Tinta Media – Cendekiawan Muslim Ustaz Muhammad Ismail Yusanto (UIY) menilai lunturnya etika membuat kepentingan semakin menonjol. Hal itu disampaikannya merespons pernyataan Pimpinan Ponpes Darussalam Gontor KH. Hasan Abdullah Sahal dalam pidato di depan Presiden Prabowo pada acara 100 tahun Gontor terkait perilaku menjilat.
“Saya kira memang apa yang disampaikan oleh Kiai Sahal itu mencerminkan apa yang ini hari terjadi. Ketika etika itu luntur, yang makin menonjol adalah kepentingan,” tegasnya dalam program Focus to the Point bertajuk “Ulama Tegur Penguasa! Apa yang Terjadi?” di kanal YouTube UIY Official, Senin (28/9/2026).
Menurut UIY, ketika usaha meraih kepentingan tanpa etika semakin menonjol, maka tercermin dalam berbagai perilaku, seperti mencari muka dan menjilat.
“Dalam apa yang disebut mencari muka, menjilat, mencari ijazah ya, dan sebagainya,” tambahnya.
UIY mempertanyakan inti dari berbagai usaha tersebut. Menurutnya, hal itu bermuara pada sikap menghalalkan segala cara.
“Jika, dia harus menjilat, ya dia akan menjilat. Jika, dia harus mencari muka, ya dia harus mencari muka. Kalo dia itu harus menipu, dia menipu. Kalo dia harus bikin ijazah palsu, ya ijazah palsu,” bebernya.
Ia menilai kondisi tersebut menunjukkan bahwa sebagian orang begitu mendewakan kedudukan dan jabatan sehingga tidak lagi mengindahkan cara untuk mendapatkannya.
“Sehingga, dia tak lagi mengindahkan bagaimana cara jabatan dan kedudukan itu didapat. Pokoknya segala cara dilakukan,” ucapnya.
UIY kemudian mengaitkan kondisi tersebut dengan pesan Nabi Muhammad saw. kepada Abu Dzar Al-Ghifari yang meminta untuk mendapatkan jabatan.
“Nabi kan mengatakan bahwa wa innaha amanatun, jabatan itu amanah, wa innaha hizyun wa naadamah, jadi jabatan itu nanti pada akhirnya hanya akan menjadi ya kehinaan, dan penyesalan, penyesalan dan kehinaan,” jelasnya.
Pesan tersebut, lanjutnya, berlaku bagi orang yang memahami kehidupan akhirat. Namun, ia mempertanyakan kondisi orang yang tidak memiliki pemahaman tersebut.
“Ketika keimanan akhirat tuh juga ikut meluluh, seiring dengan lumernya etika tadi itu. Maka, orang juga tak lagi ingat bahwa kehidupan dunia ini sesungguhnya tak berputus dengan kehidupan di akhirat nanti,” ungkapnya.
UIY menambahkan, kondisi tersebut terjadi ketika jabatan dan kedudukan hanya dipandang dari satu sisi, yakni sebagai pencapaian duniawi.
“Yaitu sebagai bukan kemuliaan, tapi kegemerlapan, kecapaian yang bersangkutan di dalam kehidupan dunia,” ujarnya.
Padahal, ungkapnya, jika mengingat pesan Nabi terkait amanah, seseorang mungkin menganggap jabatan sebagai sebuah keberhasilan atau capaian di dunia. Namun, Nabi menyebut amanah dapat menjadi penyesalan dan kehinaan.
“Illa, kecuali kata Nabi, man akho akhodza bi haqqi, yaitu orang yang mendapatkan dengan haq. Dengan haq itu artinya juga ditempuh atau didapat juga dengan cara yang benar, bukan dengan menghalalkan segala cara,” tuturnya.
Karena itu, UIY menegaskan, perilaku mencari muka dan menjilat menunjukkan bahwa amanah yang diperoleh tidak didapatkan dengan cara yang benar.
“Sehingga, ketika orang-orang mencari muka, dengan menjilat dan sebagainya-sebagainya, itu sudah menunjukkan bahwa orang tersebut mendapatkan amanah tidak dengan cara yang benar,” tandasnya.[] Nandang Fathurrohman
![]()
Views: 3




