Tinta Media – Dikarenakan tertutupnya ruang untuk menyampaikan aspirasi kepada pemerintah ataupun kepada lembaga perwakilan, aspirasi rakyat nyaris tidak memiliki saluran. Rakyat dibungkam sehingga aspirasi menemui jalan buntu. Itulah yang menjadi penyebab para mahasiswa dari berbagai universitas turun ke jalan sebagai bentuk kontrol sosial. Mereka menilai berbagai kebijakan yang dikeluarkan pemerintah tidak berpihak kepada rakyat, terjadi pelanggaran hukum, serta adanya kesewenang-wenangan dalam memanfaatkan kekuasaan. Aksi demonstrasi mahasiswa mengingatkan para penguasa agar mempergunakan jabatannya sebagai amanah bagi rakyat, karena hakikatnya rakyat adalah pihak yang harus dilayani.
Rakyat bukan musuh. Hubungan antara penguasa dan rakyat seharusnya harmonis agar tidak terjadi demonstrasi. Namun, saat ini hubungan tersebut dinilai terlalu dipengaruhi oleh kepentingan yang bersifat sesaat dan tidak berlandaskan syariat. Setiap kebijakan harus diterima oleh rakyat dengan berbagai cara demi mempertahankan kepentingan dan kewenangan penguasa. Suara rakyat tidak lagi dihiraukan, sekalipun mayoritas menolak. Bahkan, suara rakyat dibungkam dan dianggap angin lalu.
Dalam konsep Islam, Rasulullah saw. bersabda, “Agama adalah nasihat,” termasuk kepada para pemimpin kaum muslimin secara keseluruhan (HR Muslim). Oleh karena itu, pemimpin yang zalim wajib menerima koreksi dengan santun, demikian pula rakyat dalam menyampaikan nasihat. Hal ini diharapkan menjadi jalan hijrah agar kondisi saat ini berubah menjadi lebih baik, sehingga Indonesia menjadi terang benderang dengan pemimpin dan rakyat yang bersama-sama berlandaskan syariat.
Allah Swt. berfirman dalam QS An-Naml ayat 4:
«إِنَّ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِالْآخِرَةِ زَيَّنَّا لَهُمْ أَعْمَالَهُمْ فَهُمْ يَعْمَهُونَ»
Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat, Kami jadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka, sehingga mereka bergelimang dalam kesesatan.”
Semoga ayat ini menjadi cambuk bagi kita semua, muslimīna wal muslimāt, wal mu’minīna wal mu’mināt, al-ahyā’i minhum wal amwāt. Tetap taat dalam syariat. Islam kafah adalah penuntas segala persoalan di bawah naungan Khilafah ‘ala Minhaj an-Nubuwwah. Wallahu a’lam bish-shawab.
Oleh: Ica
(Sahabat Tinta Media, Garut)
![]()
Views: 2





