Jangan Biarkan Mereka Sendirian!

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Seorang mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya diduga mencoba mengakhiri hidup dengan melompat dari lantai enam Gedung FBIPK pada Kamis (10/9/2026). Korban selamat dan masih menjalani perawatan intensif di rumah sakit, sementara polisi menyelidiki penyebab kejadian dan pihak kampus belum memberikan keterangan resmi karena konferensi pers ditunda (kompas.id, 10/9/2026).

Peristiwa ini tentu mengguncang karena terjadi di lingkungan perguruan tinggi yang seharusnya menjadi tempat menuntut ilmu dan mempersiapkan generasi masa depan. Namun, jangan sampai perhatian hanya berhenti pada rasa terkejut karena di balik satu peristiwa bisa terdapat persoalan panjang yang selama ini tidak terlihat.

Ketika Tekanan Menumpuk

Dugaan percobaan bunuh diri tidak semestinya hanya dipandang sebagai persoalan pribadi seseorang yang sedang mengalami masalah. Jika semuanya dibebankan kepada individu, kita akan kehilangan kesempatan untuk bertanya mengapa seseorang bisa merasa begitu tertekan hingga tidak mampu melihat jalan keluar.

Mahasiswa dapat menghadapi tekanan akademik, tuntutan keluarga, persoalan ekonomi, pergaulan, hingga kecemasan terhadap masa depan. Ketika berbagai beban tersebut datang bersamaan tanpa dukungan yang memadai, seseorang dapat merasa seolah-olah harus memikul semuanya seorang diri.

Lebih memprihatinkan lagi, kehidupan modern sering menuntut manusia untuk selalu terlihat berhasil. Nilai tinggi, prestasi, pekerjaan bergengsi, penghasilan besar, dan berbagai pencapaian duniawi seakan menjadi ukuran utama keberhargaan seseorang.

Akibatnya, kegagalan tidak lagi dianggap sebagai bagian dari perjalanan hidup yang wajar. Seseorang dapat merasa malu, rendah diri, bahkan menganggap dirinya tidak berguna hanya karena tidak mampu memenuhi target yang ditetapkan dirinya sendiri maupun lingkungan.

Di tengah keadaan tersebut, banyak orang memilih menyembunyikan kesedihan karena takut dianggap lemah. Mereka tetap tersenyum, kuliah, bekerja, dan berinteraksi, padahal bisa jadi di dalam dirinya sedang terjadi pergulatan yang sangat berat.

Inilah yang membuat kesepian menjadi persoalan yang tidak boleh diremehkan. Seseorang bisa berada di tengah keramaian kampus, memiliki banyak teman, bahkan aktif di media sosial, tetapi tetap merasa tidak mempunyai satu orang pun yang benar-benar memahami dirinya.

Akar Persoalan

Persoalan semakin rumit ketika agama dipisahkan dari kehidupan melalui cara pandang sekuler. Agama akhirnya cenderung ditempatkan hanya pada wilayah ibadah ritual, sementara urusan pendidikan, ekonomi, pergaulan, dan kehidupan sosial berjalan dengan ukuran yang terpisah dari nilai agama.

Padahal, manusia bukan sekadar makhluk yang membutuhkan prestasi dan materi, tetapi juga membutuhkan tujuan hidup yang memberikan ketenangan. Ketika kehidupan kehilangan pijakan spiritual, tekanan duniawi dapat terasa begitu besar karena manusia tidak memiliki pemahaman yang kokoh tentang makna ujian dan tujuan hidup.

Islam memandang kehidupan dunia sebagai tempat manusia menjalani ujian menuju kehidupan akhirat. Dengan keyakinan tersebut, kesulitan tidak dipandang sebagai akhir dari segalanya, melainkan bagian dari perjalanan yang harus dihadapi dengan sabar, doa, dan ikhtiar.

Allah Swt. berfirman, “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya” (QS Al-Baqarah: 286). Ayat ini memberikan harapan bahwa manusia tidak dibiarkan tanpa batas kemampuan, sehingga setiap kesulitan semestinya mendorong seseorang mencari pertolongan dan jalan keluar, bukan menyerah pada keputusasaan.

Islam juga mengharamkan bunuh diri dan menjaga kehidupan manusia sebagai sesuatu yang mulia. Larangan tersebut menjadi bagian dari pembentukan kepribadian agar seorang Muslim memahami bahwa nyawa bukan milik manusia secara mutlak sehingga tidak boleh diakhiri sesuka hati.

Namun, kekuatan individu saja tidak cukup untuk menghadapi tekanan kehidupan. Manusia membutuhkan keluarga yang hadir, masyarakat yang peduli, dan negara yang benar-benar menjalankan tanggung jawabnya dalam mengurus kehidupan.

Jangan Biarkan Sendirian

Keluarga memiliki peran penting sebagai tempat pertama seseorang mendapatkan kasih sayang dan perlindungan. Ketika anak mengalami kegagalan, tekanan, atau persoalan berat, keluarga semestinya menjadi tempat untuk bercerita tanpa takut dihakimi atau direndahkan.

Masyarakat juga harus dibangun dengan kepedulian, bukan sekadar hidup berdampingan tanpa mengenal keadaan sesama. Islam mengajarkan ukhuah islamiah yang mendorong manusia untuk saling menasihati, membantu, dan memperhatikan saudaranya ketika menghadapi kesulitan.

Jangan sampai seseorang yang sedang menangis dalam diam justru dibiarkan karena semua orang mengira dirinya baik-baik saja. Jangan pula seseorang baru mendapatkan perhatian setelah mengalami kejadian tragis karena kepedulian seharusnya hadir sebelum keadaan menjadi semakin buruk.

Negara juga memiliki tanggung jawab dalam mengurus berbagai kebutuhan masyarakat. Pendidikan tidak cukup hanya menghasilkan manusia yang pintar mengejar nilai dan prestasi, tetapi juga harus membentuk kepribadian yang memiliki tujuan hidup dan landasan keimanan.

Kebutuhan dasar masyarakat pun harus dijamin sehingga tekanan ekonomi tidak makin memperberat kehidupan. Ketika pendidikan, ekonomi, keluarga, dan lingkungan sosial dibangun dengan landasan yang benar, masyarakat memiliki perlindungan yang lebih kuat dalam menghadapi berbagai persoalan.

Oleh karena itu, peristiwa ini semestinya menjadi alarm keras bagi kita semua. Jangan sampai generasi muda terus dituntut untuk kuat, tetapi tidak pernah diberi ruang untuk mengungkapkan luka dan mendapatkan pertolongan ketika mereka sedang jatuh.

Solusinya bukan sekadar mengajarkan manusia agar lebih kuat menghadapi tekanan. Persoalan harus diselesaikan dari akarnya dengan membangun akidah yang kokoh, menguatkan keluarga, menumbuhkan kepedulian masyarakat, dan menghadirkan negara yang menjalankan tanggung jawabnya berdasarkan aturan Islam.

Dengan demikian, tidak ada lagi manusia yang merasa harus menghadapi seluruh persoalan seorang diri. Kehidupan yang berlandaskan Islam secara kafah akan membentuk manusia yang memiliki pegangan, keluarga yang saling menguatkan, masyarakat yang peduli, dan kehidupan yang memberikan harapan ketika ujian datang.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Oleh: Isnawati
(Muslimah Penulis Peradaban)

Loading

Views: 3

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA