Semarak Forum Ukhuwah Tokoh dalam Tadzkiroh Maulid Nabi

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Semarak forum khusus para tokoh terasa sejak lantunan lagu-lagu diiringi alat musik rebana terdengar indah dan menyejukkan hati ketika pintu ruang Crown Lantai 4 Hotel Royal Jember dibuka. Satu demi satu tokoh Muslimah dari berbagai wilayah Jember memasuki ruangan hingga memenuhi semua kursi yang disediakan panitia Forum Ukhuwah Tokoh. Tidak kurang dari 100 tokoh Muslimah (mubalighah, pemimpin pondok pesantren, guru TPQ, guru sekolah, dan sebagainya) hadir pada acara bertema Tadzkiroh Maulid Nabi: “Meneladani Kepemimpinan Nabi Muhammad SAW,” hari Ahad (29/9/2024).

Ketika semua kursi ruangan telah penuh, delapan remaja putri berjilbab hitam pemain hadrah segera berdiri diikuti semua peserta untuk bersholawat bersama. Suasana begitu hikmat, menggambarkan kerinduan setiap peserta ketika bersholawat. Beberapa orang menunduk menahan tangis kerinduan terhadap Nabi Muhammad.

Selesai bersholawat, peserta duduk kembali dan Ustazah Azizah mengambil perannya sebagai pembawa acara dengan bernarasi: “Tidak ada manusia yang dalam dirinya terkumpul kesempurnaan kecuali ada pada diri Nabi Muhammad nan mulia. Sosok teladan pemimpin yang paripurna, pemimpin umat Islam yang mencintai dan dicintai oleh umatnya. Sebagaimana Sabda Rasulullah SAW: ”Sebaik-baiknya pemimpin adalah mereka yang kamu cintai dan mencintai kamu, kamu berdoa untuk mereka dan mereka berdoa untuk kamu. Seburuk-buruk pemimpin adalah mereka yang kamu benci dan mereka membenci kamu, kamu melaknati mereka dan mereka melaknati kamu” (HR Muslim).

“Nabi Muhammad SAW adalah teladan ideal dalam seluruh aspek kehidupan. Di antara yang sangat penting untuk diteladani secara sungguh-sungguh adalah kepemimpinannya. Dari konteks urusan rumah tangga hingga tatanan negara. Sepakat ibu-ibu?” Semua peserta menjawab sepakat dengan kompak.

Pembawa acara melanjutkan narasinya. “Namun, untuk meneladani Rasulullah secara paripurna, begitu banyak hambatan dan tantangan. Kondisi kaum Muslimin saat ini sangat jauh dari pemahaman Islam. Berada dalam pusaran problematika, baik generasi, keluarga, maupun para pemimpinnya.”

Ia pun memaparkan beberapa problematika yang terjadi di Jember, di antaranya adalah jumlah perceraian yang tinggi, dispensasi nikah yang meningkat dan sebagian besar karena hamil dulu, peredaran narkoba yang menduduki peringkat pertama di Jawa Timur.

“Belum lagi terkait dengan kasus pemimpin kita yang masih diliputi berbagai macam problem, contohnya korupsi, gratifikasi, penyalahgunaan wewenang dan lain sebagainya. Lalu bagaimana seharusnya sosok pemimpin yang dimiliki oleh kaum Muslimin? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, saya akan menghadirkan dua narasumber yaitu Ustazah Iffah dan Ustazah Endah.”
 
Kedua ustazah tersebut berjalan bersama menuju panggung yang telah disediakan tiga sofa berwarna abu-abu. Kehadiran kedua narasumber disambut dengan wajah berseri sebagian besar peserta yang sudah mengetahui ketokohannya. Ustazah Iffah yang dikenal sebagai mubalighah dengan pembawaan humoris, santai tapi serius selalu bisa mencairkan suasana. Ia pun menjadi pembicara pertama dan langsung menjawab permintaan pembawa acara untuk menggambarkan sosok pemimpin dalam Islam.

“Kalau di dalam Islam itu, pemimpin ibarat sopir. Kalau diibaratkan sebuah kendaraan, nakhodanya itu yang akan menentukan ke mana arah kapal ini akan berlabuh. Jadi, keselamatan penumpangnya tergantung pada pemimpinnya. Pemimpin dalam Islam tidak hanya menjadi sosok pemimpin tertinggi, tetapi tanggung jawab di hadapan Allah itu juga luar biasa,” jelasnya menggambarkan sosok pemimpin dalam Islam secara singkat dan akan dipaparkan lebih lanjut.

“Ibu-Ibu siap untuk sedikit mendengarkan paparan Ustazah Iffah?” tanya Ustazah Azizah.

“Siap!” jawab peserta penuh semangat.

Ustazah Iffah memulai penjelasannya dengan menanyakan kabar peserta. “Bagaimana kabarnya hari ini?” Peserta pun menjawab dengan jawaban yang berbeda-beda. Suasana langsung pecah dengan tawa karena mendengar jawaban yang tidak kompak sehingga tidak jelas.

“Ah, enggak kompak! Saya ulangi ya? Bagaimana kabarnya hari ini?” tanya Ustazah Iffah mengulangi pertanyaannya.

“Alhamdulillah, luar biasa, Allahu Akbar!” jawab peserta dengan kompak meski tidak dikomando.

“Koyok arek TK!” (Seperti anak TK, red.) seloroh Ustazah Iffah sambil tersenyum diikuti tawa para peserta.
 
Ustazah Iffah kemudian menyampaikan bagaimana kepemimpinan Nabi Muhammad didahului dengan cinta. Menurutnya, cinta adalah ittiba’ sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an surah Ali Imron ayat 31 yang artinya: Katakanlah (Muhammad), “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.”

“Jadi, bukti cinta kita itu adalah ittiba’. Tidak dikatakan mencintai kalau tidak mengikuti. Cinta tanpa mengikuti adalah hampa, mengikuti tanpa cinta adalah dusta. Cieee…,” paparnya dengan sedikit menyisipkan humor dan disambut riuh tawa peserta.

Kemudian ia menceritakan contoh kepemimpinan Khalifah Ali bin Abi Tholib. Dikisahkan ada seorang pengemis di depan Masjid Nabawi yang memberikan roti kepada pengemis lain yang akan berbuka puasa. Pengemis yang diberi roti tersebut mengeluh bahwa itu adalah roti yang paling tidak enak yang pernah ia makan. Kemudian pengemis yang memberi roti menyarankan kepada pengemis tersebut untuk meminta makanan kepada Husain (putra Khalifah Ali) yang sering memberi makanan kepada masyarakat.

Pengemis itu kemudian datang ke Husain untuk meminta makanan. Setelah makan kenyang, ia izin untuk membungkus makanan untuk pengemis yang telah menyarankan dia datang ke Husain. Namun, Husain melarangnya dan memberitahu bahwa pengemis itu adalah ayahnya, Khalifah Ali bin Abi Tholib.

Kisah ini menggambarkan seorang pemimpin yang mau makan makanan paling tidak enak yang dimakan rakyatnya. Tentu ini berbeda dengan pemimpin saat ini yang menerapkan sistem demokrasi sehingga memisahkan agama dengan kehidupan.

Ia kemudian menjelaskan kepemimpinan sekarang. “Saat ini lahir politik dinasti, oligarki, dan berbagai macamnya itu karena kebobrokan demokrasi. Masih percaya dengan demokrasi?” tanyanya kepada peserta.

“Tidak,” jawab peserta lirih.

“Tidak? Kok loyo? Masih percaya dengan demokrasi?” tanya Ustazah Iffah lebih lantang karena yang menjawab hanya sedikit dan pelan.

“Tidak!” jawab semua peserta dengan tegas.

“Lebih memilih  demokrasi apa dawuh kanjeng Nabi?” tanyanya kemudian.

“Kanjeng Nabi…!” jawab semua peserta tegas dan penuh keyakinan.

“Baik, saya kunci ya? Karena waktu saya sudah habis,” ucap Ustazah Iffah sambil tersenyum diikuti tawa para peserta.

Tibalah pembicara kedua, Ustazah Endah Nabiha, seorang guru bahasa Inggris sekaligus guru agama Islam di salah satu SMK yang ada di Jember. Ia menjelaskan bahwa Nabi Muhammad adalah teladan terbaik dan pembawa rahmat sebagaimana telah Allah firmankan dalam Al-Qur’an. Kemudian Ustazah Endah mengajak seluruh peserta membaca QS. Al-Ahzab: 21 sebagaimana telah tampak di layar LCD.

لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِى رَسُولِ ٱللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُوا۟ ٱللَّهَ وَٱلْيَوْمَ ٱلْءَاخِرَ وَذَكَرَ ٱللَّهَ كَثِيرًا

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (QS al-Ahzab: 21).

“Jadi Rasulullah itu uswatun hasanah, suri teladan baik kehidupan keluarga sampai pemerintahan,” kata Ustazah Endah menjelaskan ayat tersebut.

Ia juga membacakan ayat lain:

وَمَآ اَرْسَلْنٰكَ اِلَّا رَحْمَةً لِّلْعٰلَمِيْنَ

Kami tidak mengutus engkau (Nabi Muhammad), kecuali sebagai rahmat bagi seluruh alam. (QS al-Anbiya’: 107)

Kemudian ia menjelaskan kepemimpinan setelah Rasulullah diakui oleh non muslim. Adalah Michael Hart yang menjadikan Nabi Muhammad SAW nomor 1 tokoh yang paling berpengaruh di dunia. Michael H. Hart, ilmuan berdarah Yahudi asal Amerika Serikat menulis dalam buku : The 100 : A Rangking of the Most  Influential People in History. “Muhammad satu-satunya orang dalam sejarah yang sangat sukses baik di tingkat agama maupun dunia.”

Setelah wafatnya Rasulullah, kepemimpinan Islam dilanjutkan dalam bentuk Khilafah. Itu artinya Kepemimpinan Islam (Khilafah) adalah warisan Rasulullah dan bagian dari syariah Islam.

Selanjutnya, ia membacakan dalil dalam QS. Al-Hasyr ayat 7:

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا ۚ

Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah, dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah.

Pada akhir pembahasan, disampaikan 3 kesimpulan.

“Pertama, jika seorang Muslim cinta dan kagum kepada Rasulullah Muhammad SAW tetapi tidak mengikuti apa yang dibawa Nabi Muhammad, berarti apa kita sama dengan Michael H. Hart?”

“Kedua, jika kita mengaku cinta kepada Rasul artinya harus meneladani semua perbuatan Rasulullah termasuk kepemimpinan (khilafah Islamiyah).”

“Sedangkan yang ketiga, sesibuk apa pun dan sesulit apa pun kewajiban menegakkan khilafah kita pasti akan dilakukan sebagaimana sahabat Rasulullah,” pungkasnya.

Sebelum acara diakhiri, Ustazah Azizah sebagai pembawa acara mengajak peserta larut pada sebuah tampilan puisi sebagai renungan bersama. Puisi yang menggugah kembali pikiran semua peserta. Membangun semangat untuk ikut memperjuangkan tegaknya kembali khilafah ala minhaj nubuwah. Tak sedikit peserta yang larut dalam setiap kalimat.

Kemudian semua peserta pulang meninggalkan tempat acara dengan penuh semangat.

Oleh: R. Raraswati
Peserta Pelatihan Feature News (FN)

Jember, 29 September 2024

Loading

Views: 29

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA