Tinta Media – Kini Rajab berpamitan, Sya’ban telah tiba, dan Ramadan pun telah menanti. Namun, ironis, umat Islam di seluruh penjuru dunia sangat menderita. Potret Muslim lokal diadu domba, Muslim Suriah menuju sekuler, Muslim Khasmir, Sudan, Rohingya, dan di belahan bumi lainnya jauh dari kata ‘adil sentosa’.
Palestina merupakan bukti konkret suburnya kezaliman, penjajahan, dan pengkhianatan para penguasa. Darah mengalir dan nyawa tak terukur ditumpahkan di atas kepentingan. Mengatasnamakan ‘menuntut keadilan’’ ironi, hanyalah imajiner belaka. Sebab barometer keadilan adalah keuntungan bukan kebenaran.
Inilah realitas hidup di era kapitalisme, ketika seseorang menyembah materi bukan Ilahi. Rekam jejak kelam kebijakan di bumi pertiwi, layak dijadikan bukti. Beragam aturan disahkan tapi melumpuhkan kesejahteraan dan membungkam suara kebenaran.
Mari flashback sejenak, kebijakan PPN Naik 12 persen di tengah efisiensi anggaran, diperparah badai PHK massal, pemangkasan dana pendidikan, dan kesehatan untuk program MBG yang problematik. Belum lagi, ribuan demonstran turun ke jalan tapi disambut gas air mata, dilindas, dipukul, dan dipaksa mundur. Pembungkaman ini didukung dengan diberlakukan KUHAP karena memiliki banyak pasal bermasalah. Sungguh memilukan hidup di bawah aturan berbasis kapitalisme.
Kebenaran ini sudah sejak lama diakui oleh Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh, dalam diskusi bertajuk Tantangan Bangsa Indonesia Kini dan Masa Depan di Universitas Indonesia, Salemba, Jakarta Pusat, Rabu (14/8/2019). Ia mengungkapkan bahwa Indonesia malu-malu kucing mendeklarasikan sebagai negara kapitalis yang liberal.
Sosok politisi berpengaruh tidak mungkin berargumen tanpa landasan, melainkan paham lapangan dan menyaksikan. Bagaimana kebijakan menguntungkan elite politik tapi menumbalkan rakyat jelata.
Hal ini terjadi karena umat menanggalkan agama Islam sebagai way of life. Islam hanya dijadikan opsi ritual dan pantang dipublikasikan. Artinya, ibadah hanya urusan individual dengan Allah saja. Mirisnya, seorang muslim/ah menunjukkan identitas Islamnya — rawan intimidasi — sok suci, fanatik, radikal, sesat, dll.
Sangat relevan dengan pendapat Al-Imam Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani ketika menggambarkan umat Islam di pertengahan abad ke 18. Umat dalam keadaan kemunduran dan kemerosotan yang paling buruk dari masa kejayaan Islam dengan sangat cepat. Hal ini terjadi karena lemahnya pemahaman umat terhadap Islam, dimulai dari bahasa Arab diremehkan dari peranannya untuk memahami Islam. Sehingga seperti saat ini, membaca Al-Qur’an hanya perkara nada dan tajwid bukan maknanya. Wajar bila banyak hafiz Al-Qur’an tapi sebagai pelaku maksiat.
Kini, taat hanya milik individual, dakwah urusan ulama, dan dosa pun milik pribadi. Jadi pantang untuk mencampuri urusan orang lain, sekalipun hanya mengingatkan kebaikan.
Tak terasa 102 tahun berlalu, umat Islam tanpa pelindung. Ibarat panglima tempur tanpa perisai. Pudar sosok wibawanya, hilang kemenangan, dan runtuh keadilan serta kesejahteraan. Jika Rajab merupakan momentum terbaik untuk perubahan, maka jadikan bulan Sya’ban ini untuk memupuk api perjuangan menuju perubahan hakiki. Semoga di bulan Ramadan, kita bukan hanya memanen pahala dan keberkahan, melainkan perubahan sejati. Hidup di bawah naungan khilafah ala Minhaj an-Nubuwwah. Wallahu’alam bishowab.
Oleh: Novita Ratnasari, S. Ak.
Tim Redaksi Tinta Media
![]()
Views: 14








