Tinta Media – Di balik pesona kecanggihannya, teknologi Artificial Intelligence (AI) ibarat sebilah pisau tajam bermata dua. Jika salah arah, inovasi terbesar zaman kita ini bisa berubah menjadi ancaman berbahaya bagi masa depan umat manusia.
Saat ini, teknologi kecerdasan buatan atau AI berkembang sangat cepat. Para peneliti AI, termasuk Yoshua Bengio dan Geoffrey Hinton yang dianggap sebagai “Bapak AI”, sudah memberikan peringatan keras. Mereka meminta pemerintah di seluruh dunia bersiap menghadapi “ledakan kecerdasan”, yaitu kondisi ketika kemampuan AI dapat melompat jauh di luar kendali manusia (CNNIndonesia.com, 30/9/2026).
Di satu sisi, AI membawa banyak kabar baik. Teknologi ini memberikan dampak besar dalam bidang kesehatan dan keuangan. Dalam ajang AI Everything yang digelar di ADNEC Centre, Abu Dhabi, pada 6–7 Oktober 2026, akan dibahas bahwa kini AI sudah mendukung penemuan obat dengan cepat, menganalisis risiko keuangan, hingga membantu pengambilan keputusan (Kompas.id, 5/10/2026).
Namun, di sisi lain, AI menyimpan bahaya besar jika salah arah. Teknologi deepfake, misalnya, wajah atau suara seseorang dimanipulasi dalam situasi yang sebenarnya tidak pernah terjadi (MetroTVNews.com, 26/4/2026). Kawanan agen AI berpotensi digunakan untuk mencuri uang, meretas identitas, memanipulasi pasar keuangan, serta mengganggu sistem kelistrikan dan komunikasi (Detik.com, 1/10/2026). Hingga ancaman perang antarnegara akibat salah laporan, China-AS nyaris “baku hantam” karena ulah AI (tvOneNews.com, 3/10/2026).
Dampak Nyata AI dalam Kapitalisme
Kecerdasan buatan (AI) adalah sebuah alat, pemanfaatannya sangat bergantung pada siapa yang mengendalikannya. AI terbukti hebat karena dapat mempercepat pekerjaan, membantu penelitian penting lewat “tenaga kerja digital”, dan menyelesaikan berbagai masalah rumit demi kemajuan manusia.
Sayangnya, hari ini AI justru sering disalahgunakan oleh sistem kapitalisme yang serakah. Banyak bos besar dan perusahaan raksasa menggunakan AI hanya untuk mencetak uang sebanyak-banyaknya dan memotong biaya operasional. Akibatnya, muncul masalah besar di masyarakat, misalnya PHK massal, kerja diatur robot, monopoli raksasa teknologi (big tech), dan krisis kelebihan produksi. Jika teknologi ini dibiarkan tumbuh bebas tanpa kendali syariat dan hanya disetir oleh nafsu mencari kekayaan pribadi, AI yang seharusnya memajukan dunia malah akan membawa kehancuran bagi kehidupan manusia.
Solusi Menjinakkan AI dengan Genggaman Syariat
Ketika hukum buatan manusia kewalahan mengimbangi laju teknologi, Islam hadir memberikan panduan yang komprehensif. Allah Swt. menciptakan manusia dengan kelebihan utama berupa akal pikiran agar mampu mengemban amanah sebagai khalifah fil ardhi, yaitu mengelola bumi sekaligus memimpin diri sendiri agar tetap di jalan Allah.
Allah ﷻ berfirman:
وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً
“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan khalifah di muka bumi …'” (QS. Al-Baqarah: 30)
Oleh karena itu, AI harus tetap diposisikan sebagai alat bantu, bukan pengganti mutlak dalam pengambilan keputusan yang membutuhkan kesadaran iman dan nurani manusia. Dalam pandangan Islam, hasil karya manusia terbagi menjadi dua:
1. Hadharah (pandangan hidup yang dipengaruhi teologi/keyakinan tertentu);
2. Madaniyah (sains dan alat fisik yang bersifat umum).
AI sebenarnya masuk dalam kategori madaniyah yang umum. Akan tetapi, karena AI tidak memiliki hati nurani, arah penerapannya mutlak disetir oleh ideologi, nilai, dan kepentingan pihak yang memproduksinya.
Di sinilah letak urgensi akidah dan syariat Islam. Ketika kendali teknologi berada di tangan peradaban yang beriman dan taat pada hukum Allah, AI akan menjelma menjadi teknologi luar biasa untuk kemaslahatan umat. Sebaliknya, jika perkembangannya dibiarkan liar di bawah kendali nafsu kapitalisasi yang mengabaikan batasan halal-haram, teknologi ini hanya akan menjadi alat penindasan yang kejam.
Fenomena ledakan kecerdasan buatan ini, menjadi bukti nyata bahwa kecanggihan teknologi tidak boleh dilepas tanpa arah. Agar umat manusia selamat, seluruh rantai inovasi digital, mulai dari proses perancangan, regulasi hukum, hingga pemanfaatannya, harus dilandasi oleh aturan syariat Islam. Hanya dengan bersandar pada aturan Sang Pencipta, kemajuan teknologi akan membawa berkah dan kedamaian, bukan menjadi musibah bagi peradaban manusia. Wallahu a’lam bish-shawab.
Oleh: Neneng Fauziah
(Aktivis Muslimah, Gamping, Daerah Istimewa Yogyakarta)
![]()
Views: 3





