Tinta Media – Ramadan, bulan agung, sebentar lagi menyapa. Di dalamnya banyak keistimewaan. Selama satu bulan, Allah membukakan pintu rahmat, ampunan, dan pembebasan manusia dari api neraka. Aroma wangi kebaikan menyeruak, sementara kemaksiatan akan menemui kesempitan.
Di antara keistimewaan lainnya adalah diturunkannya Al-Qur’an sebagai petunjuk hidup. Di dalamnya terdapat malam Lailatulqadar, satu malam yang kebaikannya setara dengan seribu bulan. Sungguh sangat istimewa bulan Ramadan dan memuliakan orang yang menyambutnya dengan kerinduan.
Di tengah kebahagiaan menyambut tamu mulia, terselip kegetiran dan kesedihan. Islam hanya diambil sebagian dan yang lain diabaikan. Syariat puasa dinantikan, sementara syariat yang terkait ekonomi, pendidikan, politik pemerintahan, keamanan, dan pergaulan masyarakat ditinggalkan.
Seharusnya kita takut akan ancaman Allah bagi orang yang bersikap mengambil jalan tengah, yang ini mau dan yang lain tidak. Allah Swt. berfirman dalam Al-Qur’an Surat An-Nisa ayat 150–151:
“Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan bermaksud membeda-bedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya, dengan mengatakan, ‘Kami beriman kepada sebagian dan kami mengingkari sebagian (yang lain)’, serta bermaksud mengambil jalan tengah (iman atau kafir). Merekalah orang-orang kafir yang sebenarnya. Kami telah menyediakan untuk orang-orang kafir itu azab yang menghinakan.”
Sebagai orang yang beriman, kita pasti ingin menerapkan syariat-Nya secara kafah dalam setiap aspek kehidupan. Penerapan Islam secara menyeluruh adalah tuntutan iman yang akan berbuah keberkahan.
Hari ini, musibah kerap menghampiri, seperti banjir bandang dan tanah longsor. Semua akibat kesalahan kebijakan pemimpin yang lebih berpihak kepada oligarki. Kelapa sawit lebih disayangi, nyawa rakyat menjadi taruhannya.
Berita kriminal tiada henti, seperti pembunuhan, narkoba, tawuran, aborsi, dan kemiskinan, adalah akibat mereka meninggalkan syariat dalam mengatur kehidupan. Hawa nafsu mendominasi. Setiap muncul masalah, diluapkan dengan emosi yang menyakiti.
Sebelum memasuki Ramadan, seharusnya kita introspeksi diri. Jangan jadikan Ramadan hanya ibadah rutinitas tanpa bekas. Bukankah perintah puasa agar kita menjadi hamba yang bertakwa? Jangan sampai kehadiran bulan agung tidak menjadikan kita hamba yang beruntung untuk mendapatkan kemuliaannya.
Persiapkan kedatangannya dengan niat untuk hijrah menuju syariat-Nya secara kafah. Jangan lupa senantiasa berada pada komunitas yang mengajak pada ketaatan. Yang lebih penting, persiapan ilmu agar Ramadan lebih bermakna.
Ingat, kehidupan yang sementara harus dimaksimalkan dalam menjalankan ketaatan. Usia adalah rahasia. Hidup sekali, jangan sampai merugi. Akhirat menanti dengan dua tempat: surga bagi pelaku ketaatan dan azab neraka bagi pendurhaka.
Semua adalah pilihan, bukan paksaan. Allah memberikan akal agar manusia bisa mengambil kebaikan dan meninggalkan yang dilarang. Meskipun saat ini hidup dalam kesempitan, Allah akan memudahkan bagi yang mengharapkan rahmat-Nya. Wallahualam bissawab.
Oleh: Umi Hanifah
Sahabat Tinta Media
![]()
Views: 38





