Tinta Media – Pelepasan jilbab terhadap anak Paskib terlihat ketika Pengukuhan di IKN. Ketua BPIP, Yudian Wahyudi membantah adanya pemaksaan, beliau berargumen bahwasanya setiap anggota Paskib harus menaati peraturan yang
berlaku. Terkait atribut jilbab tertuang dalam peraturan terbaru yang sudah di
tanda tangani oleh masing-masing anggota Paskib. Berarti atas kesadaran penuh
mereka melepaskan jilbab. (Temponasional, 13/08/24)
Argumen-argumen terus digaungkan usaha membela diri. Ironis,
jejak digital beliau mengatakan bahwa agama musuh terbesar Pancasila. Islam di
klaim bertentangan dengan konsep Pancasila sebagai dasar aturan kehidupan
manusia yang beragam, seperti Indonesia. Orientasi beliau, Islam terlalu ekstrem
menjadi manuver politik, meskipun mayoritas Muslim namun tetap menentang Bhinneka
Tunggal Ika. (Detiknews, 12/02/20)
Hal ini tuai kecaman dan kritik dari berbagai pihak, banyak
pihak beranggapan bahwa hal tersebut tidak menunjukkan identitas dari
nilai-nilai Pancasila itu sendiri. Ekspresi yang tertuang justru menyelisihi
sila pertama. Meskipun Yudian menyatakan ini merupakan ikhtiar uniform dalam
rangka menjaga kebhinekaan dengan kesatuan.
Berujung menimbulkan paradigma menyesatkan dan multitafsir.
Pertama, esensi dari Bhineka Tunggal Ika menjadi bercorak negatif, kedua diskriminasi terhadap agama Islam terlihat
jelas. Ketiga, terjadi pelanggaran HAM terhadap perempuan berjilbab. Keempat,
kebebasan beragama tidak terealisasi dalam Pancasila.
Sejatinya mereka melupakan sejarah. Bahwasanya dalam
kemerdekaan Indonesia tidak terlepas dari pejuang mayoritas Muslim, Kyai Hasyim
Ashari (Pendiri NU), Muhammadiyah, Masyumi, Syarikat Islam, para santri, bahkan
pendiri NKRI seorang Muslim. Sehingga mustahil para pejuang, berjuang dengan
memusuhi agama-Nya. Sejatinya, Islam dijadikan spririt mereka, dicontohkan bung
Tomo dengan pekiknya takbir menyulutkan semangat Jihad fisabilillah untuk
merdeka.
Jika ditelisik lebih mendalam, ibunda Fatimah yang terkenal
dengan Fatmawati, seorang wanita Muslim yang menjahit bendera pusaka sang saka
merah putih sebagai simbolik dalam paskibraka juga mengenakan jilbab. Sekarang
sudah 79 tahun merdeka namun kebebasan mengekspresikan identitas agama kian
terbatas.
Merdeka dari perang fisik namun pemikiran terjajah!
Berimpack hilangnya kepercayaan publik terhadap negara. Jika
BPIP adalah wadah yang seharusnya paham Pancasila, kenapa tindakannya
berseberangan? Pada siapa publik menyandarkan harapan dan rasa hormatnya, jika
negara berkhianat?
Kisah Aidit perusak negara berkedok Pancasila terulang
kembali, dengan opini yang sama. Agama musuh terbesar Pancasila. Berangkat dari
13 Agustus 2024, kita harus lebih aware lagi adanya agenda Islam moderat itu
nyata. Berkedok nasionalisme memaksa hak manusia untuk memiliki rasa toleransi
tinggi yang sejatinya menghianati Sang Pencipta.
Menurut Yudian menuju kesatuan membutuhkan pelicin dengan
pelumas sekularisasi. Barometer seluruh perkara yang menyangkut kehidupan tidak
disandarkan pada agama. Artinya masyarakat berkembang menuju maju diberi
kebebasan mengatur kehidupan masing-masing, namun menyangkut persoalan kebutuhan
banyak orang harus terikat dengan aturan negara dengan wadah konstitusi.
Carut-marutnya negeri ini karena eksisnya
pemikiran-pemikiran liberal meracuni generasi bangsa. Adanya sekulerisasi
justru menancapkan paradigma rancu dan sesat. Dengan tidak melibatkan peran
Sang Khaliq di dalam aturan kehidupan.
Alhasil sekedar memaknai jilbab saja multitafsir. Ironis
ketika dianggap tidak idealis dengan Bhineka Tunggal Ika. Memalingkan makna
sesungguhnya terhadap makna lain, Indonesia memang beragam akan budaya, ras,
kesukuan, dan agama. Beragam namun satu, bukan berarti mayoritas dipaksa
minoritas. Beragam di sini esensinya terdiri dari kemajemukan tidak ada
korelasi dengan menyeragamkan anak paskib tanpa jilbab.
Harus dipahami dengan saksama bahwa akar problem bersumber
dari negara yang mengadopsi sekularisasi sebagai barometer pembuat aturan.
Seharusnya kita memahami bahwasanya sifat dari akal itu terbatas. Ketika
dipaksa untuk membuat aturan pasti hasilnya amburadul, membuat gaduh, bahkan
menimbulkan masalah berantai.
Ketika kita move on dengan sistem toguth tentunya continue
dengan seperangkat aturan yang datangnya memang dari Sang Khaliq, yaitu sistem
politik Islam. Tentunya akan melahirkan pemikiran cemerlang, dan memiliki
kerangka berpikir utuh dan jelas.
Tidak mudah terprovokasi, tidak mudah terpecah belah, dan
tidak mudah berkhianat. Karena dalam Islam jelas memiliki sistem pendidikan
dengan kurikulum Islam yang akan melahirkan generasi dengan bertakwa dan
berbudi luhur.
Setiap aktivitasnya mencerminkan agama masing-masing.
Kemajemukan tidak menjadi kendala dan penghalang untuk bersatu dalam wadah
Islam. Kenapa? Sudah dicontohkan dalam sejarah kegemilangan Islam, ketika Islam
hampir 14 abad menguasai 2/3 benua dengan mengayomi agama nasrani, yahudi, dan
Islam, yang notabene majemuk bukan hanya terdiri dari Islam semata. Sejatinya
Islam agama sekaligus mabda yang mengatur seluruh alam, manusia, dan kehidupan.
Wallahuβalam Bisowab.
Oleh: Novita Ratnasari, S. Ak., Penulis Ideologis, Kontributor Tinta Media
![]()
Views: 4





