Tinta Media – Menanggapi Pernyataan Sikap Himpunan Mahasiswa Tambang Institut Teknologi Bandung (HMT ITB), terkait beredarnya video lagu “Erika” yang berisi lirik porno, Jurnalis Senior Joko Prasetyo (Om Joy) mengingatkan pernyataan sikap seperti ini jauh lebih berbahaya daripada lirik lagu itu sendiri.
“Pernyataan sikap seperti ini jauh lebih berbahaya daripada lirik lagu itu sendiri,” ujarnya kepada Tinta Media, Jumat (17/4/2026).
Dalam pernyataan itu, jelas Om Joy, disebutkan bahwa praktik tersebut sudah ada sejak 1980-an, dan pada masanya “tidak dianggap melanggar norma sosial.” Lalu hari ini dinilai sebagai “kelalaian” karena tidak mengikuti perkembangan norma.
Pertanyaannya, sambung Om Joy, apakah sesuatu menjadi salah baru sekarang? Atau sebenarnya sudah salah sejak dulu, hanya saja dulu dianggap biasa?
Kalau jawabannya: dulu tidak masalah, sekarang baru masalah, maka menurut Om Joy jelas yang berubah bukan perbuatannya, tapi standarnya.
“Dan di sinilah letak kegentingannya. Karena itu berarti: kebenaran tidak berdiri sendiri; kebenaran menunggu pengakuan sosial; dan kebenaran lahir dari opini, bukan dari prinsip,” kritiknya.
Ia melanjutkan, hari ini publik menolak, maka disebut kelalaian. Namun kalau video itu tidak pernah viral di 2026, apakah akan tetap dianggap “tradisi” seperti sejak 1980-an?
“Ini bukan lagi soal satu acara. Ini soal ketergantungan pada momentum, bukan pada kebenaran,” tegasnya kembali mengkritik.
Tidak Menceritakan Nilai Akademik
Lalu, sambung Om Joy, masuk ke pernyataan berikutnya: ‘tidak mencerminkan nilai akademik’
“Pertanyaan yang sama harus diajukan: Sejak kapan nilai akademik menganggap itu bermasalah? Sejak 1980-an? Tidak. Itu justru dibiarkan, bahkan diwariskan. Sejak sebelum viral? Tidak ada tanda-tanda itu dikoreksi. Atau sejak 2026, ketika potongan video tersebar dan publik bereaksi?” sesalnya.
Kalau jawabannya sejak 2026, tegasnya, maka sekali lagi: Standarnya bukan nilai tapi tekanan. Nilai akademik dalam hal ini bukan kompas moral. Hanya menjadi cermin dari apa yang sedang dianggap aman secara sosial. Padahal kebenaran tidak menunggu viral.
“Inilah akar persoalan yang lebih dalam. Ketika standar kebenaran tidak bersumber dari sesuatu yang tetap, maka akan berubah mengikuti zaman, bergeser mengikuti opini, dan tunduk pada tekanan,” tandasnya.
Hari ini, kata Om Joy, sesuatu dianggap tidak pantas. Besok, bisa saja dianggap ekspresi seni. Lusa, bisa dilegalkan atas nama kebebasan. Tanpa fondasi yang kokoh, semua hanya soal waktu.
“Islam datang justru untuk memutus ketidakjelasan ini. Dalam Islam: aurat tetap aurat, sejak dulu hingga sekarang. Kehormatan tetap harus dijaga, dalam kondisi apa pun. Yang merendahkan martabat manusia tetap salah, meskipun ditertawakan banyak orang. Tidak menunggu 1980, tidak menunggu 2026, tidak menunggu viral. Standarnya tetap. Karena sumbernya tetap,” jelasnya.
Maka, simpul Om Joy, masalah sebenarnya bukan pada satu pernyataan sikap. Namun pada cara berpikir yang melahirkannya.
Karena menurutnya, lagu bisa selesai, bisa hilang, bisa diganti. Namun cara pandang? Menetap. Diwariskan. Membentuk generasi.
Selama cara berpikirnya tetap sama—bahwa benar-salah ditentukan oleh norma sosial, citra institusi, dan tekanan publik—maka jangan heran jika “Erika-Erika” lain akan terus lahir. Bahkan bukan lagi sekadar lagu, tapi gaya hidup.
“Inilah buah dari sistem yang memisahkan nilai dari wahyu. Sistem pendidikan sekuler telah lama menanamkan bahwa moral adalah hasil kesepakatan, bukan ketetapan. Bahwa benar bisa dinegosiasikan, bukan ditaati. Dan kampus—yang seharusnya menjadi penjaga akal—justru ikut mewariskan kerancuan itu,” bebernya.
Lebih ironis lagi, tegas Om Joy, negeri ini sejak awal mengakui bahwa kemerdekaan adalah “berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa.” Namun dalam praktiknya, aturan-Nya malah diabaikan dalam mengatur kehidupan. Pengakuan ada. Namun penerapan ditinggalkan.
“Maka jangan heran jika standar kebenaran menjadi kabur. Ini bukan sekadar kritik. Ini peringatan. Selama akar persoalannya tidak dicabut—selama manusia masih merasa cukup dengan standar selain wahyu—maka problem serupa hanya akan berulang, dengan bentuk yang mungkin lebih parah,” tandasnya.
Sebelum semuanya semakin parah, Om Joy memungkasi, segeralah tegakkan khilafah untuk menerapkan syariat Islam secara kaffah. Sudah saatnya kembali kepada ukuran yang tidak berubah.
“Bukan apa kata publik. Bukan apa kata zaman. Namun apa yang Allah tetapkan. Di situlah kebenaran tidak pernah goyah,” pungkasnya.[] ‘Aziimatul Azka
![]()
Views: 8





