Layakkah Kata Sibuk Dijadikan Alasan untuk Meninggalkan Perjuangan Islam?

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Ada satu pertanyaan yang layak kita ajukan kepada diri sendiri: “Benarkah kita terlalu sibuk, atau sebenarnya kita hanya belum menempatkan perjuangan Islam sebagai sesuatu yang penting dalam hidup kita?”

Bersekolah atau kuliah memang menyita waktu. Pekerjaan memang membutuhkan tenaga. Keluarga juga memiliki hak. Istirahat juga diperlukan. Semua itu benar. Islam tidak mengajarkan manusia untuk mengabaikan kewajibannya terhadap dirinya, keluarganya, pendidikan maupun pekerjaannya.

Namun, persoalannya menjadi berbeda ketika kata “sibuk” terus-menerus dijadikan alasan untuk meninggalkan aktivitas pembinaan diri dan umat, sementara untuk urusan lain kita tetap mampu menyediakan waktu.

Karena sering kali pada faktanya kita bisa menyempatkan diri untuk bertemu sekadar bercengkerama dengan teman. Bisa meluangkan waktu untuk hiburan. Bisa berjam-jam berselancar di media sosial. Bisa mengejar berbagai kepentingan yang sifatnya sebatas duniawi. Tetapi ketika tiba waktunya menghadiri halaqah, memperdalam tsaqafah Islam, melakukan kontak dakwah, membina orang lain, atau meningkatkan kualitas diri sebagai seorang Muslim, tiba-tiba waktu tidak pernah cukup seolah padat dan merayap.

Maka persoalannya mungkin bukan semata-mata “tidak punya waktu”. Bisa jadi persoalannya sebenarnya adalah “apa yang kita anggap penting”. Karena kalau sesuatu dianggap penting, pasti manusia akan mencari jalan

Berkaitan dengan waktu, kita sebagai manusia pada dasarnya selalu memiliki keterbatasan waktu. Semua orang memiliki 24 jam yang sama. Tetapi lihatlah bagaimana seseorang memperlakukan sesuatu yang benar-benar dianggap penting!

Orang yang mengejar nilai akademik akan mencari waktu untuk belajar meskipun jadwalnya padat. Orang yang serius dengan pekerjaannya akan berusaha menyelesaikan tanggung jawab meskipun lelah. Orang yang ingin menjaga hubungan tertentu akan tetap mencari kesempatan untuk berkomunikasi meskipun kesibukan menumpuk.

Lalu bagaimana dengan hubungan kita dengan Allah SWT? Bagaimana dengan kewajiban kita untuk terus belajar Islam? Bagaimana dengan tanggung jawab kita sebagai Muslim menyampaikan kebaikan kepada manusia? Bagaimana dengan usaha memperbaiki diri agar semakin dekat dengan Allah?

Jangan sampai kita begitu serius mengejar masa depan dunia, tetapi justru lalai mempersiapkan kehidupan akhirat.

Allah SWT berfirman:

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ

“Orang-orang yang bersungguh-sungguh untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allah beserta orang-orang yang berbuat baik” (QS al-‘Ankabut: 69).

Ayat ini memberikan sebuah prinsip penting terhadap orang-orang yang beriman: hidayah, pertolongan, dan jalan keluar sering kali datang setelah kesungguhan. Maka janganlah berangan-angan menunggu semuanya mudah baru mau beramal dan berjuang. Justru bersungguh-sungguhlah, lalu mohon kepada Allah agar dimudahkan.

Waspadai Angan-Angan Kosong Menunggu Waktu Luang untuk Taat

Salah satu jebakan hawa nafsu yang sering terjadi adalah manusia sering berkata:

“Nanti kalau kuliah sudah lebih longgar. Nanti kalau pekerjaan sudah tidak terlalu sibuk. Nanti kalau urusan keluarga sudah selesai. Nanti kalau kondisi sudah lebih memungkinkan.

Tetapi kapan kehidupan itu benar-benar tanpa kesibukan? Setelah kuliah selesai, ada pekerjaan. Setelah mendapatkan pekerjaan, ada target. Setelah menikah, ada keluarga. Setelah memiliki anak, ada tanggung jawab yang semakin besar.
Jika seseorang terus menunggu kondisi ideal, boleh jadi umur habis sebelum kesempatan beramal dalam perjuangan Islam digunakan. Bahkan setelah mati pun manusia akan disibukkan dengan pertanggungjawaban.

Karena itu, jangan membangun pola pikir bahwa dakwah, pembinaan diri dan umat, menuntut ilmu, dan amal kebaikan baru dilakukan ketika dirasa kita memiliki banyak waktu. Justru kita perlu belajar mengatakan: “Karena ini penting bagi keridhaan Allah, maka saya akan menyediakan waktu untuknya.”

Tapi ingat! Bukan berarti sekolah atau kuliah ditinggalkan. Bukan berarti pekerjaan ditelantarkan. Bukan berarti keluarga diabaikan.

Tetapi semua urusan tersebut “ditata”, bukan dijadikan alasan untuk meninggalkan kewajiban perjuangan Islam, demi melanjutkan kehidupan Islam melalui penegakkan syariah dalam naungan institusi Khilafah.

Pertanyaan Sederhananya: Apakah Kita Benar-Benar Tidak Bisa?

Cobalah jujur, jika momen-momen pertemuan kerap kali tidak diikuti karena alasan “sibuk”, tetapi pada hari yang sama kita masih bisa menghabiskan waktu untuk scrolling media sosial, nongkrong, bermain-main dan menonton hiburan, atau melakukan aktivitas lain yang sebenarnya bisa ditunda maka kita perlu melakukan muhasabah.

Bukan untuk menyalahkan diri. Tetapi untuk bertanya: “Apa sebenarnya yang sedang saya prioritaskan?” Sebab terkadang masalah terbesar bukan kurangnya waktu, melainkan “kurangnya kesungguhan.”

Allah bahkan memperingatkan orang-orang beriman agar perkataan dan perbuatan mereka tidak bertentangan:

“Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. Ash-Saff: 2-3)

Maka jangan sampai kita menyatakan semangat untuk berislam, tetapi semakin sedikit waktu yang kita berikan untuk belajar Islam, membina diri dan mengajak manusia kepada Islam.

Bukan Aktivitas Sampingan

Islam tidak hanya membutuhkan orang yang memiliki identitas sebagai Muslim. Islam membutuhkan manusia yang berilmu, berkepribadian Islam, memiliki kepedulian terhadap umat, dan bersungguh-sungguh dalam amal kebaikan.

Karena itu, aktivitas seperti halaqah, belajar Islam, membina individu dan umat, berdiskusi dengan masyarakat, melakukan dakwah, dan meningkatkan kualitas diri tidak selayaknya dipandang sebagai aktivitas yang hanya dilakukan ketika ada waktu luang.

Justru aktivitas-aktivitas tersebut merupakan bagian dari proses membentuk diri menjadi Muslim yang lebih baik dan menghadirkan kebaikan bagi orang lain.

Namun kita juga harus berhati-hati: jangan sampai istilah “perjuangan” membuat seseorang mengabaikan kewajiban lain yang juga ditetapkan syariat. Sekolah atau kuliah yang menjadi tanggung jawab, pekerjaan untuk memenuhi nafkah, kewajiban kepada orang tua, pasangan, anak, dan kewajiban lainnya tetap harus ditunaikan sesuai tuntunan Islam.

Ketaatan tidak dibangun dengan mempertentangkan satu kewajiban dengan kewajiban lainnya, tetapi dengan menempatkan setiap amanah pada tempatnya.

Allah tidak meminta kita sempurna, tetapi meminta kita bersungguh-sungguh. Mungkin ada yang merasa: “Saya belum pantas berdakwah. Ilmu saya masih sedikit. Saya masih banyak kekurangan.”

Dan memang kita harus terus belajar. Tetapi jangan menjadikan ketidaksempurnaan sebagai alasan untuk berhenti bertumbuh. Kita belajar sambil memperbaiki diri. Kita memperbaiki diri sambil mengajak kepada kebaikan. Kita mengajak kepada kebaikan sambil terus belajar. Dan kita terus memohon kepada Allah agar diberi keistiqamahan.

Allah SWT telah menjanjikan:

“Orang-orang yang bersungguh-sungguh untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.” (QS al-Ankabut: 69).

Coba perhatikan urutannya: bersungguh-sungguh dahulu, kemudian Allah menunjukkan untuk mempermudah jalan. Maka jangan berkata, “Kalau sudah mudah, saya akan mulai.”

Mulailah dengan mengatur waktunya. Kurangi aktivitas yang tidak perlu. Tingkatkan ilmu. Perbaiki kepribadian.
Datangi perhalaqahan. Bina diri untuk menjaga kedekatan dengan Allah SWT. Dan teruslah meminta pertolongan kepada-Nya atas segala urusan yang haq (dibenarkan).

Jangan Sampai Kehilangan Momentum

Ada fase-fase dalam kehidupan ketika seseorang masih memiliki tenaga, kesempatan, lingkungan yang mendukung, dan waktu yang relatif fleksibel. Jangan sia-siakan semuanya. Sebab kita tidak tahu kapan kesempatan itu dicabut.

Kita sering merasa masih memiliki banyak waktu. Padahal kematian tidak pernah memberikan jadwal kepada manusia. Hari ini kita masih ada kesempatan untuk bisa hadir dalam perhalaqahan mengkaji Islam untuk ketaatan dan memahami solusi Islam atas persoalan-persoalan yang menyelimuti umat.

Hari ini kita masih ada kesempatan membaca dan mempelajari Al-Qur’an. Hari ini kita masih ada kesempatan untuk bisa menghubungi saudara mengingatkan kepada kebaikan. Hari ini kita masih bisa membina diri.
Hari ini kita masih ada kesempatan untuk bisa memberikan manfaat kepada umat.

“Maka mengapa harus selalu menunggu besok?” Jangan sampai suatu hari kita menoleh catatan ke belakang dan menyadari bahwa selama bertahun-tahun kita memiliki kesempatan untuk berbuat lebih banyak, tetapi kita terlalu sering berlindung di balik kata “sibuk”.

Penutup

Waktu tidak pernah bertambah. Yang bisa berubah adalah prioritas kita. Kalau urusan dunia selalu kita perjuangkan dengan segala kesibukan yang ada, jangan sampai urusan akhirat, hal-hal yang menjadi bagian dari kewajiban syariat justru selalu kita korbankan dengan alasan kesibukan yang sama.

Kita tidak perlu menunggu menjadi manusia sempurna untuk mulai beraktivitas dalam pergerakan. Yang diperlukan adalah kejujuran, kesungguhan, disiplin, ilmu, dan konsistensi dalam kebenaran atau keistiqamahan.

Mari kembali menata niat. Mari kembali memperkuat hubungan dengan Allah SWT. Mari kembali serius menuntut ilmu sebagai jalan untuk lebih mendekatkan diri kepada-Nya. Mari kembali membina diri. Mari kembali memberi manfaat untuk kebangkitan umat!

Dan jika jalan terasa berat, jangan langsung menyimpulkan bahwa kita tidak mampu, karena bisa jadi justru di situlah Allah sedang menguji kesungguhan kita. Karena Allah telah menjanjikan:

“Orang-orang yang bersungguh-sungguh untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.” (QS. Al-‘Ankabut: 69)

Maka jangan jadikan kesibukan sebagai tembok yang memisahkan kita dari kewajiban memperjuangkan tegaknya Islam (syariah dan khilafah).

Jadikan kesibukan yang kita hadapi sebagai ujian untuk membuktikan mana yang benar-benar menjadi prioritas dalam hidup kita. Sebab pada akhirnya, kita semua akan kembali kepada Allah.

Dan ketika hari itu tiba, yang akan kita sesali bukanlah berapa banyak waktu yang kita gunakan untuk taat kepada-Nya, tetapi berapa banyak kesempatan untuk taat yang pernah kita sia-siakan. Wallaahu a’lam bish-shawaab

Oleh: Muhar
Tim Redaksi Tinta Media

Loading

Views: 1

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Tulisan Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA