Tinta Media – Kasus pembacokan terjadi lagi. Belum lama ini dilaporkan terjadi kasus penyerangan oleh seorang mahasiswa UIN Sultan Syarif Kasim, Riau, kepada mahasiswi yang menempuh pendidikan di tempat yang sama. Disebutkan, mahasiswi tersebut tengah bersiap melaksanakan seminar, namun tiba-tiba seorang pria datang dan menyerang menggunakan senjata tajam.
Sontak, ruangan seminar pun gaduh. Korban bersimbah darah, terluka, dan trauma hingga akhirnya dibawa ke fasilitas kesehatan terdekat. Beruntung, nyawa korban masih selamat. Namun, korban disebutkan masih ketakutan dan trauma atas peristiwa yang terjadi.
Kejadian ini terjadi karena alasan asmara. Diduga pelaku sakit hati karena cintanya ditolak (liputan6.com, 28/02/2026). Beberapa laporan menyebutkan pelaku telah menjalin hubungan asmara dengan korban. Bahkan di media sosial beredar foto-foto dan video yang memperlihatkan kedekatan hubungan keduanya. Namun, korban memilih bersama yang lain. Karena sakit hati, pelaku nekat menyakiti dan membacok korban.
Generasi saat ini semakin brutal dan tidak mampu mengindera pola sikap yang benar. Hawa nafsu menjadi pijakan hingga akhirnya menggadaikan keselamatan orang lain. Pola pikir sumbu pendek sering kali muncul tanpa memikirkan dampak yang akan terjadi.
Buruknya dampak penerapan sistem pendidikan yang mengabaikan nilai-nilai agama. Halal dan haram diterjang demi melampiaskan amarah dan kepuasan _jasadiyah_ semata. Dalam kejadian tersebut, pelaku adalah seorang mahasiswa di Universitas Islam Negeri, namun sayang nilai dan aturan Islam masih diabaikan. Sistem pendidikan sekuler ini telah gagal membentuk generasi yang cerdas, terutama kecerdasan emosional yang sulit dikendalikan. Pola sikap yang menonjolkan kekerasan, pembunuhan, dan pergaulan bebas merefleksikan kegagalan sistem pendidikan sekuler. Generasi mulia hanya menjadi angan-angan dan mustahil diwujudkan dalam tatanan sistem sekuler yang konsepnya cacat sejak awal.
Sekularisme membentuk standar pergaulan yang serba bebas. Generasi merasa bebas melakukan segala hal semaunya. Dengan alasan hak asasi manusia, kontrol sosial akhirnya menjadi lemah bahkan hilang. Akhirnya konsep amar makruf, yakni saling mengingatkan, diabaikan begitu saja. Tentu saja konsep ini berbahaya bagi stabilitas norma sosial di tengah pergaulan masyarakat. Contohnya kejadian ini saja, emosi dan api cemburu dapat melahirkan perbuatan kekerasan yang hampir merenggut nyawa seseorang.
Parahnya lagi, sistem sekularisme juga telah mewajarkan nilai-nilai kebebasan seperti pacaran, perselingkuhan, pergaulan bebas, dan berbagai kerusakan lain yang diklaim sebagai hak pribadi yang tidak boleh diganggu siapa pun.
Dalam sistem ini, negara tidak mampu menempatkan kasus seperti ini sebagai persoalan yang harus diperhatikan secara serius. Negara justru disibukkan dengan konsep kapitalis yang menjadikan generasi sebagai mesin penggerak ekonomi, pasar industri yang mampu memperbaiki sektor ekonomi negara. Pembinaan karakter dan akhlak generasi dikesampingkan demi konsentrasi meraup keuntungan materi.
Inilah yang kini terjadi. Negara telah mandul dalam mewujudkan fungsinya. Generasi akhirnya mencari eksistensi diri dan validasi melalui jalan yang rusak.
Masihkah kita berharap pada sistem sekuler kapitalistik yang terang-terangan merusak generasi? Mestinya, bonus demografi dan potensi generasi dapat dijadikan kekuatan besar menuju kebangkitan negeri jika sistem pendidikan yang diadopsi mampu mengarahkan pada jalan hakiki untuk menjaga generasi.
*Penjagaan Islam*
Islam memiliki strategi khas dalam mengatur hubungan sosial, termasuk interaksi antara laki-laki dan perempuan. Dalam sistem Islam, pergaulan ditata dengan rapi dalam aturan yang menjaga kehormatan manusia dengan landasan hukum syarak. Amar makruf nahi mungkar menjadi salah satu poin yang mengendalikan tatanan sosial. Konsep ini menghadirkan kekuatan saling menjaga dan saling mengingatkan dalam hubungan sosial masyarakat.
Ketakwaan individu menjadi salah satu fondasi untuk menjaga pola pikir dan pola sikap setiap individu. Hukum syarak menjadi satu-satunya sandaran dalam melakukan setiap perbuatan. Ketaatan terhadap perintah Allah Swt. serta menjauhi larangan-Nya merupakan bentuk komitmen takwa yang mampu membentengi diri dari segala bentuk kemaksiatan dan kezaliman.
Penerapan aturan Islam yang menyeluruh dalam institusi Khilafah menjadi solusi mendasar untuk mengatasi berbagai masalah kehidupan, salah satunya masalah pergaulan yang kian merusak tatanan sosial.
Sistem Islam memiliki strategi dan mekanisme khas dalam menjaga dan mengatur pergaulan dalam hubungan bermasyarakat.
Pertama, negara akan menanamkan edukasi berbasis akidah Islam. Pola pikir dan perilaku masyarakat diarahkan agar selalu terikat pada konsep halal dan haram sesuai hukum syarak.
Kedua, negara menetapkan regulasi dan sanksi yang berkaitan dengan hubungan antarindividu, khususnya antara laki-laki dan perempuan. Islam memerintahkan laki-laki beriman untuk menjaga pandangan dan kehormatan diri, sebagaimana firman Allah Swt.:
“Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu lebih suci bagi mereka. Sungguh, Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.“ (QS An-Nur: 30)
Demikian pula perempuan diperintahkan untuk menutup aurat dan menjaga kehormatannya sebagaimana dijelaskan dalam QS Al-Ahzab: 59. Tak hanya itu, Islam secara tegas melarang mendekati zinasebagai bentuk penjagaan terhadap kehormatan dan keturunan. Allah Swt. berfirman:
“Dan janganlah kamu mendekati zina; (zina) itu sungguh suatu perbuatan keji dan suatu jalan yang buruk.“ (QS Al-Isra’: 32)
Ketiga, kontrol sosial ditegakkan melalui mekanisme amar makruf nahi mungkar yang tersistem. Masyarakat tidak abai terhadap kemungkaran, tetapi memiliki kepedulian untuk saling menjaga dalam batasan syariat.
Dengan pendekatan yang sistematis dan berlandaskan akidah, sistem Islam mampu menjaga kemuliaan individu serta menciptakan tatanan sosial yang melindungi kehormatan. Hanya dengan Islam, umat menjadi mulia dan terjaga. Wallahualam bissawab.
Oleh: Yuke Octavianty
Forum Literasi Muslimah Bogor
![]()
Views: 6









