Tinta Media – Lagi-lagi skandal pelecehan verbal mengguncang dunia akademik pertiwi. Pelecehan ini melibatkan banyak mahasiswa di berbagai perguruan tinggi ternama, Indonesia.
Pertama, 16 mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FH UI) terbukti menggunakan grup WhatsApp sebagai wadah untuk saling mengirimkan komentar cabul dan melakukan objektifikasi terhadap tubuh perempuan. Miris, sasarannya bukan hanya mahasiswi, melainkan juga merendahkan martabat dosen.
Lebih memilukan lagi, mayoritas pelaku bukan mahasiswa biasa — mereka adalah pimpinan organisasi kemahasiswaan, ketua angkatan, calon panitia ospek, bahkan anak pejabat.
Kedua, nyanyian berjudul “Erika” viral karena frasa-frasa dalam setiap liriknya bermuatan pelecehan seksual. Nyanyian ini, bernuansa orkes semi dangdut yang dinyanyikan oleh Himpunan Mahasiswa Tambang (HMT) Institut Teknologi Bandung (ITB).
Yang bikin geleng-geleng lagi, video tersebut ternyata video lama — tahun 2020. (detiknews, 16/4/2026)
Ketiga, skandal pelecehan ini juga menyeret guru besar UNPAD. Memalukan! Isu ini mencuat usai korban berani speak up di media sosial. Sosok berpendidikan dan berseragam jubah akademik justru tindakannya lebih rendah dari binatang. Isi kepalanya harusnya mencerminkan intelektualnya, bukan “minta foto bikini mahasiswinya” miris bin kronis.
Keempat, Universitas IPB juga kesandung skandal pelecehan terhadap perempuan. Senada dengan kasus di ITB, ternyata ini skandal lama di tahun 2024. Korban berani memviralkan usai beredarnya skandal yang serupa di media sosial.
Tentu amarah publik kian memuncak. Deretan skandal ini menyadarkan publik, jika universitas terbaik di Indonesia telah mencerminkan kegagalan negara — mewujudkan insan yang berilmu dan bertakwa. Berilmu memang harus disandingkan dengan takwa, ilmu tanpa takwa tentu rawan tindak kriminal dan penyimpangan. Bukankah dalam agama Islam juga diajarkan adab sebelum ilmu? Ilmu tanpa adab bisa menjadikan manusia seperti binatang.
Pemisahan Agama: Sekularisme
Seluruh tindak penyimpangan, berawal dari skema pemisahan peran agama dalam mengatur aktivitas kehidupan. Bukan rahasia publik, jika memisahkan agama dari pendidikan mampu menghasilkan krisis moralitas, tak beradab, bahkan lebih biadab dari binatang.
Banyak rumor yang beredar jika objek pelecehan verbal juga menyasar saudara kandung dan ibu kandung. Ini bukan sesederhana “lelaki tidak mampu menahan nafsu” atau “otak lelaki kotor” melainkan memang setiap insan mengalami kekosongan iman. Standarisasi manusia dalam melakukan aktivitas bukan “ridha Allah” tapi “kepentingan dan keuntungan” dua hal yang rawan ditunggangi nafsu. Ironis, nafsu susah dikendalikan tanpa peran agama. Pelan-pelan batas moral dan standar kebenaran sudah bergeser. Diam, senyap, tapi pergeseran itu pasti. Berharap apa jika pondasi hidup dilalaikan?
Kemudian, peran keluarga yang ikut andil dalam penyimpangan anak tercinta. Keluarga tidak berhasil menjadi tempat pulang, seringkali anak betah di luar karena pelarian. Lari dari tekanan, ekspetasi, dan keburukan orang tua. Dasar-dasar norma dan nilai tidak diterima anak di rumah. Anak didikte mampu berpikir dan menentukan standar kebenaran sendiri. Muncullah Habits buruk dari benteng utama — meskipun tidak semua anak tapi mayoritas mengalaminya.
Diperparah peran lingkungan yang toxic — teman nongkrong, tetangga, lingkungan kampus, dll. Budaya warga Indonesia adalah menormalisasi penyimpangan — pacaran, kumpul kebo, judol, pinjol, bullying, pelecehan verbal, dsb. Kerap kali lingkungan tak memberikan rasa aman. Mereka mendapat pembenaran akan tindak kemaksiatannya dari circle pertemanan — lingkungan.
