Tinta Media – Peristiwa yang paling buruk selama 2024 yang terjadi di Timur Tengah, menurut Magister Kajian Timur Tengah dan Islam, Iranti Mantasari adalah tertumpahnya darah kaum Muslimin oleh Penguasa yang zalim.
“Hemat saya peristiwa yang paling buruk selama tahun 2024 yang terjadi di Timur Tengah adalah tertumpahnya darah rakyat kaum Muslimin oleh penguasa yang zalim,” ungkapnya kepada Tinta Media dalam wawancara kaleidoskop 2024, Jumat (27/12/2024).
“Dari sini kita bisa melihat dua peristiwa yang paling signifikan yaitu yang terjadi di Gaza dan tentu saja yang baru-baru saja terjadi di Suriah,” sebutnya.
Ia mengungkapkan fakta bahwa di Gaza sendiri total korban hampir 50.000 dan itu masih terus berlangsung hingga hari ini.
Sementara di Suriah, ujarnya, ketika rezim Bashar Asad itu berhasil ditumbangkan, fakta tentang korban kaum muslimin yang kemudian dibantai dizalimi oleh rezim Bashar Asad itu sendiri itu tercatat sampai ratusan ribu.
“Subhanallah. Dari sini kita dapati bahwasanya memang penguasa yang zalim itu ternyata menjadi salah satu masalah yang sangat besar dalam kehidupan kaum Muslimin,” ungkapnya.
Menurutnya, ini disebabkan penguasa-penguasa tersebut tidak menerapkan syariat Islam.
Kalau di Gaza sendiri, ungkapnya, memang tidak ada pelindung masyarakat dari kaum Muslimin yang ada di Gaza sehingga darah mereka ditumpahkan ketika diperang, digenosida. Tidak ada yang mampu membela kaum Muslimin di sekitar Gaza di Palestina.
“Hanya mampu mengecam padahal mereka mempunyai kekuasaan, mereka memiliki power, mereka memiliki bargaining position atau posisi tawar yang bisa digunakan untuk melobi kekuatan-kekuatan dibalik serangan-serangan genosida yang dilakukan kepada masyarakat Gaza,” jelasnya.
Sementara di Suriah, sebutnya, setelah rezim Bashar Asad runtuh pun rakyat Suriah memilih untuk kembali kepada pola pemerintahan yang lama, pemerintahan yang lama sekuler Suriah selama ini.
“Tidak ada harapan perubahan yang lebih baik pada Gaza dan Suriah itu,” tegasnya.
Ia berharap ketika menyongsong 2025 nanti, harapannya konflik-konflik, peperangan, genosida yang dilancarkan kepada kaum Muslimin ini tidak terjadi lagi.
Karena kaum Muslimin, ucap Ustazah Iranti, memiliki pelindung institusi politik yang memang yang menjalankan syariat Islam menjalankan hukum-hukum Al-Qur’an, mendudukkan siapa kawan siapa lawan.
“Siapa yang harus diberikan (al-wala’) siapa yang diberikan loyalitas dan siapa yang diberikan disloyalitas (al-bara),” tambahnya.
Ketiadaan pelindung umat ungkapnya, siapa yang harus loyalitas dan disloyalitas itu.
”Itu yang membuat kita kebingungan untuk melaksanakan syariat karena hukum-hukum selain Islam masih hukum yang baik hukum yang layak di tengah-tengah kaum Muslimin,” ulasnya.
Menurutnya, ini tidak hanya berlaku di Gaza dan Suriah. “Secara umum tahun 2025 tentu sebagaimana yang telah dijanjikan Rasulullah apa bila kita melakukan syariat Allah, apabila kita melaksanakan hukum-hukum Allah tentu Allah akan meridhai, Allah memberkahi, Allah akan mengangkat derajat dan posisi kita menjadi khoiru ummah, menjadi umat yang terbaik yang memimpin di muka bumi. InsyaAllah,” pungkasnya.[] Muhammad Nur
![]()
Views: 11









