File Epstein Bukan Cuma Skandal

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Nama Jeffrey Epstein bukan sekadar catatan kriminal. Ia adalah simbol dari kebobrokan sistem yang melahirkannya. Skandal yang menyeret para miliarder, politisi, akademisi, dan tokoh kerajaan dunia Barat itu membuka tabir gelap relasi kuasa, uang, dan moralitas dalam sistem kapitalisme sekuler. Ketika hukum bisa dinegosiasikan, ketika kejahatan bisa ditutup dengan donasi dan jaringan elite, di situlah kita melihat bahwa kerusakan bukan sekadar pada individu, tetapi pada sistem yang menopangnya.

Epstein, seorang finansier dengan jaringan luas, didakwa atas kejahatan perdagangan dan eksploitasi seksual anak di bawah umur. Kasusnya kembali mencuat pada 2019, sebelum akhirnya ia ditemukan tewas di sel tahanan federal. Namun kematiannya tidak menghentikan pertanyaan publik. Justru sebaliknya, ia memicu kecurigaan luas tentang siapa saja yang terlibat dan mengapa banyak nama besar tampak terseret dalam pusaran ini.

Di antara nama yang sering disebut media adalah mantan Presiden Amerika Serikat Bill Clinton, Presiden AS saat ini Donald Trump, serta Prince Andrew dari Kerajaan Inggris. Terlepas dari perdebatan hukum mengenai tingkat keterlibatan masing-masing, fakta bahwa jaringan Epstein menembus lingkaran kekuasaan tertinggi menunjukkan satu hal yakni ada problem struktural yang serius. Inilah wajah kapitalisme sekuler.

Dalam sistem ini, agama dipisahkan dari kehidupan publik. Moralitas dijadikan urusan privat. Hukum dibangun bukan atas dasar wahyu, melainkan kesepakatan manusia yang sarat kepentingan. Ketika uang menjadi ukuran utama, kekuasaan menjadi komoditas, dan kebebasan individu diagungkan tanpa batas, maka yang kuat akan selalu lebih diuntungkan daripada yang lemah.

Kasus Epstein memperlihatkan bagaimana kekayaan dan koneksi dapat menciptakan imunitas tidak resmi. Selama bertahun-tahun, ia tetap bergerak bebas meski tuduhan serius telah muncul. Ada kesepakatan hukum yang ringan pada kasus sebelumnya. Ada perlakuan istimewa. Ada jaringan pengaruh. Semua ini bukan anomali, melainkan konsekuensi logis dari sistem yang menempatkan materi sebagai pusat peradaban.

Kapitalisme sekuler rusak dari sumbernya. Sumber kerusakan itu adalah asas pemisahan agama dari kehidupan. Ketika manusia menjadi pembuat hukum tertinggi, standar benar dan salah menjadi relatif. Apa yang dianggap “legal” belum tentu bermoral. Apa yang dianggap “bebas” belum tentu bermartabat. Sistem ini memberi ruang bagi industri hiburan yang mengeksploitasi tubuh, normalisasi gaya hidup hedonistik, dan relasi kuasa yang timpang antara elit dan rakyat biasa.

Lebih dari itu, kapitalisme menciptakan oligarki. Kekayaan terkonsentrasi pada segelintir orang. Mereka memiliki akses terhadap media, politik, bahkan aparat penegak hukum. Dalam situasi seperti ini, keadilan menjadi barang mahal. Skandal demi skandal yang melibatkan elite global sering kali berakhir tanpa kejelasan tuntas. Publik diberi drama, tetapi akar masalah dibiarkan utuh.

Sebagian orang mungkin berargumen bahwa ini hanya soal “oknum”. Namun jika kasus serupa terus berulang di berbagai sektor, mulai keuangan, politik, hiburan, bahkan lembaga pendidikan ternama, maka kita patut bertanya, apakah ini benar-benar sekadar individu, atau sistem yang memang memberi ruang subur bagi penyimpangan?

Di sinilah Islam menawarkan paradigma yang berbeda.
Dalam sistem Islam, kedaulatan berada di tangan syariat, bukan manusia. Hukum tidak tunduk pada lobi dan donasi. Penguasa dan rakyat sama di hadapan hukum. Sejarah mencatat bagaimana para khalifah dan pejabat negara bisa diadili di pengadilan yang sama dengan rakyat biasa. Tidak ada kekebalan karena jabatan, tidak ada perlakuan istimewa karena kekayaan.

Islam menutup pintu kerusakan dari hulunya. Pergaulan diatur untuk menjaga kehormatan. Eksploitasi seksual dihukum tegas. Perdagangan manusia adalah kejahatan besar. Sistem ekonomi Islam melarang riba dan penumpukan kekayaan pada segelintir orang, sehingga tidak terbentuk oligarki yang kebal hukum. Negara berkewajiban menjamin kebutuhan dasar rakyat, sehingga kemiskinan tidak menjadi celah eksploitasi.

Lebih penting lagi, Islam membangun fondasi ketakwaan individu sekaligus sistem yang mendukungnya. Bukan hanya moral personal, tetapi juga struktur hukum dan sosial yang selaras dengan nilai ilahiah. Dalam kerangka ini, kebebasan bukan berarti tanpa batas, melainkan terikat pada tanggung jawab di hadapan Allah.

Sebagian mungkin menuduh bahwa menawarkan sistem Islam adalah utopia. Namun justru kapitalisme sekulerlah yang hari ini memperlihatkan kegagalannya, mulai krisis moral, ketimpangan ekstrem, skandal elite global, hingga hilangnya kepercayaan publik terhadap institusi. File Epstein hanyalah satu jendela kecil untuk melihat bangunan besar yang retak.

Kita tidak sedang membicarakan satu orang. Kita sedang membicarakan peradaban. Peradaban yang mengagungkan kebebasan tanpa nilai, kekayaan tanpa batas, dan kekuasaan tanpa akuntabilitas spiritual.

Jika dunia ingin benar-benar memberantas kejahatan struktural, maka perubahan harus menyentuh asas. Bukan sekadar reformasi teknis, bukan sekadar pergantian figur, tetapi transformasi sistemik. Islam hadir bukan hanya untuk umat Islam, melainkan sebagai rahmat bagi seluruh manusia. Ia menawarkan hukum yang adil, ekonomi yang menyejahterakan, dan tatanan sosial yang menjaga kehormatan.

File Epstein akan terus menjadi simbol, simbol betapa busuknya sistem yang dibangun di atas sekularisme dan kapitalisme. Pertanyaannya kini bukan lagi siapa saja yang ada di dalam daftar itu, melainkan sistem apa yang kita pilih untuk masa depan manusia?

Dan bagi siapa pun yang jujur mencari keadilan sejati, jawabannya jelas yakni sistem yang bersumber dari wahyu, bukan dari hawa nafsu manusia.[] Achmad Mu’it

Loading

Views: 1

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA