Tinta Media – Direktur Forum on Islamic World Studies (FIWS) Farid Wadjdi mengungkapkan tiga pelajaran penting bagi kaum Muslimin dari peristiwa Taufan Al-Aqsa yang dilancarkan pejuang Palestina pada 7 Oktober 2023.
Hal tersebut disampaikannya dalam program “Mbois: 3 Tahun Pasca Taufan Al-Aqsa, Sampai Mana Ceritanya?” di kanal YouTube Tabloid Media Umat pada Rabu (14/10/2026).
“Pertama, menunjukkan bahwa perlawanan rakyat Palestina tidak pernah berhenti terhadap penjajahan Zionis Yahudi yang selama ini telah merampas tanah Palestina. Ini penting untuk menunjukkan bahwa umat Islam itu tidak pernah berhenti untuk melakukan perlawanan terhadap penjajahan,” ungkap Farid.
Kedua, Taufan Al-Aqsa menunjukkan kemampuan Hamas memberikan pukulan telak kepada entitas penjajah Yahudi meskipun persenjataannya tidak secanggih milik lawannya. “Mereka (penjajah Yahudi) terkaget-kaget dengan strategi Hamas,” tandasnya.
Menurut Farid, hal tersebut semestinya menjadi pelajaran bagi umat Islam, terutama para penguasa Arab, yang dinilainya memiliki kemampuan untuk melakukan lebih dari apa yang dilakukan Hamas. “Tetapi mereka tidak melakukan itu,” sesalnya.
Ketiga, Farid menyoroti pelajaran dari keteguhan dan keberanian para pejuang Palestina dalam menghadapi entitas penjajah Yahudi beserta negara-negara pendukungnya.
“Dan ini adalah pelajaran yang sangat penting,” tegasnya.
Genosida di Gaza
Farid menilai penguasa-penguasa Arab belum bersungguh-sungguh menghentikan kejahatan genosida di Gaza.
“Karena yang terjadi di Gaza sekarang itu adalah genosida,” imbuhnya.
Ia merujuk pernyataan Komisi Penyelidikan Internasional Independen PBB pada 16 September 2025 yang menyebutkan bahwa syarat-syarat genosida telah terpenuhi di Gaza.
“Komisi ini mengatakan, di Gaza telah terpenuhi syarat-syarat genosida yang dilakukan oleh entitas penjajah Yahudi,” ungkapnya.
Farid menjelaskan, kriteria genosida tersebut meliputi pembunuhan anggota kelompok, menimbulkan penderitaan fisik atau mental yang berat, penciptaan kondisi kehidupan yang dapat menghancurkan kelompok, serta tindakan yang dimaksudkan untuk mencegah kelahiran.
Ia menilai berbagai upaya penguasa Arab, seperti kesepakatan perdamaian dan pemberian bantuan kemanusiaan, belum menyelesaikan persoalan mendasar berupa penjajahan Palestina.
“Kalau mereka serius untuk menghentikan penjajahan, maka yang mereka lakukan adalah mobilisasi tentara bersama negeri-negeri Islam yang lain. Ini akan menyelesaikan penjajahan di tanah Palestina, tetapi yang mereka lakukan itu adalah tindakan-tindakan yang tidak menghilangkan penjajahan,” nilainya.
Farid juga mengkritik kesepakatan perdamaian yang digagas Amerika Serikat karena dinilainya justru mensyaratkan pengakuan terhadap keberadaan entitas penjajah Yahudi.
“Contoh, misalkan, mereka melakukan perdamaian demi perdamaian. Sementara perdamaian demi perdamaian yang digagas oleh Amerika Serikat itu justru mensyaratkan keberadaan pengakuan terhadap keberadaan entitas penjajah Yahudi,” jelasnya.
Terkait bantuan kemanusiaan, Farid menyatakan bantuan tersebut memang dapat menolong korban, tetapi tidak menghentikan penjajahan. Menurutnya, diperlukan tindakan nyata untuk mengakhiri penjajahan di Palestina.
“Diamnya penguasa-penguasa Arab ketika terjadi pembantaian (genosida), dengan tidak melakukan tindakan yang nyata, yaitu dengan mengusir penjajah dari tanah Palestina, itulah yang kemudian menyebabkan Palestina hingga saat ini belum terbebaskan,” pungkasnya.[] Ajira
![]()
Views: 2
















