Tinta Media – Kasus penyerbuan militer Amerika Serikat (AS) ke Venezuela yang berujung pada penangkapan Presiden Nicolás Maduro sejatinya tidaklah mengejutkan.
Peristiwa ini bukan penyimpangan dari nilai-nilai ideologis kapitalisme Barat, bukan pula kesalahan kebijakan sesaat. Sebaliknya, ia merupakan manifestasi paling telanjang dari ideologi kapitalisme yang diemban AS, yang secara metodologis dijalankan melalui imperialisme (penjajahan).
Apa yang dilakukan AS hanyalah pengulangan pola lama: negara kapitalis kuat menundukkan negara lain demi kepentingan ekonomi, politik, dan strategis, tanpa peduli kedaulatan, hukum internasional, maupun nilai kemanusiaan.
Kapitalisme: Ideologi yang Melahirkan Imperialisme
Kapitalisme bukan sekadar sistem ekonomi pasar bebas. Ia adalah ideologi hidup yang berakar pada akidah sekularisme yang memisahkan agama dari kehidupan. Dalam ideologi ini, tidak ada standar halal-haram, benar-salah menurut wahyu. Yang ada hanyalah kepentingan (interest) dan keuntungan (profit).
Ketika kepentingan kapital terancam, maka segala cara dianggap sah. Dari sinilah imperialisme lahir sebagai metode operasional kapitalisme global. Bentuk penjajahannya tidak lagi selalu berbentuk pendudukan langsung sebagaimana era kolonial klasik, tetapi tampil dalam wajah modern melalui intervensi militer, sanksi ekonomi, penggulingan rezim, kriminalisasi pemimpin negara, hingga penguasaan sumber daya alam secara paksa. Venezuela adalah contoh paling nyata dari praktik ini.
Venezuela Korban Pemaksaan Kehendak Kapitalisme Global
Venezuela bukan negara kecil tanpa arti. Ia memiliki salah satu cadangan minyak terbesar di dunia Dalam logika kapitalisme, sumber daya alam strategis semacam ini tidak boleh berada di luar kendali kekuatan kapital global.
Masalah utama Venezuela di mata AS bukanlah demokrasi, HAM, atau narkotika sebagaimana narasi yang selalu dijadikan pembenaran moral. Masalah sesungguhnya adalah Venezuela menolak tunduk sepenuhnya pada kepentingan kapitalisme global pimpinan AS dan korporasi minyak raksasa Barat.
Ketika tekanan ekonomi, sanksi, dan perang opini tidak lagi efektif, maka opsi kekerasan menjadi pilihan. Penyerbuan militer dan penangkapan presiden negara berdaulat menunjukkan bahwa kapitalisme tidak pernah ragu menggunakan senjata untuk memaksakan kehendaknya.
Hukum Internasional: Tak Berlaku bagi Adidaya Imperialis
AS sering mengklaim diri sebagai penjaga tatanan dunia dan hukum internasional. Namun kasus Venezuela kembali membuktikan bahwa hukum internasional hanya berlaku bagi negara lemah, bukan bagi negara adidaya imperialis.
Tanpa mandat PBB, tanpa agresi langsung dari Venezuela, AS melakukan intervensi militer dan menculik kepala negara. Ini adalah pelanggaran terang-terangan terhadap kedaulatan, tetapi dunia kapitalis Barat justru berusaha membungkusnya dengan istilah “penegakan hukum” dan “stabilitas regional”.
Dalam Islam, tindakan semacam ini jelas merupakan kezaliman internasional (ẓulm dawli) atau kezaliman yang dilakukan oleh negara kuat terhadap negara lemah.
Allah SWT dengan tegas mengharamkan kezaliman dalam bentuk apa pun:
“Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya Aku telah mengharamkan kezaliman atas diri-Ku dan Aku jadikan kezaliman itu haram di antara kalian.” (HR. Muslim)
Imperialisme Bukan Kesalahan Oknum, tapi Sistem
Penting dipahami bahwa tindakan AS ini bukan sekadar ulah presiden tertentu, bukan pula sekadar kebijakan satu partai politik. Siapa pun presidennya, selama ideologi yang diemban adalah kapitalisme, maka imperialisme akan tetap menjadi metodenya.
Sejarah panjang AS di Afghanistan, Irak, Libya, Suriah, Palestina, hingga Amerika Latin membuktikan satu hal: kapitalisme selalu membutuhkan penjajahan untuk memuaskan hawa nafsu duniawinya.
Dan tanpa akses paksa terhadap sumber daya negara lain, kapitalisme global akan runtuh oleh krisis internalnya sendiri.
Islam: Ideologi Rahmatan Lil ‘Aalamiin
Berbeda dengan kapitalisme, Islam datang sebagai ideologi rahmatan lil ‘alamin, yang menjadikan keadilan sebagai asas hubungan internasional. Islam mengharamkan agresi, penjajahan, dan perampasan hak bangsa lain.
Dalam sistem Islam (Khilafah), hubungan antarnegara dibangun di atas: penghormatan terhadap kedaulatan, larangan eksploitasi sumber daya secara zalim, dan penyelesaian konflik berdasarkan hukum syariat, bukan hukum rimba.
Islam tidak menjadikan kekuatan militer sebagai alat dominasi, melainkan pelindung keadilan dan penjaga keamanan umat manusia.
Pelajaran bagi Umat Islam
Kasus Venezuela seharusnya membuka mata umat Islam bahwa:
Pertama, kapitalisme global adalah ancaman nyata bagi kedaulatan bangsa-bangsa.
Kedua, negara lemah akan selalu menjadi korban selama tatanan dunia kapitalis bercokol.
Ketiga, umat Islam tidak boleh berharap keadilan dari sistem yang akarnya adalah kezaliman.
Sudah saatnya umat Islam berhenti bersikap netral terhadap kejahatan global. Netralitas dalam menghadapi penjajahan adalah bentuk pembiaran terhadap kezaliman.
Bukan Sesuatu yang Mengejutkan
Penyerbuan AS ke Venezuela bukan kejutan. Ia adalah imperialisme sebagai konsekuensi logis dari ideologi kapitalisme yang diemban AS. Selama dunia tunduk pada sistem kapitalisme ini, tragedi serupa akan terus berulang dengan korban yang berganti-ganti.
Hanya dengan perubahan sistemik, yakni mengganti kapitalisme dengan sistem Islam (Khilafah Islamiyah) yang adil dan beradab, dunia dapat keluar dari lingkaran penjajahan modern.
Kesimpulannya adalah, “Kapitalisme melahirkan imperialisme. Imperialisme melahirkan kezaliman. Dan Islam datang untuk menyingkirkannya keduanya dari muka bumi”.
Oleh: Muhar
Tim Redaksi Tinta Media
![]()
Views: 42
















