Tinta Media – “Mungkin benar apa yang dibilang ayahnya Syaputri. Syu’ur jama’i kita itu kurang,” ucap lelaki yang hendak memandikan anak-anaknya.
Dialah suamiku, memiliki nama lengkap Ahmad Riyanto, yang terlahir 47 tahun yang lalu. Saat ini mungkin ada di titik rapuh.
Betapa tidak, situasi perekonomian Indonesia yang mencapai rekor terendah, rupiah anjlok, dolar terus melambung, ternyata sangat berdampaknya dalam kehidupannya.
Sebagai karyawan di salah satu perusahaan galangan kapal, PT. KTU Shipyard, Tanjung Riau, Batam, peraturan terbaru tidak boleh lagi ada aktivitas lembur. Otomatis berdampak pada pendapatan bulanan yang diperoleh. Sehingga ada hal-hal yang mesti diefisiensikan. Termasuk keberangkatan anaknya untuk melanjutkan kuliah tertunda.
Belum lagi, ujian datang, orang tuaku (mertua suamiku) sedang sakit kronis. Obat yang dikonsumsi ternyata berpengaruh pada fungsi hati. Oleh karena saat ini harus mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit.
Suka atau tidak suka, mau atau tidak dialah satu-satunya orang yang harus berdiri di samping Pak siang dan malam. Karena aku sebagai anak satu-satunya juga tidak mungkin untuk berjaga. Anak-anak yang masih berusia di bawah 12 tahun tidak boleh masuk rumah sakit. Mereka juga enggak bisa jauh dari Bundanya.
Sehingga memaksa dia untuk izin tidak masuk kerja. Sampai kondisi Pak membaik. Berhubung jatah cuti juga tidak ada lagi. Sebagai konsekwensi dipotong gaji 350.000/hari.
Kemudian suasana rumah sakit yang membosankan. Kondisi Pak yang enggak bisa ditinggal, harus dipapah, tak ada saudara yang bisa diajak bergantian. Jelas kondisi ini cukup membuat dia merasa lemah dan terpuruk.
Bukan tidak mengimani takdir, sebagai manusia biasa, jelas dia merasa rapuh dan terpuruk. Lintasan-lintasan dari setan turut menggelayut. Merasa tak ada yang peduli, dan merasa tak berarti.
“Kenapa, Yah? Enggak ada yang nanya kabar Pak?” tanyaku menimpali. Aku bisa membaca alur pikiran suamiku. Wajar. 19 tahun sudah mengarungi bahtera rumah tangga. Sedikit banyak bisa memahami karakternya.
“Iya, termasuk saat Ayah meminta izin tidak halqoh pun, yang lain anteng (tenang) saja. Sampai hari ini satu-satunya orang yang bertanya adalah Pak Yus,” ucapnya sambil terkekeh.
“Tak apa, Ayah. Bunda dah belajar dari pengalaman sebelumnya. Saat Emak meninggal. Jadi, saat ini Bunda menyiapkan dan menata hati untuk belajar ikhlas. Tak butuh simpati dari sesama. Cukuplah Allah tempat kita bersandar dan memohon pertolongan,” ceramahku panjang lebar.
“Iya sih. Kalau Ayah insya Allah enggak lagi mempermasalahkan hal itu,” ucapnya tenang dan santai.
“Ayah ingat kasus pemuda Skupang yang tak lagi mau mengkaji? Salah satunya saat dia terpuruk, justru komunitas lain yang peduli,” sahutku kembali menambahkan fakta.
“Emang Ayahnya Syaputri pernah bercerita sama Ayah?” Tanyaku kembali.
“Enggak cerita secara langsung. Ayah dapat cerita dari yang lain. Dia mundur dari jamaah dakwah ini karena saat istrinya sakit, juga tak ada yang peduli,” jelasnya sambil memakaikan baju anak-anak yang sudah selesai dimandikan.
Saat libur dan saat di rumah, suamiku selalu sigap membantuku untuk mengurus anak-anak. Beliau adalah sosok yang penyayang terhadap istri dan anak-anaknya.
“Enggak apa-apa Yah, yang sabar! Apa pun yang terjadi ini adalah bagian dari qodho’. Tidak ada sesuatu yang Allah tetapkan atas hamba-Nya kecuali Allah menginginkan kebaikan. Seperti anak panah. Mungkin saat ini kita ditarik mundur, karena Allah SWT punya rencana agar kita bisa melesat jauh ke depan. Yakinlah. Bersama dengan kesulitan akan banyak kemudahan. Yang terpenting saat ini Pak mendapatkan perawatan terbaik dari rumah sakit. Alhamdulillah sejauh ini segala urusan Allah bantu dan diberikan kemudahan. Suster yang merawat pun baik juga. Ruangan nyaman. Dokternya juga ramah dan komunikatif. Alhamdulillahiladzi bini’matihi tatimmushalihat,” ceramahku panjang bak seorang motivator di ruang training motivasi.
Tidak ada jawaban lagi. Hanya anggukan kepala pertanda setuju.
Selesai
Oleh: Nur Salamah
Sahabat Feature News


![]()
Views: 5








