Tinta Media – Cendekiawan Muslim Ustadz Ismail Yusanto (UIY) menilai bahwa korupsi adalah bentuk pengkhianatan pada amanah jabatan yang tampak gemerlap di dunia namun hina di akhirat.
“Korupsi adalah bentuk pengkhianatan pada amanah jabatan yang mungkin tampak gemerlap di dunia karena memberikan kemegahan, kemewahan, keagungan, dan kemasyhuran namun nanti akan mendapat kehinaan di akhirat,” ulasnya dalam Focus to Change: Ramadhan dan Pemberantasan Korupsi di kanal Youtube One Ummah TV, Ahad (2/3/2025).
Mereka yang melakukan korupsi, menurutnya, mungkin merasa mendapat prestise padahal sebagai gantinya nanti di akhirat hanya akan menjadi kehinaan dan penyesalan. Ia melihat sudah ada yang hilang dari pelaku korupsi yaitu terkait mas’uliyah atau pertanggungjawaban.
“Sekarang ini kan orang-orang hanya fokus pada pertanggungjawaban di dunia dan merasa hal itu sudah dengan mudah ditaklukkan karena sudah dengan mudah pula direkayasa sedemikian rupa,” ungkapnya.
Rekayasa yang sudah dilakukan, lanjutnya, membuat pelaku korupsi bisa melenggang begitu saja selepas dari jabatannya seperti yang kita saksikan pada para pejabat. Tak ada pertanggungjawaban seolah-olah selama dia menjabat tidak terjadi apa-apa, tidak melakukan apa-apa, termasuk tidak melakukan kesalahan apa pun.
“Dia lupa bahwa ada pertanggungjawaban yang tak mungkin dia hindari kapan itu yaitu di akhirat kelak. Nah, pandangan akhirat ini yang sudah luput, menipis, dan bisa dikatakan telah hilang,” ujarnya.
Pandangan Islam
Jika ditanya bagaimana Islam memandang, menurut UIY setidaknya ada dua hal yang bisa diperhatikan.
Pertama, memahami bahwa jabatan adalah amanah. “Karena jabatan adalah amanah, maka akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat kelak,” ucapnya.
Kedua, tidak bisa tidak, perbuatan korupsi pasti akan ketahuan dan tidak ada satu pun yang bisa disembunyikan. UIY mengutip QS Al Zalzalah yang menjelaskan bahwa perbuatan baik atau buruk walau sebesar biji zarrah pasti akan terlihat dan mendapat balasan yang setimpal.
“Ketika pada bulan Ramadhan seperti saat ini tapi seorang Muslim tetap melakukan maksiat, bukan puasanya yang salah. Jika puasa dilakukan dan dihayati dengan betul yaitu kita dilatih selama satu bulan untuk meninggalkan yang halal saja bisa apalagi meninggalkan yang haram seperti korupsi, pasti bisa juga,” tutupnya.[] Erlina
![]()
Views: 23
















