Hanafi Rais: Agama dan Kekuasaan Seperti Perang Saudara

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Pemerhati Politik Ahmad Hanafi Rais mengemukakan bahwa dalam perjalanan realitas kehidupan sekularisme saat ini, agama dan kekuasaan terlihat bukan lagi sebagai saudara kembar sebagaimana pandangan Islam yang dinyatakan oleh Imam Al- Ghazali, tetapi malah seperti perang saudara.

“Dalam perjalananannya, makin ke sini kan agama dan kekuasaan ternyata kelihatan bukan sebagai saudara kembar tapi malah seperti perang saudara,” ulasnya dalam Bincang Hangat: Islam dan Politik di kanal YouTube UIY Official, Ahad (3/5/2026).

Mengingat momen politik tahun 2007, ia menyampaikan bahwa Presiden Republik Indonesia (RI) ketika itu mengatakan agama dan kekuasaan harus dipisah.

“Artinya, ucapan presiden saat itu menegaskan bahwa ternyata orang yang paling berkuasa di negeri ini pahamnya sekuler, yaitu memisahkan agama dari politik dan memisahkan agama dari seluruh kehidupan,” cetusnya.

Jika memisahkan agama dari kehidupan, jelas Hanafi, itu artinya tidak pernah mau diatur dengan agama.

“Sementara kita sebagai Muslim dan sebagai seorang yang beriman itu terikat dengan segala aturan Allah serta segala hal yang berkaitan dengan syariat yang mengatur segalanya termasuk politik,” urainya.

Ia menandaskan, kalau mendalami Islam secara benar dari akidah yang tepat, kemudian taat syariat yang sudah ditetapkan, maka mau tidak mau ketika mengurusi politik harus dengan apa yang sudah disyariatkan Allah SWT.

“Saya kira fenomena dari pilpres ke pilpres termasuk yang terakhir kemarin itu membuat kita memang harus me- review besar-besaran pandangan kita tentang politik, terutama yang paling dasar terkait soal kedaulatan,” imbuhnya.

Ketika meyakini kedaulatan di tangan rakyat, lanjutnya, rakyat diminta sebagai pembuat hukum tertinggi yang kemudian diyakini akan menentukan segalanya. “Bahkan ada yang mengatakan kalau rakyat sudah memilih berarti itu adalah suara Tuhan,” sesalnya.

Ia lantas menyampaikan pengalamannya yang pernah me- review pemahaman Islamnya hingga akhirnya mengenal Islam yang lebih menyeluruh, sehingga menjadikan dirinya mengetahui tentang syariat ketika dipraktikkan dengan memahami Al-Qur’an Surat Al-Maidah ayat 44, 45, dan 47.

“Dengan memahami ayat-ayat tersebut akan memahami bahwa kedaulatan hanya dengan hukum Allah. Putuskanlah perkara apapun di antara kalian itu ya.. hanya dengan hukum Allah. Artinya, kedaulatan pembuat hukum tertinggi adalah syariat bukan rakyat,” bebernya.

Hanafi menerangkan, jika yang paling dasar dalam politik soal kedaulatan saja salah memaknai atau mengartikan, maka pasti turunannya menjadi kacau-balau.

Menurutnya, kebenaran akan menjadi relatif jika didasarkan pada manusia atau rakyat. Sementara Allah sudah memerintahkan untuk berhukum dengan hukum-Nya sebagaimana yang termaktub dalam ayat Surat Al Maidah tersebut.

“Saya kira merupakan momentum yang bagus jika di bulan Ramadhan tidak hanya memperbaiki salat dan puasa, tapi juga mengubah pandangan hidup kita tentang kedaulatan, karena juga bagian dari ketaatan,” tutupnya.[] Erlina

Loading

Views: 15

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA