Ratu 2024: Kepemimpinan Sekuler Menyengsarakan, Kepemimpinan Islam Harapan Masa Depan

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Acara Risalah Akhir Tahun atau Ratu 2024 yang dihadiri sekitar 250 tokoh lintas komunitas dari wilayah Jabodetabek hingga Banten di Jakarta pada Ahad (15/12/2024), mengangkat tema: “Kepemimpinan Sekuler Menyengsarakan, Kepemimpinan Islam Harapan Masa Depan”.

“Ibu Yulia Kusumadewi selaku pengatur acara membuka acara Risalah Akhir Tahun atau Ratu 2024 ini dengan mengajak tokoh bersama-sama menyadari betapa pentingnya mengetahui sosok pemimpin dan model kepemimpinan sebab hadirnya penguasa atau pemimpin-pemimpin populis otoriter dari sistem politik demokrasi yang diterapkan hari ini,” ujar Narator Muslimah Media Hub (MMH) dalam The Topics: Kepemimpinan yang Rahmatan lil ‘Alamin di kanal Youtube Muslimah Media Hub, Senin (16/12/2024).

Disebutkan narator, dalam acara Ratu 2024 ini menghadirkan dua aktivis dakwah nasional sebagai pemateri yaitu ibu Ratu Erma Rahmayanti dan ibu Iffah Ainur Rochmah.

Profil Pemimpin Islam

Ibu Ratu Erma Rahmayanti selaku pemateri pertama menjelaskan tentang profil pemimpin menurut syariat Islam. Ia mengingatkan kembali tentang Hadis Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam yang mengingatkan kepada umatnya bahwa akan datang tahun-tahun penuh hoaks, di mana saat itu orang-orang yang jujur diklaim bohong sebaliknya orang-orang bohong diklaim jujur.

“Hari ini telah bermunculan pemimpin ruwaibidah sebagaimana yang pernah disabdakan Rasulullah Sallallahu alaihi wasallam pada ribuan tahun sebelumnya. Mereka yang tulus ikhlas menasihati para pemimpin agar negeri ini berkah dan sejahtera dianggap pengganggu negara ini. Para ulama dipersekusi dan para pengemban dakwah dikriminalisasi. Padahal mereka ingin menyampaikan kebenaran,” ulasnya.

Ibu Ratu menyitir hadis Rasulullah SAW. yang mendeskripsikan ruwabidah. Dalam hadis tersebut, Rasulullah menyebutkan bahwa ruwaibidah adalah pemimpin bodoh tetapi mengurus urusan rakyat.

“Bukan tanpa alasan munculnya pemimpin ruwaibidah terjadi setelah hancurnya simpul pemerintahan Islam yang ditandai dengan diabaikannya hukum-hukum Allah dalam segala aspek kehidupan. Tidaklah aturan Islam diperhatikan kecuali pada urusan individu. Akibatnya penguasanya tidak menyadari perannya sebagai ra’in, sementara rakyatnya tidak memahami bahwa penguasa mereka adalah pelayan rakyat,” paparnya.

Lebih lanjut, ibu Ratu mengingatkan setiap pemimpin pasti dimintai pertanggungjawaban atas rakyat yang dipimpinnya. Ia kemudian menjelaskan satu persatu profil pemimpin yang ditetapkan sesuai syariat Islam.
Profil pertama, pemimpin rakyat seharusnya memiliki aqliyah hukmi. Ini ditandai dengan dia memahami perkara pemerintahan yang ditetapkan Islam dan memahami hubungan seorang pemimpin dengan rakyatnya.

Profil kedua, pemimpin seharusnya memiliki takwa. Takwa tidak terbatas hanya tentang salat atau sedekah tetapi mengamalkan Islam dalam segala aspek kehidupan . Sedangkan penerapan Islam secara sempurna tidak akan mungkin terjadi kecuali kaum muslimin mengangkat seorang Imam atau pemimpin yang berperan sebagai junnah atau perisai dan akan mengembalikan Haibah atau kewibawaan umat Islam.

Terakhir atau profil ketiga adalah ar rifqu bi ar ra’iyah atau sayang kepada rakyatnya, yakni tidak menempatkan rakyat sebagai musuhnya.

Relasi Ideal Pemimpin dengan Rakyatnya

Acara dilanjutkan dengan pemaparan materi dari ibu Iffah Ainur Rochmah yang membahas relasi ideal pemimpin dengan rakyatnya. Ia mengungkap bahwa saat ini relasi atau hubungan antara pemimpin dengan rakyat bukanlah hubungan yang harmonis sebab kebijakannya justru menyengsarakan rakyat. Begitu pula undang-undang yang merugikan rakyat seperti Undang-Undang Cipta Kerja, Undang-Undang Minerba, dan lain-lain.

Terkait relasi ini, lanjut Ibu Iffah, dalam kitab asy Syaksiyah al Islamiyah karya Syekh Taqiyuddin an Nabhani dijelaskan bahwa Allah Ta’ala dan Rasul-Nya memerintahkan kepada pemimpin melingkupi rakyat dengan kehidupan politik dan nasihat.

“Allah Ta’ala mewajibkan pemimpin hanya memimpin dan mengeluarkan kebijakan berdasarkan Islam saja tanpa didampingi oleh hukum-hukum atau aturan dari pemikiran selain Islam,” bebernya.

Ia mengingatkan bahwa dulu ketika khilafah tegak, rakyat dilingkupi dengan nasihat. Kalimat pertama khalifah dalam khutbahnya adalah kalimat agar kehidupan politik penuh dengan ketakwaan kepada Allah Ta’ala, relasi penguasa dengan rakyat lainnya adalah larangan menyentuh harta milik umum.

Adapun relasi yang ketiga, lanjutnya, bahwa hukum syariat memerintahkan kepada penguasa untuk memerintah rakyat hanya dengan Islam saja. Kebijakan yang bersumber dari Islam pasti akan mampu menyelesaikan problem-problem manusia karena bersumber dari Allah yang menciptakan manusia.

“Relasi atau hubungan ideal penguasa dengan rakyat berdasarkan syariat Islam ini telah memberikan ruang kepada rakyat untuk mendampingi pelaksanaan hukum-hukum syariat yakni melakukan muhasabah kepada penguasa atas dorongan takwa. Tidak mungkin pemimpin yang punya relasi atau hubungan harmonis dengan rakyat atau dengan umat tadi lahir dari rahim sistem sekuler demokrasi hari ini,” pungkasnya.[] Erlina

Loading

Views: 10

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA