Tawuran Memakan Korban Lagi

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Tawuran memakan korban lagi, seakan-akan nyawa begitu tidak
berharga. Korban tawuran mati sia-sia meninggalkan duka mendalam bagi keluarga.
Inilah yang dialami oleh keluarga Almarhum M Arief, remaja yang tewas dalam
tawuran yang terjadi di Kota Palembang, Sumatra Selatan (Senin, 24/06/2024)
sekitar pukul 03:00 dini hari. Menurut Kanit Reskrim Polsek Kalidoni Iptu Cepi
Aminuddin, aksi tawuran remaja terjadi di depan Indomaret simpang Celentang
Palembang.(Kompas com)

Aksi-aksi tidak terpuji para remaja ini kian meresahkan dan
nyaris terjadi di kota-kota besar di Indonesia. Tidakkah umat dan para penguasa
mengambil pelajaran berharga serta menggores benaknya untuk bertanya, apa yang
menjadi penyebab utama terjadinya praktik-praktik tawuran kalangan remaja?
Solusi tunas apakah yang harus diambil oleh negara untuk mewujudkan Indonesia
emas di masa depan kalau perilaku generasi mudanya dihabiskan hanya untuk
rebahan atau tawuran saja?

Korban Arief tewas dengan luka-luka akibat sabetan senjata
tajam. Korban sempat dilarikan ke rumah sakit Bom Baru usai kejadian. Namun,
tidak berselang lama korban dinyatakan meninggal dunia. Teman-teman korban
telah dipanggil untuk dimintai keterangan perihal aksi tawuran tersebut.

Atas seringnya terjadi aksi tawuran remaja yang kian
meresahkan ini, Kepala Kepolisian Resort Kota Besar Palembang Kombes pol Harryo
Sugihartono mengimbau warga agar melarang anak remajanya keluar rumah sampai
larut malam dan perlu meningkatkan lagi pengawasan terhadap anak-anak remajanya
guna antisipasi agar tidak terlibat aksi tawuran yang bisa membahayakan dan
memakan korban.

Antisipasi sangatlah diperlukan. Lebih lanjut dari itu
semua, diperlukan kerja sama antara penegak hukum, dalam hal ini negara, orang
tua, dan lingkungan masyarakat. Pencegahan ini tidak bisa diserahkan sepenuhnya
kepada orang tua semata. Faktor lainnya seperti lingkungan yang abai, 
pergaulan bebas atas nama hak asasi manusia, serta tontonan tanpa saringan atau
filter dari negara juga berindikasi besar membangun perilaku remaja yang kian
meresahkan.

Belum lagi kita bicara tentang pendidikan yang didapatkan.
Apakah kurikulum pendidikan sudah terbukti mampu mencetak generasi yang takwa,
berakhlak mulia, sehat jiwa raganya? Semua pihak harus terlibat langsung dan
sepenuh hati menjaga generasi bangsa ini agar tidak semakin rusak dan jauh dari
syariat agama Islam yang kaffah.

Negara harus hadir sebagai bentuk tanggung jawab sebagai
junnah, pengurus, pelindung masyarakat. Saat ini pemerintah hanya hadir separuh
hati. Terbukti dengan kurang tegasnya pemerintah dalam memberikan hukuman atau
solusi tuntas untuk menyelesaikan akar masalah yang terus bertambah di kalangan
remaja khususnya, dan problematika kehidupan umat pada umumnya.

Kehadiran negara akan sepenuh hati ketika syariat Islam di
pahami dan amalkan oleh pemimpin suatu daerah. Di tangan merekalah segala
kebajikan dilahirkan. Kebijakan harus diambil sesuai kebutuhan, bukan
keinginan, apalagi pesanan.

Buruknya sistem buatan manusia peninggalan kaum penjajah
sudah terbukti nyata membuat kehidupan remaja kian bebas tanpa arah dan
batasan. Masihkah sistem gagal, rusak, dan merusakkan ini mau dipertahankan?
Wallahu alam biswaab.

Oleh: Yeni Aryani, Sahabat Tinta Media

Loading

Views: 5

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA