Dewan Perdamaian atau Dewan Pengkhianatan?

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Air susu dibalas air tuba. Sejauh itulah hubungan Indonesia dan Palestina hari ini. Negeri ini seolah menabur garam di atas luka rakyat Palestina ketika memutuskan bergabung dalam agenda Board of Peace, sebuah dewan yang sejak awal sangat kental keberpihakan terhadap Israel.

Seluruh rakyat Indonesia mengetahui bahwa pada 6 September 1944, melalui pernyataan dukungan Mufti Besar Palestina, Syekh Muhammad Amin al-Husaini, yang disiarkan langsung melalui radio berbahasa Arab, Palestina menjadi wilayah pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia. Mirisnya, 81 tahun kemudian—tepat pada 22 Januari 2026—Indonesia justru bergabung ke dalam Board of Peace, Dewan Perdamaian buatan Amerika Serikat, sekutu utama sekaligus pemasok senjata terbesar Israel (Kompas.com, 24/01/2026).

Lebih menyesakkan lagi, warga Gaza di tengah penderitaan yang tak berujung masih menyempatkan diri menyisihkan dana bantuan untuk korban banjir Sumatra. iNews Medan pada Jumat, 3 Desember 2025, melaporkan bahwa warga Gaza mendonasikan sebesar 1.000 dolar AS (sekitar Rp15 juta) untuk Sumatra, meski mereka sendiri hidup dalam krisis kemanusiaan. Sampai sejauh mana lagi rakyat Palestina harus menelan kekecewaan terhadap negeri ini?

Cara Baru Menguasai Gaza

Board of Peace dibentuk dengan dalih mengawal gencatan senjata, stabilitas, dan rehabilitasi pascakonflik. Tujuan utamanya adalah mendorong apa yang disebut sebagai two-state solution—solusi dua negara—yang diklaim adil. Padahal, ia hanyalah solusi basi yang berulang kali disodorkan kepada dunia dan berulang kali pula gagal.

Tidak hanya Indonesia, sejumlah negara Muslim lainnya turut terlibat dan bergabung dalam agenda Board of Peace ini. Sebuah bentuk pengkhianatan nyata terhadap pengorbanan, darah, dan penderitaan rakyat Palestina.

Terkhusus bagi negeri kita tercinta, keikutsertaan ini bukanlah bentuk pembelaan terhadap Palestina untuk merebut kembali tanahnya yang dirampas oleh pendatang ilegal. Sebaliknya, langkah ini justru secara tidak langsung melegitimasi pendudukan paksa atas tanah Palestina, bahkan pembenaran terhadap penjajahan dan pembantaian yang terus berlangsung di sana. Sungguh ironis.

Dunia semestinya sadar bahwa two-state solution hanyalah solusi semu. Berkali-kali diajukan, berkali-kali pula mengecewakan. Kapankah dunia—terutama negeri ini—mau belajar dari kegagalan yang terulang dan mencari solusi yang benar-benar solutif?

Memberikan solusi dua negara sama saja dengan memaksa korban menerima penjajahan atas nama perdamaian. Betapa mengerikannya kenyataan ini: Palestina yang dahulu mengecam pendudukan Jepang dan Belanda atas Indonesia, kini justru dibalas dengan dukungan Indonesia terhadap pendudukan Israel atas Palestina.

Sebagai sesama manusia, rakyat Indonesia, dan saudara seiman, sudah seharusnya menolak dengan tegas keikutsertaan negara ini dalam agenda Board of Peace serta menolak persetujuan atas solusi dua negara.

Lantas, Apa Solusi Pengganti yang Perlu Ditawarkan?

Sebagaimana telah menjadi rahasia umum, Israel mampu terus melancarkan agresi terhadap Palestina hingga hari ini berkat dukungan penuh Amerika Serikat—baik dalam bentuk senjata, militer, logistik, maupun perlindungan diplomatik. Dengan demikian, dalang utama di balik kejahatan ini tidak lain adalah Amerika Serikat.

Amerika berupaya mempertahankan eksistensi Israel demi mengamankan kepentingan dan dominasinya di kawasan Timur Tengah. Maka, jika ingin menyingkirkan Israel dari tanah Baitul Maqdis, yang harus dikalahkan terlebih dahulu adalah dalang di belakangnya: Amerika Serikat.

Dan untuk mengalahkan sebuah negara adidaya, dibutuhkan kekuatan adidaya lain yang setara atau bahkan lebih besar. Sepanjang sejarah, peradaban besar selalu berdiri di atas sebuah ideologi yang kuat.

Saat ini, dunia mengenal tiga ideologi besar: kapitalisme-sekuler, sosialisme-komunisme, dan Islam. Kapitalisme-sekuler yang saat ini dipegang oleh Amerika Serikat telah menunjukkan kebengisan dan kelicikannya dalam mengendalikan dunia. Sosialisme-komunisme yang pernah diusung Uni Soviet dan negara-negara Eropa Timur terbukti penuh kekerasan, kekejaman, darah dan tidak bertahan lama, hingga akhirnya runtuh di tangan rakyatnya sendiri.

Kini, yang Tersisa Hanyalah Islam

Sejarah mencatat, ketika Islam diterapkan dalam sebuah negara yang dikenal sebagai Khilafah, rakyat merasakan kesejahteraan yang belum pernah dicapai oleh peradaban mana pun sebelum maupun sesudahnya. Bahkan, runtuhnya Khilafah bukan disebabkan oleh kegagalan ideologi Islam dalam mengayomi dan menyejahterakan rakyat, melainkan karena umat dan penguasanya sendiri mulai meninggalkan akidah Islam dan beralih kepada racun nilai-nilai Barat (kapitalisme-sekuler) yang belakangan terbukti membawa kerusakan dan kesengsaraan.

Seorang Khalifah, sebagai pemimpin kaum Muslimin pengganti Rasulullah ﷺ, tidak akan pernah berkompromi untuk menyerahkan sejengkal pun tanah Palestina kepada Yahudi. Dalam Islam, warga Yahudi diperbolehkan berziarah ke Baitul Maqdis dan sebatas itu. Mereka dilarang memiliki tanah, bahkan bermukim di wilayah tersebut.

Khalifah akan menjaga tanah Syam dari segala bentuk rongrongan, sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ yang artinya:

“Sesungguhnya imam (khalifah) adalah perisai. Orang-orang berperang di belakangnya dan berlindung dengannya. Jika ia memerintahkan ketakwaan kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan berlaku adil, maka baginya pahala. Jika ia memerintahkan selain itu, maka ia akan menanggung akibatnya.”(HR. Muslim)

Hal ini dibuktikan oleh Khalifah Abdul Hamid II ketika Theodor Herzl menawar sebagian tanah Palestina dengan imbalan dana besar yang bahkan cukup untuk melunasi utang negara. Namun Khalifah dengan tegas menolaknya dan menyatakan bahwa kaum Yahudi tidak akan pernah mendapatkan sejengkal pun tanah tersebut kecuali setelah melihat jenazahnya. Sejarah pun membuktikan ucapannya.

Dengan demikian, hanya Khilafah yang berasaskan Islam—yang mampu menyatukan seluruh negeri Muslim dalam satu komando—yang dapat menandingi Amerika Serikat, mengusir Israel dari tanah Palestina, bahkan membebaskan seluruh dunia dari cengkeraman Amerika.

Maka, sudah saatnya menggaungkan Khilafah sebagai solusi pembebasan Palestina, membebaskan dunia Islam dari cengkeraman Amerika Serikat dan kroni-kroninya, serta mengakhiri pengkhianatan negeri ini dan negeri-negeri Muslim lainnya. Allahu Akbar.[] Wafi Mu’tashimah

Loading

Views: 26

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA