Tinta Media – Belakangan ini masyarakat dibuat tidak nyaman dengan adanya pemadaman listrik yang hampir setiap hari terjadi.
Darmawan Prasodjo selaku Direktur Utama PLN mengakui bahwa penyebab pemadaman listrik ini adalah berkurangnya pasokan batu bara ke PLTU. Hal tersebut terjadi karena produsen enggan menjual batu bara kepada PLN akibat selisih harga dengan pasar global yang sangat jauh, sehingga lebih menguntungkan jika dijual ke pasar global (BBC News Indonesia, 22/6/2026).
Masyarakat, terutama para pelaku usaha, menjerit dan merasa kesal karena listrik sering padam hingga berjam-jam. Kondisi ini sangat berdampak pada usaha mereka yang mengalami kerugian karena tidak dapat beroperasi secara optimal.
Sungguh ironis, negeri kita memiliki cadangan batu bara yang melimpah, tetapi rakyatnya mengalami krisis listrik. Lantas, apakah slogan “Listrik untuk Semua” sudah tepat? Sebab, realitasnya rakyat belum menikmati manfaat optimal dari hasil bumi yang melimpah tersebut.
Kapitalisme Sumber Masalah
Segelintir oligarki telah menguasai bisnis pertambangan di negeri ini sehingga kekayaan alam yang melimpah hanya dinikmati oleh mereka. Energi yang seharusnya menjadi milik rakyat dan dikelola untuk memenuhi hajat hidup bersama justru dijadikan ladang bisnis untuk meraup keuntungan segelintir pemilik modal. Lagi-lagi rakyat menjadi korban karena harus membayar mahal, tetapi masih menghadapi layanan listrik yang sering padam.
Sistem kapitalisme yang dianut saat ini membuat pengelolaan tambang atau sumber energi diserahkan kepada korporasi swasta. Akibatnya, negara tidak berdaya mengatur pengelolaannya. Negara hanya hadir sebagai regulator yang membuat aturan, bukan sebagai eksekutor atau pelaksana.
Seharusnya negara dapat lebih tegas kepada korporasi swasta yang mengelola tambang dengan mewajibkan mereka memenuhi kebutuhan dalam negeri terlebih dahulu sebelum menjualnya ke pasar global. Namun, nyatanya negara tidak berdaya dan justru mengikuti kemauan mereka. Alhasil, rakyat hanya menikmati remah-remah sisa dari korporasi swasta. Inilah bukti bahwa dalam sistem kapitalisme negara bukan sebagai raa’in (pengurus) rakyat yang hakiki.
Sumber Energi dalam Pandangan Islam
Islam memiliki pandangan yang jelas mengenai persoalan energi. Tambang batu bara sebagai pemasok energi listrik termasuk dalam kepemilikan umum (milkiyah ‘ammah), sehingga pengelolaannya harus dilakukan oleh negara dan tidak boleh diserahkan kepada korporasi swasta. Hasilnya dikelola negara untuk kesejahteraan rakyat, berupa listrik yang murah, bahkan dapat diberikan secara gratis apabila sumber dayanya melimpah. Oleh karena itu, pengelolaan kepemilikan umum tidak boleh diserahkan kepada korporasi swasta atau oligarki.
Sumber daya alam merupakan titipan Allah, bukan hak milik segelintir orang. Al-Qur’an dengan tegas menyatakan dalam QS Al-Baqarah ayat 29: “Dialah (Allah) yang menciptakan segala apa yang ada di bumi untukmu.”
Artinya, segala yang ada di bumi diperuntukkan bagi seluruh manusia, bukan hanya bagi pemilik tambang.
Rasulullah saw. bersabda: “Kaum muslimin berserikat dalam tiga hal: air, padang rumput, dan api.” (HR Abu Dawud)
Menurut pandangan ini, batu bara sebagai sumber energi listrik termasuk dalam kategori “api”, yaitu sumber energi yang menjadi kepemilikan bersama. Karena itu, penguasaannya tidak boleh diserahkan kepada swasta.
Inilah saatnya kita menyadari bahwa akar persoalan karut-marut kelistrikan di negeri ini adalah diterapkannya sistem kapitalisme yang memberi peluang kepada para pemilik modal besar untuk mengelola sumber daya alam. Hanya dengan penerapan syariat Islam dan kembali kepada aturan Allah Swt. negara dapat berdaulat serta mandiri dalam mengelola sumber daya alam. Dengan demikian, slogan “Listrik untuk Semua” dapat benar-benar terwujud.[]
Oleh: Rini Rahayu
Aktivis Muslimah Yogyakarta
![]()
Views: 3







