Tinta Media – Sebanyak 22 peneliti top dunia, termasuk pelopor kecerdasan buatan (AI), yaitu Yoshua Bengio dan Geoffrey Hinton, yang merupakan “Bapak AI” dunia, menerbitkan riset yang berjudul “Bagaimana jika otomatisasi R&D AI memicu ledakan kecerdasan?”. Mereka juga mewanti-wanti pemerintah untuk Bersiap-siap menghadapi “ledakan kecerdasan” AI, agar bersiap menghadapi potensi “intelligence explosion” atau ledakan kecerdasan (cnnindonesia.com, 30/9/2026).
Dilansir dari The Guardian, para penulis mengungkapkan keprihatinan tentang “ledakan kecerdasan” AI. Mereka menggambarkan sebagai percepatan drastis kemajuan AI akibat proses recursive self-improvement (RSI) atau penelitian dan pengembangan (R&D) AI secara otomatis.
Seorang programer AI dalam riset tersebut dapat menjalankan tenaga kerja yang setara dengan jutaan peneliti manusia terbaik karena otomatisasi penelitian dan pengembangan oleh AI itu sendiri. Kecanggihan AI bisa menjadi perkembangan teknologi paling penting dalam sejarah manusia, karena memadatkan kemajuan bertahun-tahun menjadi beberapa bulan atau kurang.
Meskipun kecanggihan AI dapat menghasilkan dampak yang positif, misalnya dalam bidang medis dan teknologi. Namun, ledakan kecerdasan AI bisa membawa dampak negatif yang berisiko, yaitu berupa ancaman biologis dan siber, hilangnya kendali keterlibatan manusia, serta ancaman perang antarnegara.
Perkembangan teknologi AI (Artificial Intelligence) memiliki dua sisi mata uang, yaitu memberikan kemudahan luar biasa sekaligus membawa risiko bahaya yang signifikan bagi manusia. Sebagai teknologi yang terus berevolusi, dampak AI sangat bergantung pada bagaimana cara manusia mengembangkan, meregulasi, dan menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari.
Alex de Vries, kandidat Ph.D. dari VU Amsterdam School of Business and Economics, mengeklaim bahwa kebutuhan energi industri AI sangatlah besar hingga dapat menyebabkan dampak lingkungan yang signifikan. Dia juga menjelaskan, kebutuhan energi industri AI dalam waktu dekat diprediksi bakal menyamai kebutuhan energi di negara kecil, yang dapat menyebabkan dampak lingkungan yang lebih buruk dari perkiraan sebelumnya.
“Mengingat perkiraan produksi perangkat AI dalam beberapa tahun mendatang pada tahun 2027 akan bertanggung jawab atas konsumsi listrik yang sama besarnya dengan negara asal saya, Belanda,” ungkap de Vries dikutip dari Gizmodo, Minggu (15/10/2023) (Sindonews.com, 15/10/2026).
Penggunaan AI yang makin marak, sangat mungkin digunakan untuk berbagai kejahatan, seperti penipuan siber (deepfake)—memalsukan suara atau video untuk mengelabui korban atau melakukan pemerasan—, membantu pelaku kejahatan membuat kode jahat (malware) yang lebih canggih, dan penyalahgunaan data pribadi secara massal tanpa izin.
Ledakan kecerdasan buatan (AI) tanpa kendali akidah Islam dan syariat Islam bisa berisiko pada kehancuran kehidupan manusia. Allah Swt. memberikan manusia akal. Dengan akal, manusia akan mampu memahami tanda-tanda kekuasaan Allah sekaligus mengemban amanah sebagai khalifah fil ardhi (pengelola bumi). Teknologi merupakan salah satu kemuliaan dari akal tersebut. Islam menetapkan hukum yang sangat tegas, segala bentuk hasil pemikiran manusia menjadi hadharah jikalau dipengaruhi oleh ideologi tertentu atau pemikiran tertentu. Maka, muslim tidak boleh mengambilnya.
Hadharah merupakan sekumpulan pemahaman tentang kehidupan yang dipengaruhi oleh cara pandang, akidah, atau ideologi tertentu (misalnya kapitalisme, sosialisme, atau sekularisme). Umat Islam wajib bersikap selektif dan menolak hadharah yang bertentangan dengan akidah Islam. Sementara itu, madaniyah merupakan bentuk-bentuk fisik dari benda-benda yang digunakan dalam aktivitas kehidupan, yang dihasilkan dari kemajuan sains, eksperimen, dan teknologi. Madaniyah ini sifatnya netral dan universal (tidak memiliki agama atau ideologi), sehingga umat Islam boleh mengambil dan memanfaatkannya secara bebas (selama tidak digunakan untuk hal yang haram).
AI adalah hasil dari perkembangan teknologi buatan manusia. Namun, AI dipengaruhi oleh berbagai informasi, pemikiran, dan ideologi yang diproses menjadi satu keputusan. Ketika AI diproses menggunakan bias informasi, sudut pandang budaya Barat, nilai-nilai sekuler, atau ideologi penciptanya, maka output yang dihasilkan AI bisa bergeser menjadi hadharah.
AI di tangan manusia yang memiliki akidah yang kukuh dan ketundukan pada syariat Islam akan memberikan kemaslahatan bagi manusia. Sebaliknya, AI di tangan manusia kafir dan mengingkari syariat Islam akan mendatangkan bahaya dan kerusakan.
AI dalam pandangan Islam dapat digunakan untuk menguatkan dakwah, memajukan kesehatan umat, dan memudahkan pendidikan Islam, serta mengelola sumber daya alam sesuai dengan perintah Allah. Sehingga, AI akan mudah terkendali, karena pencipta AI paham batas halal-haram dan pertanggungjawaban di akhirat.
Sistem kehidupan manusia harus diatur dengan syariat Islam, baik di dunia maupun di akhirat. Di dalam pandangan Islam, syariat bukan sekadar aturan hukum formal, melainkan pedoman hidup manusia secara menyeluruh yang membawa kemaslahatan dan mencegah kerusakan bagi umat manusia.
Oleh: Nurmala Sari
Pegiat Media Sosial
![]()
Views: 2









