarkan,” pungkasnya.[] Muhammad Nur
![]()
Views: 9




