Tinta Media – Kekacauan terjadi menggerogoti stabilitas pangan dunia.
Bukan hanya satu wilayah, krisis pangan merembet hingga ke belahan dunia
lainnya. Kelaparan global pun tak terelakkan. Jutaan manusia mengalami
kelaparan parah, hingga kekurangan gizi melanda berbagai wilayah di belahan
dunia. Lantas, apa penyebab utama terjadinya kelaparan akut ini, dan solusi apa
yang sebenarnya dibutuhkan untuk memutus rantai permasalahan?
Dikutip dari cnbcindonesia , Organisasi Pangan Dunia atau
FAO yang berada di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengungkapkan
masih banyak kelaparan akut yang di alami oleh sedikitnya 59 negara atau
wilayah, dengan jumlah 1 dari 5 orang di negara itu, mengalami kelaparan akibat
krisis pangan akut. Jumlah orang kelaparan pada 2023 meningkat sebanyak 24 juta
orang dari tahun sebelumnya.
Upaya mendesak pimpinan negara-negara dunia untuk mengambil
langkah pendekatan transformatif yang menyatukan tindakan perdamaian dunia,
pencegahan perang, dan pembangunan ketahanan pangan yang dilakukan oleh Global
Network Against Food Crises, untuk mengatasi masalah ini menjadi opsi awal dan
dianggap menjadi solusi komprehensif, namun mungkinkah akan terlaksana sesuai
dengan yang diharapkan?
Menelisik dari penerapan sistem tata kelola ekonomi ala
kapitalisme yang saat ini masih eksis digunakan oleh hampir keseluruhan negara
di dunia, solusi demikian tidak akan mencapai puncak penyelesaian dari masalah
yang dihadapi saat ini. bukan tanpa sebab, melainkan semenjak munculnya sistem
kapitalis sebagai dasar tata kelola negara, mekanisme yang dijalankan tidak
menjamin kesejahteraan bagi masyarakatnya. Melainkan hanya memberikan
keuntungan pada kalangan tertentu.
Sebaliknya, penerapan
sistem kapitalis menjadi akar munculnya permasalahan cabang yang menjadi faktor
terjadinya krisis pangan dan juga kelaparan akut. Akibat tata kelola sistem
ini, permasalahan cabang seperti kelangkaan lapangan pekerjaan, akibat berbagai
lapangan pekerjaan lebih memprioritaskan para pekerja asing, atau para penguasa
yang telah dipersiapkan sebelumnya oleh pemilik perusahaan. Selain itu,
rendahnya jumlah upah yang diberikan kepada para pekerja menjadi faktor
kemiskinan, yang berujung pada ketidakmampuan rakyat memenuhi kebutuhan
pokoknya. Sistem ekonomi kapitalis hanya akan memberikan keuntungan terbesar
kepada para oligarki, dan berlaku zalim terhadap rakyat.
Dari beberapa permasalahan tersebut, rakyat seolah diminta
untuk memenuhi kebutuhan hidupnya secara mandiri, berjuang untuk bertahan hidup
sementara hak haknya direbut paksa oleh para oligarki. Masyarakat kehilangan
pelindung utama, negara yang harusnya menjadi perisai seakan berbalik menjajah
lewat penguasaan atas hak dan kewajiban yang seharusnya didapatkan oleh rakyat.
Hal ini salah dalam pandangan Islam. Islam memosisikan
negara benar-benar sebagai pelindung utama dan tempat pengaduan atas kesusahan
yang dialami oleh masyarakat, sistem ekonomi yang berjalan sesai dengan syariat
Islam menjaga hak dan kewajiban masyarakat. Memastikan kesejahteraan dirasakan
oleh seluruh warga negaranya.
Kesejahteraan masyarakat diraih melalui pelayanan pemerintah
dengan memberikan lapangan pekerjaan yang terjamin bagi setiap warga negara.
Membiayai hidup orang yang tidak memiliki harta dan pekerjaan, memotivasi untuk
mampu produktif dengan memfasilitasi kebutuhannya. Hak dan kewajiban pekerja, berkedudukan sama
tanpa ada pembeda, perihal upah, disesuaikan dengan standar kebiasaan
masyarakat, serta tetap berpatokan pada hukum syara’. Ini untuk memastikan
setiap pekerja mendapatkan upah sesuai dengan apa yang memang menjadi haknya
secara utuh. Sehingga, setiap masyarakat mampu memenuhi kebutuhan hidup, tetap produktif,
dan terfasilitasi segala yang dibutuhkan.
Penerapan sistem ekonomi Islam menjadi solusi konkret atas
permasalahan yang saat ini dilanda dunia. Namun, tidak mungkin sistem Islam
hadir di tengah-tengah sistem kufur seperti kapitalisme. Sistem ekonomi Islam
hanya mampu dijalankan secara total oleh negara yang di dalamnya diterapkan
hukum Islam. Masyarakat dunia saat ini menderita dan kehilangan perisai untuk
dijadikan tumpuan. Membiarkan umat berjuang sendiri di tengah kesengsaraan adalah bentuk yang nyata. Memutuskan rantai kesengsaraan ini hanya
mampu dilakukan oleh daulah khilafah yang di dalamnya berlaku penerapan hukum
Allah, pencipta sekaligus pengatur terbaik seluruh ciptaannya.
Wallahualam bishowaab.
Oleh : Olga Febrina, Mahasiswi, Pegiat Literasi dan Aktivis Dakwah
.
![]()
Views: 13






