Influencer Ikut ke IKN, Menambah Beban Negara!

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Persoalan pembangunan IKN hingga kini belum juga tuntas, padahal ini sudah memasuki Juli 2024 sejak narasi pembangunannya akan lekas
diselesaikan. Sebagaimana kami kutip dari rri.co.id (15/5/2024) yang
menyatakan, Menteri PUPR Basuki Hadimuljono menargetkan, pembangunan Istana
Presiden di Ibu Kota Nusantara (IKN) selesai bulan Juli 2024. Ia menjelaskan,
Istana Presiden termasuk yang lebih dulu dipersiapkan, karena Presiden Joko
Widodo direncanakan berkantor di IKN Agustus. Namun hingga kini Agustus 2024 pembangunan
Istana Negara saja masih mangkrak dengan berbagai macam alasan.

Lalu di tengah itu semua kini tersebar kabar akan rencana kunjungan
ke IKN dengan membawa influencer negeri. Langkah ini tentu perlu ditelisik apa
maksud dan tujuannya. Sebab kondisi mangkraknya pembangunan IKN masih jadi
pertanyaan, namun malah ditambah dengan situasi lain yakni dengan mengajak para
influencer.

Diketahui sejumlah influencer yang mayoritas selebritas itu
antara lain; Raffi Ahmad, Nagita Slavina, Atta Halilintar dan Aurel Hermansyah,
Irwansyah dan Zaskia Sungkar, Ferry Maryadi, Omesh dan Dian Ayu, Gading Marten
dan Poppy Sovia, Sintya Marisca, Willie Salim, Meicy Villa, hingga Dian Ayu
Lestari. (tempo.co/4/8/2024). Dari yang kami lansir berdasarkan media yang sama
dinyatakan tujuannya ialah sebagai bentuk transparansi ke publik, sebagaimana pernyataan
Grace, “Ini merupakan salah satu bentuk transparansi ke publik. Sudah banyak
warga masyarakat yang penasaran dengan IKN,” melalui pesan singkat yang
dikonfirmasi oleh Tempo, Selasa, 30 Juli 2024. “Namun karena saat ini di IKN
masih terus berlangsung proyek pembangunan, belum bisa dibuka untuk dikunjungi
publik luas.” Ia menambahkan.

Namun perlu kita sadari bahwa adanya kunjungan ke IKN dengan
membawa banyak influencer justru membebani anggaran negara. Ditambah lagi
langkah ini makin menguatkan Pencitraan akan pembangunan IKN yang masih banyak
persoalan dan terancam gagal. Bukankah hal ini menggambarkan kebijakan yang
dilaksanakan tidak efektif dan efisien? Dikhawatirkan pula influencer yang ikut
pun nantinya akan menutup mata atas semua persoalan pembangunan IKN.

Pencitraan juga makin terlihat jelas ketika kunjungan ini
nantinya tidak disertai dengan kunjungan kepada masyarakat terdampak
Pembangunan IKN. Padahal dampak atas pembangunan ini telah mengorbankan banyak
kepentingan dari masyarakat setempat yang tinggal di sekitar IKN. Pada akhirnya
pembangunan ini hanya menonjolkan sisi euforia-nya saja dan mengesampingkan
nasib dan kondisi rakyat.

Tak mengherankan memang bila melihat keadaan ini, sebab
sistem kapitalisme yang telah mengakar di aturan negeri ini hanya akan
mengedepankan kepentingan penguasa serta individu yang menorehkan manfaat.
Mengorbankan kepentingan rakyat tak masalah asal pencitraan kekuasaan bisa
dilaksanakan. Dan ini bukan sekali dua kali terjadi. Sudah menjadi konsumsi
publik hingga kini.

Berbeda sekali dengan Islam sebagai sebuah mabda yang Haq
sebab berasal dari Sang Khalik. Di mana Islam ketika menjalankan aturannya
dalam bernegara maka akan menjalankan semua program pembangunan dan pengurusan
rakyat dengan efektif dan efisien. Termasuk dalam penggunaan anggaran negara
tidak akan digunakan terhadap sesuatu yang tidak penting ataupun mubazir.
Melainkan dialokasikan tepat sasaran. Apalagi dalam negara Islam di mana titik
strategis ibukota diukur atas kepentingan negara, bukan sebatas kenyamanan
kepala negaranya saja atau sekadar pencitraan atas pembangunan yang dibuatnya.
Karena bukan itu yang menjadi tolak ukur perbuatannya melainkan taat kepada
Allah dengan menerapkan seluruh Syariat tanpa celah.

Demikian pula dalam pemilihan pejabat yang berwenang
memperhatikan pada kapabilitas dan kredibilitas serta keimanannya. Tidak akan
sembarangan memilih namun penuh pertimbangan apakah dia akan adil dan amanah
dalam mengemban tugas dan perannya.

Di sisi lain, negara juga menjamin suasana amar makruf nahi
munkar pada semua rakyat sehingga semua individu rakyat akan senantiasa
melakukan muhasabah lil hukam sesuai dengan tuntunan Islam. Tidak ada UU yang
akan melarang pemberian kritik dan saran, asalkan semua didasarkan pada
ketaatan pada Allah bukan dorongan hawa nafsu atau niat menjatuhkan
penguasanya.

Penguasa pun akan menjalankan peran sebagai pengurus dan
pelindung rakyat, cinta pada rakyat dan rakyat pun mencintai pemimpinya. Bukan
sebatas demi pencitraan tanpa ketulusan sebagaimana hari ini. Maka hanya Islam
yang mampu untuk menyelesaikan segala persoalan. Termasuk kondisi carut marut
yang banyak terjadi di negeri ini. Wallahu’alam Bisshowab.

Oleh : Tri Ayu Lestari, Penulis Novel Remaja & Aktivis Dakwah

Loading

Views: 12

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA