Bicara Istiqamah, Kiai Labib: Butuh Peran Negara

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Ulama KH. Rokhmat S. Labib menilai istiqamah atau keteguhan dalam ketakwaan tidak bisa hanya diserahkan kepada individu, tetapi membutuhkan peran negara dalam menjaganya.

“Jadi memang kalau kita bicara istiqamah ini gak bisa diserahkan juga kepada individu, harus negara yang melakukan,” nilainya dalam video Istiqamah di Tengah Godaan, di kanal YouTube @RokhmatSLabib, Kamis (7/5/2026).

Ia membeberkan fenomena di dalam khutbah shalat Jumat, umat Islam selalu diseru untuk bertakwa kepada Allah SWT. Namun, setelah keluar dari masjid, masyarakat justru dihadapkan pada berbagai kemaksiatan dan sistem yang tidak mendukung ketaatan.

“Begitu keluar dari masjid apa yang dilihat? Kemaksiatan, temannya korupsi, kemudian sistem yang berlaku juga bukan sistem yang membuat dia taat, kalau dia hakim dia memutuskan dengan hukum selain Allah SWT, dan seterusnya dan seterusnya,” bebernya.

Menurutnya, dalam kondisi seperti itu diperlukan sikap istiqamah yang kuat. “Tentu kita tidak bisa mengatakan dan tidak boleh mengatakan wah (salah) negaranya wajarlah kita bisa begini. Gak! Justru kita berjuang untuk mengubah negara yang menjaga orang istiqamah,” terangnya.

Pasalnya, ia menambahkan bahwa pembahasan tentang istiqamah tidak hanya menyangkut diri sendiri, tetapi juga bagaimana masyarakat luas dapat tetap berada dalam keimanan dan ketakwaan.

“Kita tidak hanya berbicara tentang istiqamah diri kita, tapi kita juga berbicara bagaimana orang lain istiqamah,” jelasnya.

Kiai Labib menegaskan, ini lebih dahsyat lagi. Maka terciptanya masyarakat yang beriman dan istiqamah membutuhkan peran negara yang memberikan jaminan dan perlindungan terhadap ketakwaan masyarakat.

“Caranya apa? Caranya itu (negara) melarang berbagai macam kemaksiatan,” ujarnya.

Ia kemudian menyinggung keluhan kondisi masyarakat yang dinilainya semakin sulit memperoleh penghasilan halal dengan maraknya perekonomian riba dan lain sebagainya.

“Kalau misalnya sekarang kan udah ada orang mengeluh. Apa keluhannya? Keluhannya itu kan jangankan yang halal, yang haram saja sulit. Maksudnya yang halal itu sulit dicari. Penghasilan itu yang ada itu haram, haram, haram. Itu pun susah dicari. Iya, jadi yang haramnya saja susah, apalagi yang halal gitu loh,” ungkapnya.

Oleh karena itu, apabila negara melarang seluruh praktik yang diharamkan Islam, maka menurutnya masyarakat akan lebih mudah menjalani kehidupan yang halal.

“Nah, sekarang coba bayangkan kalau negara itu melarang semua yang haram. Sing riba dilarang, judi dilarang, suap menyuap dilarang, segala muamalah yang dilarang Islam dilarang oleh negara. Pelakunya ditangkap dan dihukum (Islam). Apa yang terjadi? Enggak ada orang judi, enggak ada orang suap-menyuap, enggak ada orang minum khamer, enggak ada orang yang menjual yang halal haram-haram tadi termasuk riba,” paparnya.

“Apa yang terjadi? Jadi betul-betul sulit mencari yang haram. Yang ada kok halal, kok halal, kok halal, semuanya halal,” ujarnya.

Di akhir penjelasannya, ia menekankan, pentingnya menjelaskan kepada umat tentang bentuk negara yang dinilainya mampu melahirkan masyarakat istiqamah.

“Nah, jadi begitu. Ini kalau kita pikir ini juga kadang-kadang perlu juga kita menjelaskan istiqamah ini bukan sekadar bagaimana kita secara pribadi istiqamah, tapi kita juga menjelaskan kepada umat bagaimana bentuk negara yang negara itu melahirkan orang-orang istiqamah,” tutupnya. [] Muhar

Loading

Views: 3

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA