Tinta Media – Salah satu momen bahagia Ramadan adalah dapat berbuka puasa (iftar) dan sahur bersama keluarga. Kehangatan menyelimuti hati, keakraban terjalin, dan ada waktu bercengkerama lebih lama. Ramadan memang istimewa. Waktu dan tenaga menjadi berkah untuk beribadah.
Kaum muslimin berlomba-lomba melakukan ketaatan. Mereka ingin meraih sebanyak mungkin apa yang telah dijanjikan oleh Rabb, yaitu pahala yang dilipatgandakan. Mereka tetap semangat menjalankan berbagai kebaikan, meskipun di tengah impitan kebutuhan pokok yang harganya melonjak.
Kebahagiaan seorang muslim bukan hanya sekejap di dunia. Mereka akan mendapatkannya secara abadi bersama keluarga tercinta karena ketundukan pada perintah Allah Swt.
“Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikit pun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.” (QS At-Thur: 21)
Sebagai muslim, tidak cukup merasa bahagia hanya bersama keluarga inti, karena semua kaum muslim di mana pun adalah saudara. Ketika saudara muslim di belahan dunia lain merasakan penderitaan akibat kelaparan, kemiskinan, penjajahan, sakit, dan lainnya, pasti kita yang di sini akan merasakan demam yang sama.
Sebagaimana yang terjadi di Gaza, Sudan, Uighur, Kashmir, Irak, Pakistan, dan negeri lainnya yang saat ini dilanda kekacauan akibat agresi kaum penjajah, kita akan merasakan sakit yang sama meskipun jarak memisahkan. Kewajiban kaum muslim adalah menolong mereka, diminta ataupun tidak.
Bentuk pertolongan kita yang jauh bisa dengan memberikan dana serta doa. Adapun yang bisa menolong mereka secara nyata adalah para pemimpin. Kekuasaan dan kekuatan mereka sepadan untuk bisa menggentarkan para musuh. Ketika kaum muslimin masih memiliki pemimpin sekaliber Sultan Shalahuddin Al-Ayyubi, musuh akan tunduk dan tidak berani menyakiti umat Islam.
Hari ini, saat sekat nasionalisme menjadi pembatas persaudaraan, yang dekat pun tidak mampu menolong saudaranya. Batas semu ciptaan musuh menjauhkan saudara, bahkan tega membiarkan mereka terhina. Nasionalisme meruntuhkan persaudaraan akidah. Akibatnya, umat Islam menjadi lemah dan mudah diarahkan oleh penjajah.
Di sinilah urgensi kepemimpinan global dalam naungan Khilafah. Khalifah sebagai pemimpin akan memobilisasi tentara kaum muslimin untuk membantu saudara di belahan dunia lain yang sedang ditindas penjajah. Ruh jihad akan menggema, dan kaum muslimin pasti akan menyambutnya dengan suka cita.
Khilafah telah terbukti selama ratusan tahun menaungi berbagai suku, bangsa, agama, dan mazhab. Muslim maupun nonmuslim hidup damai berdampingan. Gambaran toleransi yang tiada tandingannya, saling menghargai, serta menjaga kehormatan di antara sesama anggota masyarakat.
Jika Ramadan adalah bulan yang mulia, maka khalifah akan menjadikan semua bulan istimewa. Khalifah akan menjamin terpenuhinya kebutuhan asasi dan sekunder masyarakat, baik kaya maupun miskin. Semua dilakukan karena jabatan adalah amanah dan kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Swt.
Sikap amanah serta dukungan sistem yang tepat (Islam) akan melahirkan kebijakan yang adil bagi manusia. Dengan demikian terciptalah kehidupan yang tenang, bahagia, dan penuh berkah. Terlebih di bulan Ramadan, ketaatan semakin membuncah dan kerinduan untuk bertemu dengan Rabbul ‘Izzati, Sang Pemilik semesta. Kebahagiaan hakiki dapat dicapai saat kaum muslimin patuh dengan menerapkan Islam secara menyeluruh. Wallahu a’lam bish-shawab.
Oleh: Umi Hanifah
Sahabat Tinta Media
![]()
Views: 18
















