Tinta Media – Tawuran di Manggarai kembali pecah pada Kamis (14/08/2025). Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menanggapi dengan menegaskan pihak yang sengaja membuat konten tawuran akan ditindak. Ia menduga ada yang “sengaja memviralkan” aksi itu sehingga aparat akan fokus menindak perekam dan penyebar video.
Pernyataan semacam ini jelas memperlihatkan cara pandang yang keliru. Seolah-olah kamera ponsel adalah biang kerok tawuran. Padahal, sejarah panjang menunjukkan bahwa Manggarai telah menjadi arena tawuran jauh sebelum ada media sosial.
Warisan Kekerasan Puluhan Tahun
Catatan kepolisian menunjukkan, tawuran di Manggarai sudah berlangsung sejak tahun 1970-an. Pemicu klasiknya sederhana: petasan, senggolan, perempuan, hingga persaingan ekonomi. Akan tetapi, hal-hal sepele itu berubah menjadi tragedi berdarah. Dendam antarkampung bahkan diwariskan turun-temurun menjadikan tawuran seperti ritual sosial.
Artinya jelas, sebelum ada kamera ponsel, tawuran sudah sering kali terjadi di sana atau bisa dibilang sudah menjadi tradisi. Video viral yang ada hari ini hanyalah cermin yang justru memperlihatkan kegagalan negara dalam membongkar akar persoalan.
Solusi Kosmetik
Pernyataan Gubernur Pramono seolah mengulangi pola lama, mencari kambing hitam, bukan solusi. Faktanya, pendekatan serupa sudah dicoba berkali-kali mulai dari pemasangan CCTV, patroli Satpol PP, piagam damai antarkampung, hingga razia senjata rakitan. Akan tetapi, tawuran tetap terjadi nyaris setiap tahun.
Mengapa gagal? Karena pangkal dari masalahnya tak pernah disentuh, yaitu:
1. Kemiskinan struktural di kawasan padat Manggarai.
2. Minimnya lapangan kerja dan ruang positif bagi generasi muda yang akhirnya mencari identitas lewat geng dan kekerasan.
3. Rapuhnya pendidikan moral yang gagal menanamkan akidah Islam, akhlak, dan visi hidup.
3. Dendam sosial yang diwariskan antargenerasi tanpa rekonsiliasi sejati.
Selama hal-hal ini tidak diatasi, maka kebijakan apa pun hanya kosmetik. Menutupi luka di permukaan, tetapi membiarkan infeksi di dalam tubuh sosial.
Islam Mengajarkan Penyelesaian
Islam mengajarkan bahwa pencegahan kejahatan, termasuk tawuran, tidak cukup dengan larangan-larangan dangkal. Rasulullah ﷺ membangun masyarakat Madinah dengan:
1. Pendidikan akidah dan akhlak. Membentuk generasi yang takut kepada Allah, bukan brutal di jalan.
2. Sistem ekonomi adil, yang memastikan pemuda tidak frustrasi oleh sempitnya hidup.
3. Penegakan hukum yang tegas dan mendidik, bukan sekadar menakut-nakuti.
4. Penguatan keluarga dan komunitas sehingga nilai-nilai damai lebih kuat daripada dendam sosial.
Pengajaran inilah yang hilang dari pendekatan sekuler hari ini. Sibuk menutup gejala, tetapi abai pada substansi.
Kekerasan yang Mewabah
Tawuran Manggarai bukanlah kasus tunggal. Ia hanyalah bagian dari mozaik kekerasan di negeri ini, mulai dari perundungan di sekolah, geng motor, kriminalitas jalanan, hingga kekerasan seksual yang marak. Semua itu menandakan satu hal bahwa masyarakat hidup dalam sistem yang gagal menanamkan moral, menyediakan kesejahteraan, dan menegakkan hukum yang adil.
Maka, bukan dengan membungkam kamera atau menyalahkan konten. Solusi sejati hanya akan lahir bila negeri ini berani keluar dari paradigma sekuler kapitalistik yang penuh tambal sulam dan kembali pada sistem Islam yang terbukti mampu menciptakan masyarakat aman, sejahtera, dan beradab. Inilah akar dan pangkal masalah yang sesungguhnya. Wallahualam bissawab.
Oleh: Muhar
Sahabat Tinta Media
Views: 28




