Anak Durhaka pada Orang Tua, Buah Sistem Sekuler

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Viral kasus pembunuhan seorang pedagang di kawasan Duren Sawit Jakarta Timur. Ternyata pelakunya dua orang putri kandungnya berumur 17 tahun dan 16 tahun. Pelaku tidak terima karena dimarahi ayahnya setelah ketahuan mencuri uang ayahnya (www.liputan6.com, 23/6/2024). Di Pesisir Barat
Lampung, seorang remaja 19 tahun tega memukuli ayahnya yang minta diantarkan ke
kamar mandi, sedangkan ayahnya  menderita
stroke. Nahas, sang ayah akhirnya meninggal setelah dilarikan  ke rumah sakit (enamplus.liputan6.com,
23/6/2024).

Kasus anak membunuh orang tua ini bukan kali pertama. Di
bulan Mei 2024, ada anak yang membunuh ibu kandungnya di Morowali (kompas.com,
21/5/2024), kejadian yang sama juga terjadi di Sukabumi (kompas.com,
15/5/2024). Sebelumnya, sepanjang tahun 2023 saja  tidak kurang ada tujuh kasus (iNews.ID,
25/12/2023). Tindak kriminalitas serupa bisa terus terjadi pada sistem sekuler
kapitalisme.

 Kebebasan
Berperilaku

Miris, anak durhaka bukan sekedar kurang tata krama dan
sopan santun terhadap orang tua, bahkan sudah tega menghabisi nyawanya. Kasus
anak membunuh orang tuanya menggambarkan rapuhnya keluarga dan rusaknya
generasi muslim.

Sistem sekuler kapitalis yang memisahkan agama dari
kehidupan melahirkan generasi yang miskin iman, rapuh dan kosongnya jiwanya,
tidak mampu mengontrol emosi. Generasi yang tidak memahami konsep hubungan
dengan Allah dan hubungan dengan manusia, termasuk birrul walidain (berbuat
baik pada orang tua).

Hal ini terjadi karena sistem pendidikan sekuler hanya
berorientasi pada materi, menyiapkan anak didik siap kerja, alpa membangun
kepribadiannya. Sistem sekuler juga gagal memanusiakan manusia dan menjauhkan
manusia dari fitrahnya. Generasi yang tidak paham hakikat penciptaan manusia
sebagai hamba Allah dan khalifah di muka bumi yang akan menebarkan rahmat ke
seluruh alam.

Sistem sekuler yang memandang Islam hanya sebagai ibadah
ritual gagal membangun jati diri generasi. Lahir individu yang tidak paham
bahwa setiap perbuatannya akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.

Negara hadir sebatas regulator dan fasilitator, tidak ada tanggung
jawab membentuk kepribadian generasi yang takwa dan taat pada syariat. Hal
tersebut tidak lepas cara pandang sekuler dalam memandang kehidupan. Kehidupan
dipandang berdasarkan asas manfaat semata bukan halal dan haram. Orang tua,
ketika dianggap memberi manfaat akan disayang. Sebaliknya, jika tidak ada
manfaat akan ditendang dan dibuang. Maka selama siatem sekuler kapitalis yang
diterapkan kasus serupa akan terus berulang.

 Islam Melahirkan
Generasi Berkepribadian

Islam merupakan sistem kehidupan sebagai pemecah
problematika kehidupan manusia. Negara dalam sistem Islam bertanggungjawab
membina generasi sehingga paham jati dirinya sebagai hamba Allah dan khalifah
di muka bumi. Generasi yang paham akan kewajiban sebagai anak berbuat baik pada
orang tua. Generasi yang menjadikan halal dan haram sebagai standar perilaku,
dan berpegang pada syariat Islam.

Islam melarang durhaka pada kedua orang tua. Dari Abu Bakar
ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda,

“Maukah kalian aku beritahu tentang dosa yang paling
besar? Yakni syirik kepada Allah SWT dan durhaka kepada kedua orang tua.”

Allah SWT berfirman dalam Surat Al-Isra’ ayat 23, yang
artinya,

“..dan hendaklah kalian berbuat baik kepada ibu bapak
kalian dengan sebaik-baiknya. Bila salah seorang diantara keduanya atau
dua-duanya berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka janganlah sekali-kali
kalian mengatakan pada keduanya perkataan ‘ah’, dan janganlah  membentak mereka, dan ucapkanlah kepada
mereka perkataan yang mulia.”

Apabila berkata “ah” dan membentak dilarang,
apalagi membunuh orang tua, hukumnya haram.

Negara dalam sistem Islam akan sungguh-sungguh mendidik
generasi, menyelenggarakan sistem pendidikan Islam yang berorientasi membentuk
kepribadian Islam. Yakni generasi yang memiliki pola pikir dan kecenderungan
Islam yang menjadikan halal dan haram sebagai standar perbuatan. Generasi yang
meyakini bahwa setiap perbuatannya akan diminta pertanggungjawaban di hadapan
Allah SWT.

Kesadaran ini akan melahirkan individu yang mampu mengontrol
emosi, dan memandang keberadaan orang tua bukan karena manfaat, justru ladang
amal yang bisa menghantarkan pada keridhaan dan surga Allah. Nabi SAW bersabda
yang artinya,

“Orang tua adalah pintu surga paling pertengahan, bila
engkau mampu maka tetapilah atau jagalah pintu tersebut”. (HR. Ahmad, Ibnu
Majah Tirmidzi, dan Ibnu Hibban).

Negara juga akan mengedukasi keluarga sehingga  paham hak dan kewajiban terhadap
anak-anaknya. Didukung adanya masyarakat Islam yang mencintai amar makruf nahi
munkar. Masyarakat yang selalu menjaga ketaatan kepada Allah, termasuk birrul
walidain, dan membenci tindak kemaksiatan, seperti durhaka pada kedua orang
tua.

Dengan penjagaan tersebut, jika masih ada anak yang
melakukan pembunuhan, maka negara akan memberi sanksi yang tegas yang memberi
efek jera pada pelaku dan mencegah orang lain berbuat kejahatan serupa. Maka
kasus anak durhaka pada orang tua bisa ditekan bahkan dihilangkan. Hal tersebut
terwujud ketika Islam diterapkan secara kaffah dalam bingkai khilafah.

Wallahu a’lam

Oleh: Ida Nurchayati, Kontributor Tinta Media

Loading

Views: 21

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA