Tinta Media – Cendekiawan Muslim Ustadz Muhammad Ismail Yusanto (UIY) mengungkapkan bahwa kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) tidak dapat menggantikan kecerdasan manusia.
Hal itu disampaikan setelah ia berdialog dengan ChatGPT, melalui sebuah video yang berjudul “Bertemu GPT”, di kanal YouTube UIY Official, Kamis (15/1/2026).
Dalam dialog tersebut, kata UIY, ChatGPT sendiri menyatakan, “Saya adalah alat bantu yang kuat jika dipakai dengan bijak dan kritis. Saya seperti asisten pintar yang tidak sempurna. Saya bisa sangat membantu, tapi Anda tetap harus menjadi pilotnya.”
Pernyataan itu, menurut UIY, membongkar anggapan keliru tentang kemampuan AI.
“Nah, Saudara, kalimat ini menurut saya sangat penting karena ia membongkar satu ilusi besar masa kini bahwa seolah kecerdasan buatan bisa menggantikan kecerdasan manusia,” ujarnya.
Ia mengakui bahwa ChatGPT memang memiliki kemampuan yang kuat dan diakui banyak orang. Dapat merangkum, menjelaskan, dan membantu proses brainstorming tanpa mengenal lelah, waktu, dan tempat.
Namun, UIY menekankan bahwa seluruh jawaban AI sejatinya bukan hasil pemikiran mandiri.
“Tapi kita harus jujur bahwa semua jawabannya adalah produk dari rekonstruksi data yang dia punya, bukan pemikiran pribadi, bukan dari pengalaman hidup. Karena GPT bukan makhluk hidup. Dan karenanya ia bisa keliru tapi terdengar oleh kita itu tampak sangat meyakinkan,” paparnya.
Ia menegaskan bahwa di situlah letak potensi bahaya penggunaan AI jika tidak disertai sikap kritis.
“Jika kita berhenti kritis, kita bukan sedang memakai alat. Kita bahkan sedang dikendalikan olehnya,” bebernya.
Karena itu, UIY menilai manusia harus menempatkan ChatGPT sebatas sebagai alat bantu berpikir. TIdak boleh dijadikan sebagai hakim kebenaran, apalagi pengganti ulama, profesor, pengacara, maupun dokter.[] Muhammad Nur
![]()
Views: 8





