Tinta Media – Di tengah memanasnya konflik geopolitik di Timur Tengah, dunia kembali dihadapkan pada fenomena yang berulang, yakni kepanikan masyarakat terhadap pasokan energi. Perang yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran memicu kekhawatiran global terhadap stabilitas pasokan minyak dunia. Dampaknya, di sejumlah negara muncul fenomena panic buying atau pembelian bahan bakar minyak (BBM) secara berlebihan (cnnindonesia.com, 5/3/2026).
Laporan berbagai media menunjukkan antrean panjang di sejumlah SPBU di berbagai negara. Bahkan, di Indonesia masyarakat mulai khawatir akan kemungkinan kelangkaan BBM. Pemerintah melalui Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, berupaya menenangkan masyarakat dengan menyatakan bahwa stok BBM nasional masih dalam kondisi aman untuk beberapa waktu ke depan (news.detik.com, 6/3/2026). Namun, fakta bahwa masyarakat tetap panik menunjukkan adanya kegelisahan yang lebih dalam.
Kepanikan ini tidak semata-mata dipicu oleh isu pasokan jangka pendek, tetapi juga menggambarkan kerentanan sistem energi global yang sangat dipengaruhi oleh konflik geopolitik.
Bagi seorang pendidik yang setiap hari berinteraksi dengan generasi muda, fenomena ini bukan hanya persoalan ekonomi. Ini adalah peringatan serius tentang bagaimana masa depan generasi bisa terancam oleh rapuhnya kedaulatan energi sebuah negara.
Analisis Penyebab Masalah
Fenomena panic buying BBM sebenarnya hanya gejala dari persoalan yang lebih mendasar.
Pertama, konflik geopolitik di kawasan penghasil minyak dunia memiliki dampak besar terhadap stabilitas energi global. Ketika perang melibatkan negara-negara yang berada di kawasan strategis penghasil minyak, pasar energi dunia langsung bergejolak. Harga minyak melonjak dan pasokan menjadi tidak pasti.
Kedua, ketergantungan negara-negara pada impor energi menjadikan mereka sangat rentan terhadap gejolak global. Dalam kondisi seperti ini, masyarakat mudah dilanda kepanikan karena mereka menyadari bahwa pasokan energi dalam negeri tidak sepenuhnya berada dalam kendali negara. Fakta bahwa sebagian BBM masih bergantung pada impor menunjukkan lemahnya kemandirian energi.
Padahal, BBM bukan sekadar komoditas ekonomi biasa. Energi adalah komoditas strategis yang memengaruhi hampir seluruh sektor kehidupan. Transportasi, industri, pertanian, hingga kebutuhan rumah tangga semuanya bergantung pada energi. Ketika pasokan energi terganggu, dampaknya bisa merembet pada gejolak ekonomi, sosial, bahkan politik.
Ketiga, sistem ekonomi kapitalisme global juga berperan besar dalam menciptakan ketergantungan energi. Dalam sistem ini, sumber daya alam sering kali diperlakukan sebagai komoditas bisnis semata. Negara-negara kuat dan korporasi besar memiliki pengaruh besar dalam menguasai pasar energi dunia.
Akibatnya, negara-negara yang lemah secara politik dan ekonomi sering kali hanya menjadi pemasok bahan mentah atau pasar bagi kepentingan korporasi global. Ketergantungan energi pun menjadi alat penjajahan ekonomi yang halus, tetapi efektif. Kondisi inilah yang membuat masyarakat mudah panik. Mereka tidak hanya khawatir akan kelangkaan BBM, tetapi juga merasakan bahwa sistem yang ada tidak benar-benar memberikan rasa aman terhadap kebutuhan energi mereka.
Bagi generasi muda, kondisi ini tentu sangat memprihatinkan. Jika ketergantungan energi terus berlangsung, maka generasi mendatang akan mewarisi sistem yang rapuh dan mudah terguncang oleh konflik global. Padahal, generasi yang kuat membutuhkan fondasi kemandirian ekonomi dan politik yang kokoh.
Solusi Tuntas: Kedaulatan Energi dalam Sistem Islam
Masalah kedaulatan energi sebenarnya bukan sekadar persoalan teknis pengelolaan sumber daya alam. Ia berkaitan erat dengan sistem yang digunakan dalam mengatur kepemilikan dan pengelolaan sumber daya tersebut.
Islam memiliki konsep yang sangat jelas dalam pengelolaan sumber daya alam, terutama yang menyangkut hajat hidup orang banyak.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Kaum muslimin berserikat dalam tiga perkara: air, padang rumput, dan api.”
(HR. Abu Dawud dan Ahmad)
Para ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud “api” dalam hadis ini mencakup sumber energi. Artinya, sumber daya energi termasuk dalam kategori kepemilikan umum (milkiyyah ‘ammah) yang tidak boleh dikuasai oleh individu atau korporasi.
Negara dalam sistem Islam bertindak sebagai pengelola yang bertanggung jawab terhadap pengelolaan sumber daya tersebut untuk kemaslahatan seluruh rakyat. Negara tidak boleh menyerahkan penguasaan sumber daya strategis kepada swasta atau korporasi yang berorientasi pada keuntungan semata.
Dalam sistem pemerintahan Islam, seluruh sumber daya alam strategis—termasuk minyak dan gas—dikelola oleh negara dan hasilnya dikembalikan untuk kesejahteraan masyarakat. Keuntungan dari pengelolaan tersebut digunakan untuk membiayai kebutuhan publik, seperti pendidikan, kesehatan, dan pembangunan infrastruktur.
Dengan pengelolaan seperti ini, negara memiliki kendali penuh atas sumber energi sehingga tidak mudah dipengaruhi oleh tekanan pasar global atau kepentingan korporasi internasional.
Selain itu, sistem Islam juga menempatkan negara sebagai pelindung kepentingan umat, bukan sekadar regulator pasar. Negara memiliki tanggung jawab memastikan bahwa kekayaan alam tidak jatuh ke tangan segelintir elit atau oligarki.
Sejarah Islam menunjukkan bahwa ketika syariat diterapkan secara menyeluruh, kekayaan alam mampu menjadi sumber kesejahteraan bagi masyarakat luas. Negeri-negeri muslim yang kaya sumber daya alam tidak dibiarkan bergantung pada kekuatan asing.
Bagi generasi masa depan, penerapan sistem yang adil dalam pengelolaan sumber daya sangatlah penting. Generasi muda tidak hanya membutuhkan pendidikan yang baik, tetapi juga sistem yang mampu menjaga kedaulatan ekonomi dan kekayaan alam negeri mereka.
Sebagai pendidik generasi, kita memiliki tanggung jawab untuk menyadarkan masyarakat bahwa persoalan energi bukan sekadar isu ekonomi sesaat. Ia adalah bagian dari persoalan sistemik yang menentukan masa depan umat.
Karena itu, upaya mewujudkan kedaulatan energi tidak cukup dengan kebijakan jangka pendek. Diperlukan perubahan mendasar dalam sistem pengelolaan sumber daya alam. Islam menawarkan solusi komprehensif melalui penerapan syariat secara menyeluruh dalam kehidupan, termasuk dalam pengelolaan ekonomi dan sumber daya alam.
Ketika sistem Islam diterapkan secara kaffah dalam naungan kepemimpinan yang adil, kekayaan alam negeri-negeri muslim tidak lagi menjadi objek eksploitasi kapitalisme global. Sebaliknya, ia akan menjadi sumber kesejahteraan bagi seluruh umat.
Dengan demikian, fenomena panic buying BBM seharusnya menjadi pengingat bahwa kedaulatan energi adalah kebutuhan mendesak. Bagi umat Islam, jalan menuju kedaulatan itu tidak dapat dipisahkan dari penerapan sistem Islam secara menyeluruh dalam kehidupan.
Wallahu a’lam bishshawwab.
Oleh: Iffah Komalasari, S.Pd
(Pendidik Generasi)
![]()
Views: 4







