Tinta Media – Teknologi kecerdasan buatan (AI) berkembang begitu cepat. Menulis artikel, membuat gambar, menjawab pertanyaan, hingga menghasilkan video yang tampak nyata kini bisa dilakukan dalam hitungan detik. Semua terasa praktis. Namun, di balik kemudahan itu, ada hal yang patut kita renungkan: apakah kemajuan teknologi juga membuat manusia semakin bijak, berakhlak, dan dekat kepada Allah? Jangan sampai mesin makin pintar, sementara manusia justru kehilangan pegangan hidup.
Ketika Kemudahan Berubah Menjadi Ancaman
Risiko penyalahgunaan AI bukan sekadar dugaan. Reuters (11/7/2025), memberitakan dorongan PBB untuk memperkuat upaya mendeteksi deepfake, yakni gambar, suara, atau video palsu yang dibuat menyerupai kenyataan. Teknologi ini bisa dimanfaatkan untuk menipu, memfitnah, bahkan menggiring opini publik.
UNESCO (7/9/2023) juga menerbitkan panduan penggunaan AI generatif dalam pendidikan dan penelitian. Perhatian terhadap privasi, kesiapan lembaga pendidikan, dan pengawasan manusia menjadi bagian penting dari panduan tersebut.
Fakta ini semestinya membuat kita lebih waspada. Ketika sesuatu yang palsu bisa terlihat meyakinkan, masyarakat berisiko kehilangan kemampuan membedakan fakta dan rekayasa. Lebih berbahaya lagi, jika jawaban AI yang keliru langsung dipercaya, termasuk ketika menyangkut ajaran agama.
Teknologi Maju, Nilai Kehidupan Terancam?
Masalahnya bukan semata-mata pada AI, melainkan pada cara manusia mengembangkan dan menggunakannya. Ketika keuntungan menjadi tujuan utama, teknologi berisiko lebih banyak diarahkan untuk menguasai pasar dan mengumpulkan data daripada melindungi kepentingan masyarakat.
Dampaknya dapat merembet ke dunia pendidikan. Siswa bisa menyelesaikan tugas dengan bantuan AI, tetapi belum tentu memahami apa yang ditulisnya. Jika kebiasaan berpikir perlahan digantikan oleh ketergantungan pada mesin, apa arti pendidikan jika kejujuran dan daya kritis justru melemah?
Di sinilah persoalan akidah dan moral perlu mendapat perhatian. Islam tidak mengajarkan umatnya menolak kemajuan. Akan tetapi, kemajuan juga tidak boleh diterima begitu saja tanpa mempertimbangkan benar-salah dan manfaat-mudaratnya. Teknologi harus menjadi alat untuk kebaikan, bukan penguasa yang menentukan arah kehidupan manusia.
Islam Menjadi Pedoman, Bukan Sekadar Slogan
Allah Swt. mengingatkan dalam QS Al-Isra’ ayat 36 agar manusia tidak mengikuti sesuatu yang tidak diketahuinya. Pesan ini sangat relevan di tengah banjir informasi digital. Setiap kabar harus diperiksa, setiap klaim perlu diuji, dan setiap tindakan harus dipertanggungjawabkan.
Ada tiga langkah yang perlu dilakukan:
Pertama, keluarga dan pendidikan harus memperkuat akidah serta membiasakan kejujuran, tanggung jawab, dan sikap kritis. Anak-anak perlu diajarkan menggunakan AI tanpa kehilangan kemandirian berpikir.
Kedua, literasi digital harus disertai pemahaman agama. Masyarakat perlu mengenali konten palsu, menjaga privasi, dan tidak mudah menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya. Untuk persoalan akidah dan hukum Islam, AI tidak boleh menggantikan Al-Qur’an, Sunah, serta bimbingan ulama yang kompeten.
Ketiga, negara harus hadir melindungi rakyat. Aturan yang tegas diperlukan untuk mencegah penipuan, manipulasi digital, dan penyalahgunaan data. Pengembangan AI juga harus mengutamakan kepentingan masyarakat, bukan hanya keuntungan segelintir perusahaan.
Dalam Islam, kekuasaan merupakan amanah. Karena itu, kebijakan teknologi harus berpijak pada keadilan, kemaslahatan, dan tanggung jawab di hadapan Allah Swt.
Pada akhirnya, AI bukan musuh yang harus ditakuti, tetapi juga bukan sesuatu yang pantas dipuja tanpa batas. Kecanggihan mesin tidak otomatis melahirkan manusia yang beradab.
Jangan sampai kita sibuk mencerdaskan mesin, tetapi lalai membina iman. Teknologi boleh terus berkembang, tetapi akidah harus tetap menjadi pijakan. Sebab, kemajuan sejati bukan hanya tentang apa yang mampu diciptakan manusia, melainkan juga tentang bagaimana ilmu itu digunakan untuk menegakkan kebenaran dan membawa kemaslahatan bagi sesama. Wallahu a’lam bish-shawab.
Oleh: Deny Haryanto
(Sahabat Tinta Media)
![]()
Views: 3
















