Tinta Media – Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW bukan sekadar tradisi seremonial yang diwarnai lantunan shalawat, doa, dan ceramah agama. Lebih dari itu, Maulid adalah momentum spiritual dan intelektual bagi umat Islam untuk meneguhkan kembali makna besar kelahiran Rasulullah SAW. Di dalam peringatan inilah umat diingatkan pada tiga prinsip utama yang terkandung dalam semboyan “Satu Risalah, Satu Umat, Satu Tujuan.”
Satu Risalah: Risalah Islam sebagai Pedoman Hidup
Kelahiran Nabi Muhammad SAW membawa risalah terakhir yang bersifat universal, sempurna, dan berlaku sepanjang zaman. Risalah ini bukan hanya sekadar rangkaian aturan ibadah, tetapi juga mencakup panduan moral, sosial, politik, ekonomi, hingga hubungan antarbangsa. Al-Qur’an menegaskan:
“Dan tidaklah Kami mengutus engkau (Muhammad) melainkan sebagai rahmat bagi semesta alam” (TQS. Al-Anbiya: 107).
Dalam sebuah hadis juga menegaskan sifat risalah beliau:
Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia” (HR. al-Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad, HR. Ahmad).
Maulid, mengingatkan kita bahwa Rasulullah SAW bukan hanya tokoh sejarah, tetapi pembawa risalah yang mengarahkan umat menuju cahaya kebenaran. Satu Risalah berarti menjadikan Islam sebagai fondasi kehidupan, bukan sekadar simbol.
Satu Umat: Persaudaraan yang Tak Terbatas Sekat Kebangsaan
Nabi Muhammad SAW diutus untuk menyatukan manusia dalam satu ikatan iman. Saat beliau lahir, dunia Arab penuh dengan konflik antar-suku dan permusuhan. Melalui dakwah Islam, Rasulullah SAW berhasil melebur sekat-sekat itu menjadi ukhuwah Islamiyah. Rasulullah SAW bersabda:
“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling mencintai, menyayangi, dan mengasihi adalah seperti satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh ikut merasakan sakit dengan tidak bisa tidur dan demam.” (HR. Muslim)
Sejarah membuktikan hal ini ketika beliau mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar setelah hijrah ke Madinah. Orang-orang Anshar dengan ikhlas berbagi harta dan tempat tinggal dengan saudaranya dari Makkah. Peristiwa ini menjadi bukti nyata bahwa Satu Umat bukan hanya teori, melainkan telah dipraktikkan langsung oleh Rasulullah SAW.
Peringatan Maulid seharusnya menginspirasi kita untuk menghapus fanatisme golongan, mengurangi perpecahan, dan memperkuat persaudaraan umat Islam, sebagaimana dicontohkan Nabi.
Satu Tujuan: Meraih Keridhaan Allah dan Membangun Peradaban Islam
Tujuan Rasulullah SAW adalah membawa manusia dari kegelapan menuju cahaya iman, menegakkan Islam sebagai jalan hidup, serta membangun masyarakat yang adil. Hadis yang menjelaskan arah perjuangan beliau:
“Perumpamaanku dengan para nabi sebelumku adalah seperti seorang laki-laki yang membangun sebuah rumah. Rumah itu telah sempurna dan indah kecuali tempat untuk satu bata. Orang-orang pun mengelilinginya dan kagum, lalu mereka berkata, ‘Kalau saja bata ini diletakkan!’ Maka akulah bata itu, dan aku adalah penutup para nabi.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Tujuan besar ini juga tampak jelas dalam sejarah ketika Rasulullah SAW membangun Daulah Islam di Madinah. Daulah Islam di Madinah adalah wujud negara pertama umat Islam, dengan Piagam Madinah sebagai “undang-undang dasar” yang menjadi pedoman kehidupan bernegara di dalamnya. Piagam tersebut mengatur kehidupan masyarakat multikultural yang terdiri dari Muslim, Yahudi, dan suku-suku Arab. Dengan dasar wahyu, beliau menciptakan tatanan sosial yang adil dan harmonis.
Peringatan Maulid mengajak kita meneguhkan kembali Satu Tujuan: keridhaan Allah SWT, pembangunan peradaban Islam, dan keadilan bagi seluruh manusia.
Maulid sebagai Momentum Kebangkitan
Ketika dikaitkan dengan realitas umat Islam saat ini, semboyan “Satu Risalah, Satu Umat, Satu Tujuan” menjadi sangat relevan. Umat menghadapi tantangan besar berupa hegemoni budaya materialistik, ketidakadilan global, dan krisis moral di berbagai lini kehidupan. Dalam situasi ini, Maulid harus dimaknai sebagai panggilan untuk bangkit.
Pertama, bangkit dengan kembali kepada Satu Risalah yakni menghidupkan kembali ajaran Islam dalam seluruh aspek kehidupan.
Kedua, bangkit dengan meneguhkan Satu Umat yakni menumbuhkan solidaritas antar-Muslim, menolak perpecahan, dan memperjuangkan kepentingan bersama.
Ketiga, bangkit dengan memperjelas Satu Tujuan yakni mengarahkan seluruh potensi umat menuju ridha Allah, membangun masyarakat Islami, dan menegakkan keadilan.
Maulid Nabi Muhammad SAW adalah momen berharga untuk merenungi kembali pesan agung yang dibawa beliau. Dengan mengingat kelahiran Rasulullah SAW, kita sejatinya diajak untuk menyegarkan komitmen terhadap tiga pilar penting: Satu Risalah sebagai pedoman, Satu Umat sebagai persaudaraan, dan Satu Tujuan sebagai arah perjuangan.
Rasulullah SAW lahir untuk menyatukan manusia di bawah cahaya wahyu. Tugas kita sebagai umat beliau adalah melanjutkan misi itu dengan setia. Dengan meneladani akhlak beliau, meneguhkan ukhuwah, dan berjuang di jalan Allah, maka semboyan “Satu Risalah, Satu Umat, Satu Tujuan” tidak akan sekadar slogan, tetapi menjadi kenyataan hidup yang menggerakkan umat Islam di seluruh dunia untuk bangkit memimpin dunia dengan menerapkan Islam secara kaffah dalam bingkai daulah khilafah ala minhajin nubuwwah.[] Achmad Mu’it
Views: 243










