Pamong Institute: Kenapa Nasib Rakyat Indonesia Tergantung dengan Dolar?

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Direktur Pamong Institute Wahyudi Al-Maroky membeberkan penyebab kenapa nasib perekonomian rakyat Indonesia tergantung terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

“Rupiah melemah tembus 17.000 rupiah per dolar AS. Artinya harga-harga naik dan juga rakyat makin tercekik. Tercekik karena harga naik, juga tercekik dengan naiknya pajak. Sementara kerja makin susah, PHK di mana-mana. Pertanyaan kritisnya, kenapa nasib 280 juta rakyat kita sangat tergantung dengan kualitas dolar?” ujarnya melalui video di akun Tiktok @wahyudi_almaroky, Sabtu (9/1/2026).

Menurutnya, jika diteliti dan ditelusuri hal ini terjadi karena Indonesia menggunakan sistem kapitalisme global yang saat ini dipimpin oleh Amerika Serikat.

“Ya, kalau kita urut-urut, ya karena negara kita menggunakan sistem kapitalisme global yang tunduk dengan penggunaan mata uang dolar. Impor pakai dolar, utang bayar pakai dolar, beli alat-alat pertanian dan impor lainnya pakai dolar, semua pakai dolar,” bebernya.

Artinya, Wahyudi lanjut menjelaskan, kalau dolar AS menguat maka harga barang-barang tersebut juga naik. Dan risikonya, maka rakyat juga harus membayar lebih mahal.

“Selain harga-harga mahal, beban negara juga makin besar karena bunga utangnya juga akan maksimum bengkak. Dan siapa yang menanggung? Lagi-lagi rakyat yang harus dibebani dengan pajak dan utang (atas nama rakyat),” bebernya lagi.

Ia lanjut mengungkapkan, masalah Indonesia sebenarnya bukan hanya pada rupiah yang melemah. Akan tetapi, lebih dari itu sesungguhnya Indonesia telah terjebak dalam sistem kapitalisme global yang dengan menggunakan mata uang dolarnya untuk mengontrol ekonomi dunia agar tetap berada di bawah kendali atau dominasi AS.

“Padahal kita negara yang sangat kaya, kaya sumber daya alam. Emas kita ada, minyak kita ada, sawit kita punya, hutan kita punya, tapi kita masih tunduk dengan dolar,” ungkapnya.

Wahyudi pun menyatakan, sudah ada negara-negara yang mencoba untuk melawan tidak menggunakan dolar seperti China, Rusia, dan juga beberapa negara BRICS lainnya yang mulai menggunakan mata uang lokal. Dan ini, menurutnya adalah kabar baik.

“Tentu kita juga harus berpikir, apakah kita tidak menggunakan mata uang yang lebih kuat dan lebih stabil? Misalnya dengan menggunakan mata uang emas,” pungkasnya. [] Muhar

https://vt.tiktok.com/ZS9W8665H/

Loading

Views: 1

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA