Pernyataan Tidak Nyambung dengan Hizbut Tahrir karena Penganut Akidah Asy’ariyah Dinilai Tidak Ilmiah

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Pernyataan Kiai Luthfi Bashori yang menyebut dirinya tidak nyambung dengan Hizbut Tahrir karena penganut akidah Asy’ariyah dinilai. tidak ilmiah.

“Pernyataan tersebut tidak ilmiah karena ketika diuji dengan literatur Asy‘ariyyah sendiri, langsung runtuh,” ulas Joko Prastyo, Jurnalis yang akrab disapa dengan Om Joy, dalam ungggahan akun Facebook pribadinya berjudul: Mengaku Asy’ariyah, Menolak HTI (Hizbut-Tahrir Indonesia) atau Sebenarnya Menolak Khilafah? Selasa (14/4/2026).

Om Joy menyampaikan pertanyaan tajam: Benarkah akidah Asy‘ariyyah bertentangan dengan kewajiban menegakkan khilafah? Atau ini hanya alasan untuk menolak sesuatu yang tidak diinginkan?

“Mengingat HTI itu mendakwahkan kewajiban menerapkan syariat Islam secara kaffah dalam naungan khilafah. Itu saja, tidak mendakwahkan firqah akidah Asy’ari ataupun firqah lawannya Asy’ari,” tandasnya.

Menurutnya, HTI itu parpol (partai politik) Islam ideologis, bukan parpol firqah Islam. Akidahnya Islam, bukan salah satu firqah akidah Islam. Jadi, tidak masuk ke ranah firqah akidah.

“Walhasil, Hizbut Tahrir itu cocok untuk semua umat Islam, baik yang berfirqah Asy-Ari, Maturidi, maupun firqah akidah Islam lainnya yang meyakini menegakkan khilafah itu wajib,” tambahnya.

Ia pun menguatkan argumennya dengan mengutip beberapa pendapat ulama salaf seperti: Imam al-Mawardi dalam kitab Al-Ahkām as-Sulṭāniyyah yang menyebutkan bahwa Imamah ditetapkan sebagai pengganti kenabian dalam menjaga agama dan mengatur dunia. Mengangkatnya adalah wajib berdasarkan ijma’.

“Termasuk Imam al-Juwayni, Imam Ghazali, Imam an-Nawawi, Imam al-Baidhawi, Imam al-Iji, Imam al-Jurjani, Imam as-Subki, dan Imam al Hajar al-Haitsami semua satu arah bahwa imamah atau khilafah adalah wajib,” bebernya.

Om Joy juga mempertanyakan kenapa dakwah khilafah yang dilakukan HTI ditolak dengan alasan “Bukan Asy‘ari”? Di sinilah logika mulai terbongkar. Kalau benar masalahnya akidah, maka yang harus ditolak adalah konsep imamah itu sendiri.

“Yang terjadi, khilafah ditolak. Lalu dicari alasan. Dan “Asy‘ariyyah” dijadikan tameng. Padahal kitab-kitab Asy‘ariyyah sendiri berkata sebaliknya,” cetusnya.

Pada akhirnya, lanjutnya, ini bukan sekadar soal HTI, bukan sekadar soal label Asy‘ariyyah. Bahkan bukan sekadar soal menang-kalah dalam perdebatan. Ini soal pertanggungjawaban di hadapan Allah.

“Ketika para ulama telah menukil kewajiban, ketika dalil sudah jelas, lalu seseorang tetap menolak, maka yang dipertaruhkan bukan lagi opini, tapi hisab di akhirat. Apalagi hisab seorang kiai yang menolak khilafah,” tegasnya.

Ia pun menyayangkan seorang kiai sampai mencontohkan kepada santri-santrinya membakar buku yang menyeru kewajiban khilafah. Kemudian diumumkan padahal hisab di akhirat sangat-sangat berat.

“Di sana, tidak ada lagi tameng “saya ikut mazhab ini” atau “saya tidak cocok dengan kelompok itu” apalagi mengatakan karena “Saya menganut akidah Asy’ari”. Yang ada hanya satu pertanyaan: Apakah kita tunduk pada kebenaran ketika kebenaran itu telah sampai, atau justru mencari alasan untuk menghindarinya?” tutupnya.[] Erlina

Loading

Views: 3

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA