Tinta Media – Jangan pernah merasa amal ibadah, muamalah, dakwah, serta perjuangan dengan waktu, tenaga, dan pikiran yang kita curahkan, termasuk infak dan sedekah yang kita keluarkan, sebagai jasa kita untuk orang lain, organisasi, apalagi untuk Allah SWT.
Jangan sampai terbersit, “Aku sudah banyak berkorban.” Sebab ketika amal dianggap sebagai jasa, maka selanjutnya hati akan mudah menuntut penghargaan, pengakuan, bahkan balasan.
Padahal, kitalah yang membutuhkan amal itu.
Allah SWT berfirman:
وَمَن جَٰهَدَ فَإِنَّمَا يُجَٰهِدُ لِنَفْسِهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ لَغَنِيٌّ عَنِ ٱلْعَٰلَمِينَ
“Barang siapa berjihad, maka sesungguhnya jihadnya itu untuk dirinya sendiri. Sungguh, Allah Mahakaya, tidak memerlukan seluruh alam” (QS Al-‘Ankabut: 6).
Renungkan dan camkanlah dengan mendalam! Waktu, tenaga, kesehatan, kemampuan berpikir, dan harta yang kita gunakan untuk kebaikan semuanya adalah karunia Allah. Maka, sesungguhnya kita bukan sedang memberi sesuatu kepada-Nya. Kita sedang menggunakan karunia-Nya untuk menyiapkan bekal bagi diri sendiri.
Allah SWT menegaskan:
وَمَا تُقَدِّمُوا لِأَنفُسِكُم مِّنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِندَ اللَّهِ
“Dan kebaikan apa saja yang kamu kerjakan untuk dirimu, niscaya kamu memperoleh balasannya di sisi Allah” (QS al-Baqarah: 110).
Karena itu, jangan sibuk menghitung apa yang telah kita berikan. Lebih baik renungkan betapa banyak nikmat Allah yang memungkinkan kita beramal.
Begitu pun dakwah, selain menjadi kewajiban, kita juga akan mendapati hikmah bekal menempa diri agar sabar, peduli, berani menyampaikan kebenaran, dan tidak hidup hanya untuk kepentingan pribadi. Begitu pula lingkungan atau circle pengemban dakwah yang baik, menjadi nikmat yang membantu kita menjaga iman dan istiqamah. Di dalamnya kita saling mengingatkan ketika lalai, menguatkan ketika lemah, dan meluruskan ketika mulai menyimpang.
Allah SWT berfirman:
وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُم بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ
“Dan bersabarlah engkau bersama orang-orang yang menyeru Tuhannya pada pagi dan petang dengan mengharap keridaan-Nya” (QS al-Kahfi: 28).
Maka, keberadaan orang-orang baik di sekitar kita bukan alasan untuk merasa berjasa kepada mereka. Justru kita patut bersyukur karena Allah memberi lingkungan yang membantu kita tetap berada di jalan-Nya.
Ujung dari semua amal bukanlah pujian manusia, kedudukan, atau pengakuan bahwa kita telah banyak berkorban. Yang kita cari adalah pahala, rida Allah, dan surga-Nya.
Allah SWT berfirman:
وَرِضْوَانٌ مِّنَ اللَّهِ أَكْبَرُ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
“Dan keridaan Allah lebih besar. Itulah kemenangan yang agung” (QS at-Taubah: 72).
Maka teruslah beramal, teruslah berdakwah, teruslah berinfak, dan teruslah berada dalam lingkungan yang menguatkan kebaikan.
Jangan merasa berjasa. Bersyukurlah karena masih diberi kesempatan untuk beramal.
Sebab kita tidak sedang memberikan sesuatu kepada Allah. Kitalah yang sedang menyiapkan bekal untuk kembali kepada-Nya. mengharap pahala, rida-Nya, dan surga-Nya di masa depan yang penuh kenikmatan. Bukan masa depan yang penuh kehinaan.
Wallaahu a’lam bish-shawaab.
Oleh: Muhar
Tim Redaksi Tinta Media
![]()
Views: 5