Banyak sekali anak baik-baik tiba-tiba terkontaminasi pergaulan bebas dari teman nongkrong. Sejatinya, lingkungan adalah rahim kedua bagi pembentukan kepribadian anak-anak kita.
Semua merujuk pada pola pikir liberal (bebas) yang merebak ke lingkungan masyarakat. Sikap acuh tak acuh sudah mendarah daging. Normalisasi penyimpangan menjadi jalan tol kemunduran dan kemerosotan umat.
Peran pendidik yang terjerumus pada kobaran api kemaksiatan ini akibat peran negara yang musiman. Hancur sudah wibawa bangsa. Pergantian kurikulum nyatanya tidak mampu meningkatkan ketakwaan generasi bangsa. Papan catur ini, sudah merancang jika ketakwaan urusan individual. Sedangkan kecerdasan dan ketrampilan harus mampu berkontribusi untuk negara. Aturan mainnya memang di balik, sumbangsih pelajar dituntut tapi hak-hak dasar mereka diabaikan. Itulah kejamnya aturan manusia — sekularisme, kapitalisme, sosialisme, dan isme-isme lainnya.
Saatnya, pendidikan bermuara pada intelektual dan kepribadian. Bukan teori semata tapi realisasi yang nyata.
Islam Jalan Menuju iman
Islam satu-satunya agama yang memancarkan aturan kehidupan. Jika manusia bisa bikin undang-undang yang penuh revisian, Umat Islam punya Al-Qur’an. Murni dari Allah, dan jernih tanpa revisi dari pertama kali wahyu diturunkan sampai detik ini. Uniknya, Al-Qur’an masih relevan dengan problem kontemporer masa kini.
Al-Qur’an bukti pedoman hidup manusia, meskipun sering dipalingkan. Dalam Islam, Allah mengatur pergaulan laki-laki dan perempuan, mengatur ketentuan menutup aurat, bahkan memberikan batasan-batasan yang jelas, serta sanksi tegas bagi pelanggarnya.
Basis kurikulum Islam, akan menghasilkan generasi cerdas, terdidik, berdaya, dan bertakwa. Unsur utamanya adalah pola pikir dan pola sikap. Ketika seseorang pola pikirnya cabul pasti pola sikapnya cenderung mesum. Mustahil pikiran vulgar tapi pola sikap islami. Jadi pola pikir dan pola sikap harus balence. Pola pikir (aqliyah) Islam, pola sikap (nafsiyah) Islam, maka lahirlah kepribadian Islam (sakhsiyah islamiyah).
Konsekuensi orang beriman tapi bermaksiat adalah dosa. Sebab, barometer tingkah laku disandarkan pada ridho Allah. Jika halal dikerjakan tapi haram ditinggalkan.
Saatnya tiga elemen — keluarga, lingkungan, dan negara memiliki satu tujuan — menciptakan generasi bertakwa dan berilmu. Saling membahu dan menopang. Peran keluarga fokus pada penanaman akidah, peran lingkungan sebagai ajang amar makruf nahi mungkar, dan peran negara sebagai menerapkan syariat Islam. Tidak ada salah satu peran yang terlewatkan dan saling keterikatan.
Kenapa negara harus menerapkan syariat Islam? Karena hanya Islam lah yang mengatur seluruh kancah kehidupan secara sempurna dan fundamental — ibadah, pendidikan, pergaulan, sosial, ekonomi, kesehatan, politik, sanksi pidana, dsb.
Dalam kasus seperti ini, khalifah (pemimpin dalam sistem Islam) memberikan langkah strategis dan efektif. Sebab, Islam punya wasilah agar pelecehan seksual tidak terjadi. Contoh: Islam melarang berdua-duaan dengan lawan jenis tanpa mahram, menutup aurat, menjaga pandangan, tidak pacaran. Tidak ada celah untuk seorang pun sembrono terhadap kita.
Jika pelecehan sudah sampai zina, maka solusi strategis yang Islam tawarkan adalah cambuk bagi pezina belum menikah dan rajam bagi pezina yang sudah menikah.
Wallahu’alam bishowab.
Oleh: Novita Ratnasari, S. Ak.
Mentor Kelas Menulis Smart With Islam Karawang
![]()
Views: 2





