HILMI: Universitas Berubah Wajah dari Pencarian Kebenaran Menjadi Arena Kompetisi Statistik Global

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Perhimpunan Intelektual Muslim Indonesia (HILMI) melihat perubahan orientasi lembaga pendidikan tinggi dari taman pencarian kebenaran menjadi arena kompetisi statistik global.

“Universitas pun perlahan berubah wajah, dari taman pencarian kebenaran menjadi arena kompetisi statistik global,” ungkap HILMI melalui Intellectual Opinion yang dirilis pada Senin (8/12/2025), berjudul “Pendidikan Tinggi Kelas Dunia: Memiliki Ruh, Bermutu Hakiki, Melampaui Metrik”.

HILMI mencermati munculnya paradoks besar di perguruan tinggi kampus terlihat semakin modern, global, dan produktif dalam angka, namun pada saat yang sama banyak pihak merasakan bahwa ruh pendidikan semakin menipis.

“Kampus menjadi sibuk, tetapi sering kehilangan hening untuk merenung. Ramai oleh publikasi, tetapi sunyi dari perenungan,” bebernya.

HILMI menyebut dalam beberapa tahun terakhir satu frasa semakin sering mendominasi ruang rapat universitas, pidato pejabat pendidikan, hingga dokumen rencana strategis kampus, yakni “naik peringkat QS (Quacquarelli Symonds)
Dan THE (Times Higher Education)”..

Ungkapan tersebut, lanjutnya, diulang seperti mantra keberhasilan dan dijadikan indikator prestasi rektor, legitimasi kebijakan anggaran, bahkan tolok ukur kehormatan institusi.

“Tetapi hampir tidak pernah muncul pertanyaan mendasar: apakah kenaikan peringkat itu sejalan dengan naiknya mutu pendidikan manusia?” ungkapnya.

Menurut HILMI, paradoks yang terjadi di dunia kampus semakin nyata. “Kampus tampak semakin modern, semakin global, semakin produktif dalam angka, namun di saat yang sama, banyak yang merasakan bahwa ruh pendidikan itu sendiri semakin menipis,” tandasnya.

Hakikat Pendidikan

HILMI menjelaskan bahwa hakikat pendidikan sejatinya adalah proses memanusiakan manusia, bukan sekadar transfer pengetahuan atau akumulasi sertifikat akademik.

“Pendidikan adalah pembentukan nalar, karakter, nurani, dan orientasi hidup,” terangnya.

Namun, logika ranking hari ini, lanjut HILMI, tidak mengenal kategori-kategori tersebut dan hanya berorientasi pada variabel yang terukur.

Akibatnya, HILMI mencatat beberapa gejala yang semakin menonjol:

Pertama, kuliah menjadi aktivitas sekunder. Mengajar dipersempit menjadi kewajiban administratif, bukan misi utama dosen sebagai pendidik.

Kedua, mahasiswa menjadi “asisten statistik.” Mereka terlibat dalam proyek riset cepat saji demi memperbanyak output, tanpa selalu mengalami proses berpikir mendalam.

Ketiga, integritas akademik tertekan. Tekanan kuantitatif melahirkan salami publication, publikasi instan, bahkan praktik jurnal predator.

Keempat, ilmu sosial dan humaniora terpinggirkan. Bukan karena tidak penting, tetapi karena tidak cepat menaikkan peringkat.

“Dalam situasi ini, kampus tampak hidup, tetapi sesungguhnya kehilangan denyut kemanusiaannya. Ia ramai kegiatan, tetapi sepi keteladanan. Ia produktif data, tetapi miskin hikmah,” simpulnya.[] Muhar

Loading

Views: 47

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA