Tinta Media – Krisis di Gaza hari ini kian memprihatinkan. Kelaparan ekstrem yang terjadi sudah pada tingkat mengkhawatirkan. Tak sulit bagi kita untuk menemukan info terupdate kondisi penduduk di Gaza. Banyak bayi dan balita dengan kulit sebagai pembalut tulang yang menonjol akibat kekurangan asupan gizi yang baik.
Pasalnya, ibu mereka tak lagi mampu memberi ASI untuk anaknya disebabkan mereka pun kekurangan asupan nutrisi. Hal serupa terjadi kepada orang lanjut usia yang juga kurus kering kekurangan gizi. Kelaparan sistemis ini juga mengakibatkan meningkatnya angka korban kematian karena kelaparan. Laporan terbaru menyebutkan, kelaparan akibat pembatasan bantuan Israel telah menewaskan sekitar 217 orang, termasuk 100 anak-anak. (Tempo.co, 11/08/2025)
Bencana kelaparan ini terjadi tidak lain karena rencana okupasi menyeluruh (full occupation) oleh Zionis Israel. Setelah berbagai upaya dari Zionis, seperti genosida, pengeboman, penembakan, penculikan, dsb, kini mereka juga membantai rakyat Gaza dengan menciptakan kelaparan massal sistematis.
Sungguh licik dan kejam! Dengan sengaja mereka memblokade seluruh bantuan logistik yang dikirim ke Gaza. Blokade ini menyebabkan pasokan bahan pangan, obat-obatan, dan kebutuhan hidup lainnya tertahan di luar Gaza.
Maka, tidak salah jika bencana ini dikatakan tersistem karena direncanakan dan teratur. Pada awal Juli lalu, kepada media Times of Israel, Menteri Keamanan Nasional sayap kanan, Itamar Ben Gvir, mengungkapkan bahwa tidak ada kelaparan nyata di Gaza. Mereka sudah mengembalikan para sandera ke rumah dan dia mendukung untuk membuat Hamas kelaparan di Gaza.
Menteri Warisan Budaya Israel, Amichai Eliyahu, dengan tegas mendukung bencana ini. Menurutnya, Israel tidak perlu mempedulikan kelaparan di Gaza dan memberi makan musuhnya. (news.republika.co.id, 26/07/2025)
Lucunya, Perdana Menteri Zionis Israel, Benjamin Netanyahu, malah ikut serta membantah semua kabar tragedi kelaparan ini. Bahkan, dia tak menampik pendapat-pendapat para menteri di atas. Sungguh, makar yang sangat jelas dan terang benderang!
Kekejaman Luar Biasa
Ini adalah kekejaman yang luar biasa dan belum pernah terjadi. Bencana ini terjadi akibat campur tangan Netanyahu. Ironisnya, dia dan pejabat-pejabat Israel lain justru menuduh Hamas teroris dan sebagai pelaku yang telah menimbun pasokan makanan dan menyerang warga sipil. Padahal, bukti-bukti tampak jelas, seperti video-video yang tersebar secara umum. Dari sini terlihat tindakan para tentara Israel yang justru berlaku durjana.
Setali tiga uang dengan sikap Israel, para pemimpin Arab dan Amerika juga seakan mendukung keberlangsungan bencana ini. Para pemimpin Arab malah menutup mata saat kejahatan kemanusiaan yang dilakukan Israel terjadi. Mesir misalnya, dengan berbagai alasan mengatakan bahwa mereka harus menutup pintu perlintasan Rafah. Lalu, Amerika dan PBB yang nyata-nyata memperlihatkan keberpihakannya kepada Israel.
Para pemimpin negeri Muslim justru mendukung Zionis Israel. Mereka juga diam atas kelaparan yang terjadi di Gaza. Lantas, bagaimana solusi penghentian seluruh kejahatan-kejahatan berat di Gaza?
Nasionalisme Sumber Bencana
Keberadaan sekat-sekat negara ditambah rasa nasionalisme membuat penghalang besar bagi kaum muslimin untuk menolong rakyat Gaza. Namun, benteng tersebut tidak berarti tak bisa dihancurkan dan ditembus.
Dalam satu komando di bawah Khilafah, kaum muslimin bisa mendapatkan kembali kemenangan gemilang. Dengan demikian, dunia Islam akan kembali digdaya. Seruan jihad dari khalifah untuk membebaskan Gaza tidak hanya melalui bantuan logistik, tetapi jihad dengan mengerahkan tentara-tentara Muslim.
Saat ini, umat Islam harus turut berjuang dan berdakwah kepada seluruh umat agar bisa bersatu di bawah naungan Khilafah. Membangkitkan kesadaran penuh seluruh umat Muslim atas kewajibannya membela saudara sesama Muslim, serta memohon pertolongan dan keridaan Allah Swt. Wallahualam bissawab.
Oleh: Bunda Annisa
Sahabat Tinta Media
Views: 32
















