Refleksi 2025, UIY: Perubahan Butuh Perspektif Filosofis Fundamental

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Cendekiawan Muslim Ustadz Muhammad Ismail Yusanto (UIY) menyatakan bahwa perubahan dari kehidupan yang buruk menjadi baik untuk masa yang mendatang di tengah kehidupan umat, membutuhkan perspektif filosofis fundamental.
 
“Yang dibutuhkan adalah perspektif filosofis fundamental. Yakni, cara pandang yang mampu meneropong persoalan sampai dasar tentang hidup, tujuan, nilai dan arah yang musti kita tuju,” ujarnya dalam video bertajuk “Refleksi Akhir Tahun 2025: Energi, Akar Masalah” di kanal YouTube UIY Official, Rabu (31/12/2025).
 
UIY menjelaskan, jika bicara tentang tahun 2025 yang segera berlalu dan 2026 yang segera akan dimasuki, seharusnya perspektif fundamental seperti inilah yang benar-benar dijadikan sebagai bekal untuk melangkah ke depan.
 
“Karena faktanya, semua melihat, berapa kali pun tahun berganti selama umat tak menggunakan perspektif ini, keterpurukan tak akan berhenti bahkan cenderung semakin buruk,” bebernya.
 
“Mengapa? Logikanya sederhana saja, janganlah atau tak mungkinlah kita berharap hasil yang berbeda kalau cara yang ditempuh itu sama,” jelasnya.
 
UIY pun menyebutkan bahwa akhir tahun selalu datang membawa dua hal, yaitu angka baru di kalender dan harapan baru di kepala.
 
Tetapi, kata UIY, mari jujur pada diri sendiri, kerusakan yang ini hari disaksikan dalam ekonomi, politik, sosial, budaya, bahkan juga kemanusiaan tidak mungkin tiba-tiba menjadi baik hanya karena kita mengganti tahun.
 
“Pertanyaannya sederhana saja, ke mana selama ini energi kita, kita alokasikan? Kita harus mengakui bahwa sangat banyak energi kita habis untuk hal-hal reaktif, teknis, tambal sulam. Kita sibuk mengakali sistem padahal sistemnya sendiri sudah rusak,” ungkapnya.
 
UIY menegaskan bahwa mengenai hal ini, Al-Qur’an sudah sangat lama mengingatkan sebagaimana disebutkan dalam Surah Ar-Ra’d ayat 11.
 
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri,” kutipnya.
 
UIY menjelaskan bahwa yang dimaksud dalam ayat tersebut tidak lain adalah cara berpikir atau perspektif manusianya.
 
 ‘Nah, perubahan dari rusak menuju keberkahan harus dimulai dari cara berpikir, karenanya dari kemampuan akal untuk melihat fakta darinya, lalu menemukan solusi yang benar. Bukan solusi yang seolah benar alias solusi semu,” terangnya.
 
“Dari situlah takwa menjadi sangat penting, karena takwa inilah yang semestinya menjadi basis dari semua-muanya,” pungkasnya.[] Ajira

Loading

Views: 37

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA