PAKTA Sepakat, Dunia Harus Berpihak pada Mata Uang yang Adil, Stabil, dan Bebas Dominasi

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Ekonom Pusat Analisis Kebijakan Strategis (PAKTA) Muhammad Hatta menyepakati bahwa dunia seharusnya mulai berpihak pada sistem mata uang yang lebih adil, stabil, dan bebas dominasi mata uang lain.

“Iya harusnya begitu ya.., cuman mata uang yang mana itu?” ujarnya dalam Kabar Petang: Rp 1000 Bakal Jadi Rp 1, Baguslah? Di kanal YouTube Khilafah News, Ahad (23/11/2025).

Saat ini, Hatta mengatakan, pasca menurunnya pengaruh politik global Amerika, memang ada upaya untuk mengganti dolar atau mencari alternatif mata uang lain agar transaksi internasional berjalan lebih adil.

“Dalam valuta asing transaksi dolar per hari itu averagenya itu sekitar 7 triliun per hari, bukan 7 triliun rupiah ya tapi 7 triliun dolar ya triliun dolar. Nah, semakin besar nilai transaksinya maka potensi transaksi spekulasinya semakin tinggi,” paparnya.

Menurut Hatta, dalam transaksi valuta asing, mata uang AS itu transaksinya spekulatif. “Jadi ada transaksi swap, ada transaksi forward, ada transaksi future, itu adalah spekulatif alias gambling, alias judi. Sehingga akan meningkatkan yang namanya ketidakpastian (uncertainty),” jelasnya.

Bayangkan, kalau nilai tukar itu tidak pasti, lanjutnya, transaksi jual beli ekspor dan impor akan sulit dalam menentukan nilai patokannya. Menurutnya, bagi eksportir, jika dolar itu naik itu akan menguntungkan, tapi bagi importir itu merugikan.

Pengurangan Ketergantungan Dolar

Hatta mengungkapkan sudah banyak negara yang mencari cara bagaimana mengurangi ketergantungan pada dolar. Kemudian, muncul ide menggunakan Local Currency Transaction (LCT). “Jadi transaksi menggunakan mata uang lokal,” ujarnya.

Hal Itulah menurutnya yang membuat Amerika Serikat marah, karena selain berdampak kepada berkurangnya pendapatan Visa Mastercard hal ini juga mengurangi penggunaan dolar.

“Pengurangan penggunaan dolar tentu akan mengurangi makan siang gratisnya Paman Sam,” sebutnya.

Mata Uang BRICS

Hatta juga menyebutkan ada wacana penggunaan mata uang BRICS. Namun, masalahnya adalah siapa yang akan menanggung jaminan mata uang BRICS (Brazil, Rusia, India, China, South Africa) itu nantinya. “Sebab mau tidak mau itu harus ada bandarnya lah,” sambungnya.

Ia menuturkan, bandar Euro itu sebenarnya adalah Jerman dan Prancis. “Inggris ke mana? Inggris enggak mau tuh, pasalnya Inggris paham itu jebakan. Sebenarnya mereka ingin bersatu, tapi kalau bersatunya masih ada batasan-batasan yang tidak bisa dilampaui oleh Inggris, itu adalah jebakan bagi Inggris,” jelasnya.

Hatta mengkritisi mengapa rezim saat ini malah ingin menggunakan mata uang BRICS. “Dalam konteks sekarang itu kalau kita serahkan kepada orang lain itu seperti menyerahkan leher kita kepada orang lain,” tegasnya.

Ia menambahkan, jika uang itu dibuat oleh orang lain, dikendalikan orang lain, artinya mereka bisa mengendalikan ekonomi negara ini.

Sistem Mata Uang Emas dan Perak

Sedangkan sistem mata uang emas dan perak, menurut Hatta, tidak bisa menggunakan sistem fiskal moneter yang kapitalistik.

Ia menyebutkan, sistem mata uang emas dan perak hanya bisa digunakan sistem fiskal moneter syariah. Sistem fiskal moneter syariah ini punya instrumen, punya caranya.

“Jadi ketika ingin mengakselerasi, kemudian mendorong ekonomi, menyelesaikan persoalan pengangguran itu tidak dengan mencetak uang. Namun dengan cara menjaga distribusi uang,” ujarnya.

Lebih lanjut ia menyatakan, penyelesaian masalah bukan dengan sistem perbankan, tetapi dengan sistem bagi hasil. Sebab, menurutnya, sistem perbankan yang bermodel kapitalistik sekarang itu hanya akan menyebabkan mata uang menumpuk pada orang-orang tertentu saja.

“Data dari LPS, Indonesia tahun 2025 ini bulan Agustus, segelintir orang menguasai 70% uang di seluruh bank Indonesia dan itu jumlah rekeningnya tidak mencapai 1% dari sekitar 400 juta rekening seluruh bank di Indonesia,” ungkapnya.

“Bayangkan, mengerikan sekali,” tegasnya. Hatta menilai, itulah yang terjadi di sistem perbankan sekarang.[] Muhammad Nur

Loading

Views: 27

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA