Tinta Media – Ulama sekaligus Mudir Ma’had Syaraful Haramain, KH Hafidz Abdurrahman, MA., menegaskan bahwa ittiba’ (mengikuti) Rasulullah Saw. Tidak boleh dilakukan secara pilih-pilih.
Hal itu ia sampaikan dalam event Maulid Nabi Muhammad 1447 H bertema Satu Risalah, Satu Umat, Satu Tujuan yang digelar secara daring melalui situs satuju.one, Sabtu (27/9/2025).
“Ittiba’ kepada Rasulullah itu tidak boleh dipilih-pilih. Jadi dipilih yang enak misalnya, itu tidak boleh. Karena Rasulullah Saw. Itu adalah teladan kita dalam seluruh aspek kehidupan kita,” ujarnya.
Mengutip firman Allah Swt. Surat al-Baqarah ayat 208, Kiai Hafidz lanjut menyampaikan, “Yaa ayyuhalladziina aamanuu udkhulu fissilmi kaaffah”, yang menurutnya bermakna Rasulullah Saw. adalah teladan bagi umat Islam secara menyeluruh di dalam segala aspek kehidupan.
“Wakaana khuluquhul qur’an (dan akhlaknya Nabi adalah Al-Qur’an). Nabi itu adalah Al-Qur’an berjalan,” tegasnya menambahkan.
Ia pun menekankan, ittiba’ kepada Nabi Muhammad Saw. Secara parsial atau sebagian merupakan sesuatu yang bertentangan dengan ajaran Islam.
“Kalau masih ada umatnya Nabi Muhammad yang ittiba’-nya milih-milih, misalnya hanya milih-milih manjangin jenggot, atau misalnya hanya milih-milih celananya cingkrang, itu masih milih-milih. Tetapi ketika bicara politik nggak mau, ketika bicara ekonomi, ketika bicara diplomasi atau yang lain tidak mau atau tidak pakai caranya Nabi, itu jelas tidak boleh. Karena Rasulullah itu adalah laqod kaana lakum fii Rasulillahi uswatun hasanah,” jelasnya.
Kiai Hafidz lantas mengingatkan firman Allah Swt. Surat al-Ahzab ayat 36 yang berbunyi, “Wa maa kaana limu’minin walaa mu’minatin idzaa qadhallahu wa rasuuluhu amran ay yakụna lahumul-khiyaratu min amrihim”.
“Artinya ketika Allah dan Rasul-Nya itu sudah menetapkan satu perkara, ya kita enggak bisa milih-milih. Nah di situlah makanya ittiba’ itu harus totalitas,” pungkasnya.[] Muhar
Views: 39










