Timur Tengah Memanas, Harga Minyak Naik Tanpa Batas, Islamlah Solusi Tuntas

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Konflik di Timur Tengah, terutama ketegangan antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat, telah membawa dunia ke ambang krisis energi. Salah satu titik paling krusial adalah Selat Hormuz. Jalur ini merupakan urat nadi perdagangan global, tempat sekitar 20% pasokan minyak dunia melintas setiap harinya. Gertakan Iran untuk menutup jalur ini—meski bersifat tarik ulur—terbukti mampu mengguncang stabilitas harga minyak mentah internasional.

Dampaknya bagi Indonesia sangat terasa. Berdasarkan data terkini, lonjakan harga minyak dunia memberikan tekanan berat pada fiskal negara. Sebagai negara net importer minyak, kenaikan harga ini memaksa pemerintah menanggung beban subsidi dan kompensasi energi yang membengkak. Hal ini mengancam ketahanan APBN dan berisiko memicu kenaikan harga barang kebutuhan pokok di dalam negeri, yang pada akhirnya memukul daya beli masyarakat kecil.

*Ironi Negeri Kaya di Tengah Hegemoni Global*

Sungguh sebuah ironi yang nyata. Indonesia, yang memiliki sejarah sebagai penghasil minyak, justru terjebak dalam ketergantungan impor. Indonesia mengekspor minyak mentah, namun harus mengimpor kembali produk olahan (BBM) dengan harga yang jauh lebih mahal. Alasan “tidak mampu mengolah sendiri” sebenarnya hanyalah tabir. Faktanya, banyak peneliti dan inovator lokal yang mampu menciptakan teknologi pengolahan, namun mereka belum difasilitasi secara serius oleh negara.

Hal ini berkaitan erat dengan arah pendidikan kita yang semakin kehilangan orientasi. Potensi besar generasi muda justru “terbajak” oleh arus hiburan dan gaya hidup konsumtif, alih-alih diarahkan untuk menguasai sains dan teknologi demi kemandirian bangsa.

Di sisi lain, posisi strategis Selat Hormuz dan kekayaan sumber daya alam (SDA) di negeri-negeri Muslim seharusnya menjadi posisi tawar (bargaining power) yang luar biasa. Namun, saat ini kaum Muslim masih “terjajah” secara ekonomi. Kekayaan minerba yang melimpah tidak mampu menyejahterakan umat karena dikelola dengan paradigma kapitalisme liberal.

Penyebab utamanya adalah ketiadaan persatuan. Umat Islam terpecah-pecah dalam sekat-sekat nasionalisme (seperti Iran dengan identitas Persianya atau negeri lain dengan kepentingan domestiknya), sehingga jumlah kaum Muslim yang banyak hanya bagai buih di lautan. Kondisi inilah yang memudahkan musuh-musuh Islam melakukan hegemoni.

*Kembali ke Syariah dan Khilafah*

Kondisi ini harus menjadi momentum bagi umat untuk menyadari bahwa kaum Muslim dunia masih memiliki kekuatan untuk bangkit dan mengubah dunia melalui Islam. Kebangkitan kaum Muslim akan tercipta jika pengelolaan minyak (ekonomi), pemerintahan, politik, pertahanan dan keamanan, dan lain-lain dikembalikan pada aturan Sang Pencipta. Dalam Islam, kekayaan alam yang jumlahnya melimpah dikategorikan sebagai kepemilikan umum (al-milkiyah al-ammah).

Rasulullah saw. bersabda:

“Kaum Muslim berserikat dalam tiga perkara: padang rumput, air, dan api.” (HR Abu Dawud dan Ahmad)

Hadis ini secara tegas menyatakan bahwa energi (termasuk minyak dan minerba) adalah milik rakyat yang harus dikelola oleh negara dan hasilnya dikembalikan untuk kesejahteraan rakyat, bukan diserahkan kepada korporasi swasta atau asing.

Penerapan aturan Sang Pencipta secara sempurna hanya bisa dilakukan melalui bingkai Khilafah. Melalui sistem Islam yang diterapkan oleh Khilafah, akan ada pengaturan sistem perekonomian secara Islam. Dalam Islam, konsep pengelolaan kekayaan alam adalah sebagai milik umum untuk kemaslahatan umat, bukan demi “cuan” segelintir elite.

Khilafah akan menciptakan sistem pendidikan berbasis akidah, yaitu mencetak SDM unggul yang bervisi luhur, menguasai teknologi untuk mengelola bumi demi ketaatan kepada Allah, bukan sekadar menjadi buruh bagi industri global.

Khilafah akan mampu menyatukan potensi negeri-negeri Muslim di bawah satu kepemimpinan global. Dengan satu komando, umat Islam bisa mengendalikan jalur perdagangan strategis dan sumber daya energinya sebagai alat untuk mewujudkan kewibawaan Islam di mata dunia.

Sudah saatnya umat melepaskan diri dari hegemoni kapitalis-liberalisme dan kembali pada syariat-Nya yang kafah. Hanya dengan sistem Islam, wajah kaum Muslim yang muram akan berubah menjadi berwibawa, mandiri, dan sejahtera. Wallahu a’lam bish-shawab.

Oleh: Verdina Parasmita
Pemerhati Pendidikan dan Generasi

Loading

Views: 4

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA