Tinta Media Tahun 2025 akan segera hadir beberapa hari lagi. Gegap gempita penduduk dunia menyambutnya dengan berbagai harapan sekaligus kecemasan. Ya, kecemasan sepertinya mendominasi perasaan sebagian besar orang terutama penduduk negeri ini. Keadaan ekonomi yang semakin tak pasti, berbagai pungutan tambahan yang semakin mencekik juga keadaan sosial yang semakin buruk membayangi kehidupan penduduk negeri ini di tahun depan.
Meski demikian, kehidupan harus terus berjalan dan perubahan ke arah lebih baik harus terus diupayakan. Salah satu hal yang mungkin bisa menjadi harapan adalah kelahiran generasi baru yaitu generasi beta. Dikutip dari Mccrindle, Beta didefinisikan sebagai generasi yang lahir antara tahun 2025 hingga tahun 2039. Generasi beta adalah generasi yang lahir setelah generasi alpha dan merupakan generasi yang hidup di era keberlimpahan informasi juga kecerdasan buatan (Artificial Inteligent/AI). Beta merupakan anak-anak dari generasi sebelumnya yaitu Generasi milenial dan generasi z dan jumlah mereka mencapai 16 persen dari populasi dunia di tahun 2035.
Kehadiran generasi beta yang lahir di era keberlmpahan informasi memang sangat mungkin dijadikan sebagai harapan perubahan di masa yang akan datang. Mereka akan menjadi generasi pertama yang sepenuhnya terhubung dengan teknologi, mampu mengoperasikan kecerdasan buatan secara optimal, menjalani kehidupan yang serba otomatis, juga dunia yang semakin tak terbatas (borderless). Dengan kondisi lingkungan yang demikian memungkinkan bagi generasi beta tumbuh menjadi generasi paling cerdas diantara generasi yang lain. Mereka juga memungkinkan menjadi generasi yang paling penasaran dan kritis terhadap kondisi yang ada di sekitar mereka. Ke depan, kehadiran mereka diharapkan menjadi harapan atas ketidakpastian ekonomi, juga kondisi sosial ekonomi yang semakin tak menentu hari ini.
Sementara itu, dunia tempat mereka akan lahir hari ini sedang dilanda berbagai krisis. Setidaknya bisa disaksikan pada apa yang terjadi di negeri ini. Pertama: di bidang pendidikan, fenomena gonta ganti kurikulum nyatanya tak mampu melahirkan generasi yang terus membaik dari hari ke hari. Sebaliknya kondisi generasi tampak semakin memburuk. Kasus perundungan, krisis mental hingga bunuh diri akhir-akhir ini justru menjadi warna kelam dunia pendididkan. Belum lagi kecakapan dasar sekedar kemampuan baca tulis yang juga menjadi PR meskipun mereka sudah memasuki jenjang sekolah menengah atas. Akhirnya, generasi tumbuh menjadi generasi sampah yang membebani masyarakat.
Penguasaan mereka terhadap teknologi justru menjadikan mereka banyak sekali melakukan kecurangan dalam dunia pendidikan dengan memanfaatkan kecerdasan buatan hingga kecerdasan hakiki mereka semakin menurun.
Kedua: di bidang ekonomi, tahun-tahun belakangan ini ketidakpastian ekonomi semakin menjadi-jadi. Kesulitan generasi mencari pekerjaan, biaya hidup yang semakin menjulang tinggi hingga pungutan negara yang terus meninggi semakin menjadi beban berat bagi rakyat. Generasi z setidaknya sudah menjadi korban nyata dari keadaan ekonomi ini. Di tahum 2024 dikabarkan oleh BPS (Badan Pusat Statistik) 10 juta generasi z menjadi pengangguran. Angka ini, bisa jadi masih jauh lebih kecil dengan fakta di lapang.
Ketiga: di bidang Politik, pergantian pemimpin dari satu orang ke yang lainnya nyata-nyata tak membawa perubahan baik yang signifikan. Negeri ini masih saja dirundung kemiskinan, dan jauh dari kata sejahtera. Penguasa yang ada, justru sibuk dengan oligarki dan bagi-bagi kekuasaan kepada golongannya tanpa sedikitpun memperhatikan nasib rakyatnya. Secara global, keadaan dunia pun sama. Elit global penguasa yang menguasai sebagian besar kekayaan penduduk dunia, masih betah berkuasa dan menyisakan kesengsaraan tak berujung bagi mayoritas warga dunia.
Akhirnya, berbagai potensi baik yang dimiliki oleh generasi beta justru akan menjadi tambahan beban jika keadaan peradaban tempat mereka hidup justru rusak. Karena peradaban justru menjadi faktor paling dominan dari baik atau buruknya generasi. Sehingga menjadi sebuah keharusan bagi generasi hari ini untuk mempersiapkan lingkungan hidup terbaik bagi mereka.
Pertanyaan selanjutnya, peradaban apa yang mampu mengoptimalkan ekstraksi potensi baik generasi mendatang? Tentu kita tak bisa berharap pada peradaban sekuler kapitalis hari ini yang secara nyata justru membawa generasi semakin masuk kedalam jurang kerusakan. Keadaan generasi di Amerika sebagai pioner penerapan kapitalisme menjadi contoh nyata. Laporan terbaru oleh Trust for America’s Health dan Well Being Trust, menunjukkan peningkatan sebesar 108 persen kematian generasi muda usia 18-34 tahun karena obat-obatan terlarang, belum lagi kasus kekerasan dan kesehatan mental yang semakin mengerikan. Tak jauh beda dari Amerika, negara-negara di Eropa sebagai kiblat peradaban maju dunia juga menghadapi masalah serupa.
Alternatif peradaban baru yang harusnya menjadi solusi atas keadaan hari ini sejatinya sudah ada dan pernah diterapkan. Peradaban tersebut adalah peradaban Islam. Islam yang diturunkan bukan hanya sekedar sebagai agama ritual namun juga memberikan konsep sistem kehidupan sangat layak dijadikan solusi ditengah krisis peradaban hari ini. Sejak zaman Nabi Muhammad SAW, sistem pemerintahan Islam melahirkan peradaban baru yang jauh berbeda dengan peradaban sebelumnya. Sistem kehidupan ini diterapkan berlandaskan wahyu dan bukan berdasarkan akal dan kepentingan manusia seperti sistem hari ini.
Cahaya peradaban Islam kemudian berlanjut saat kepemimpinan Islam digantikan oleh para pengganti (khalifah) Rasulullah di abad-abad berikutnya dalam sistem pemerintahan khilafah hingga menyinari hampir 2/3 dunia dan menguasai benua Eropa, Afrika hingga Asia. Pengembangan wilayah Islam yang didasarkan pada misi penyebaran Islam sangat jauh dari konsep penjajahan hari ini hingga kehadiran Islam di setiap negeri justru menjadi penyelamatan manusia dari kemiskinan menuju kesejahteraan.
Dalam bidang pendidikan, Islam mampu melahirkan model pendidikan gemilang yang menjadi tempat lahirnya berbagai universitas berkelas dunia dan menginspirasi lahirnya kampus-kampus di Eropa. Output yang dilahirkanpun tak diragukan, para ilmuan dengan penguasaan lebih dari satu disiplin ilmu (triple helix) membanjiri sejarah Islam seperti Ibnu Sina, Al Farabi, Maryam Al Asturlabi, dan masih banyak lagi.
Saatnya generasi hari ini berjuang untuk melahirkan peradaban terbaik untuk generasi terbaik yang akan lahir hingga perbagai kerusakan tuntas diselesaikan di masa ini. Peradaban rusak tak boleh diwariskan. Sebaiknya, generasi beta yang lahir tahun depan berhak mendapatkan tempat hidup terbaik dalam sistem Islam.
Wallahu a’lam bis showab.
Oleh: Nurul Maulidiyah
Aktivis Islam dan Pendidik Generasi
![]()
Views: 5





