Demo No Kings: Kebangkrutan AS dan Penegakan Khilafah

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads
Demo No Kings: Kebangkrutan AS dan Penegakan Khilafah

Tinta Media – Gelombang unjuk rasa besar-besaran terjadi di Amerika Serikat (AS). Jutaan warga di sana turun ke jalan untuk melakukan demonstrasi yang bertajuk _No Kings_ (8/4/2026) waktu setempat. Aksi ini digelar sebagai bentuk penolakan terhadap kebijakan Presiden Donald Trump, termasuk terkait perang di Iran dan kebijakan domestik yang dinilai kontroversial.

Demonstrasi dilakukan di 50 negara bagian AS serta 16 negara lainnya. Ini adalah salah satu aksi protes paling terkoordinasi sepanjang sejarah negara itu. Unjuk rasa ini dilakukan karena turunnya tingkat kepuasan publik terhadap kebijakan Trump, ditambah lagi dengan sejumlah pendukung garis keras yang turut mengungkapkan rasa frustrasinya terhadap Trump (detik.com, 30/3/26).

Gerakan ini mengajak masyarakat untuk menolak kepemimpinan yang dinilai telah melampaui kewenangan dan berpotensi melemahkan institusi demokrasi. Gerakan ini menekankan bahwa Amerika Serikat adalah negara demokrasi yang menempatkan konstitusi sebagai landasan utama pemerintahan.

Apalagi, utang nasional Amerika Serikat (AS) telah mencapai angka tertinggi sepanjang sejarah, yaitu sebesar US$39 triliun (sekitar Rp661.440 triliun) pada Maret 2026. Hal ini didorong oleh lonjakan pengeluaran akibat keterlibatan dalam konflik AS-Israel-Iran. Situasi ini meningkatkan beban utang per penduduk menjadi setara Rp1,93 miliar. Hal ini memicu kekhawatiran serius mengenai potensi kebangkrutan fiskal Amerika (akuratnews.co, 29/3/26).

Trump mempunyai ambisi untuk menguasai dunia dengan kebijakan militernya, membuat utang AS berlipat dan menuju kebangkrutan. Bahkan, Trump pernah melontarkan ancaman untuk menggunakan kekuatan militer untuk merebut wilayah semi-otonom milik sekutu NATO, Denmark. Trump juga mengancam akan memberlakukan tarif impor yang tinggi bagi negara-negara NATO jika keinginannya untuk mencaplok Greenland tidak dipenuhi (bbc.com, 30/1/26).

Sikap AS (Trump) mendukung Israel untuk menguasai Palestina, bersekutu dengan Eropa. Donald Trump menyebut empat negara di Timur Tengah mendukung AS-Israel dalam memerangi Iran. Hal ini telah membuka mata dunia dan warga Amerika akan kejahatan Trump dan hegemoni kapitalisme (msn.com, 31/3/26).

Amerika Serikat, dengan mengembam sistem kapitalismenya telah menundukkan negeri-negeri muslim untuk berada di bawah hegemoninya. Terhitung ada 12 negara mayoritas muslim yang telah resmi bergabung dalam _Board of Peace_ (BoP) bentukan Presiden AS, Donald Trump menjadi penghianatan terbesar dari penguasa-penguasa muslim terhadap Palestina.

Pengkhianatan penguasa negeri muslim yang bersekutu dengan AS harus segera diakhiri. Negara-negara Arab harus bisa melepaskan tangan mereka dari pengaruh AS dan bersatu di jalan Islam, karena persatuan umat akan terlaksana jika kaum muslimin bersatu di bawah bendara Islam.

Umat harus terus disadarkan bahwa Amerika dan ideologi kapitalisme serta politik demokrasinya telah merusak dunia dan kehidupan antarbangsa. Umat Islam dan penguasa muslim sudah menjadi korban adu domba demi kepentingan Amerika.

Oleh karena itu, harus semakin dimasifkan upaya penyadaran politik umat Islam, dibarengi dengan edukasi tentang politik Islam, sistem Islam, dan kepemimpinan Islam. Dakwah politik kepada umat akan membentuk opini umum sehingga akan menghasilkan kesadaran umum akan rusaknya sistem kapitalisme di bawah hegemoni Amerika menuju kesadaran umum kepemimpinan Islam.

Dakwah mengajak umat dan penguasa muslim untuk menggencarkan perjuangan penegakan Khilafah juga harus digencarkan agar tatanan dunia yang rusak diganti dengan tatanan syariah Islam.

Dengan bersatunya kaum muslim dan saling melindungi akan tercipta kekuatan besar yang dapat menandingi bahkan melampaui negara-negara besar. Umat Islam akan memiliki kekuatan militer raksasa yang mempunyai pengaruh geopolitik yang luar biasa.

Letak negeri muslim yang strategis, seperti adanya Selat Hormuz, Terusan Suez, dan Selat Malaka merupakan aset geopolitik dan geoekonomi yang sangat vital. Jika dikelola secara terpadu oleh negara-negara muslim, maka akan memberikan pengaruh besar dalam percaturan global. Hal ini akan mengalahkan hegemoni Amerika.

Akan tetapi, persatuan ini tidak akan terwujud tanpa tegaknya Khilafah Islamiyah. Khilafahlah yang dapat menyatukan seluruh wilayah Islam di dunia. Khilafah juga yang akan melindungi seluruh negeri muslim.

Dengan demikian, kita wajib bersatu dalam ukhuwah islamiyah di bawah panji kepemimpinan Islam global. Sehingga, umat Islam akan menjadi umat yang tidak akan terkalahkan dan ideologi Islam satu-satunya yang akan diemban ke seluruh dunia.
Wallahu a’lam bish shawab.

Oleh: Nurmala Sari
Sahabat Tinta Media

Loading

Views: 2

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA